Blue Love

Blue Love
Makan malam



Lee pun kembali menghampiri Zuu mencolek bahunya.


" Hey. Mau tetap di Sini? Kenapa belum bersiap juga?? " tegurnya.


" Oh. Tu... Tunggu sebentar. "


Zuu pun bergegas pergi dan membenahi pakaiannya. Disaat Zuu sibuk, Lee mulai tertarik dengan teleponnya Zuu ia melihat ke telepon itu.


" Dia berkata tidak mempunyai telepon, lalu ini apa? Eh tapi, setahu-Ku dari awal Zuu pindah kemari, aku belum pernah juga dia memegang sebuah ponsel. Emm... Apakah wanita ini sudah memulai kerja paruh waktu-Nya? Mungkin saja. " gumamnya.


Selesai sudah Zuu menggendong tasnya.


" Ayo. Aku sudah selesai. " semangatnya.


" Letakkan itu kembali. Biar nanti pelayan yang membawa itu. Kita akan pergi keluar dulu. " ujarnya.


" Oh... Memangnya untuk apa kita keluar?? " tanyanya.


" Kita akan makan malam bersama. " tersenyum.


" Wah... Benarkah? Kalo begitu ayo. " semangatnya kembali.


Saat ingin pergi Zuu tersadar teleponnya.


" Ponsel-Ku. Apa ini? Faiz tadi menelpon-Ku. " tercengang bengang.


Lee memanggilnya.


" Hey! Ayo cepat. " teriaknya.


" Baiklah, aku datang. Akan Ku-telpon kembali nanti. " gumamnya.


Sampai di Tempat Makan, Zuu makan dengan baik begitu-Pun Lee.


" Ah... Makanannya sangat lezat, huh... Aku kesulitan untuk bernafas. " kepengapan.


" Haha... Ku-pikir kau akan mati dengan makanan sebanyak itu. " celanya.


" Diam kau. Rasanya aku ingin segera tidur. Apa boleh aku tidur disini Kak? " menguap.


Lee langsung menarik tangan Zuu dan membawanya pergi.


" Ayo, kita harus ke Tempat belanja sekarang. " ajaknya.


" Eh, kemana ini?? " tanya Zuu.


" Aku akan membeli sebuah pakaian untuk-Mu nanti. " sahutnya.


Zuu langsung melepas tarikannya Lee.


" Ah kenapa harus itu. Tidak-tidak, sebaiknya membeli sebuah cemilan saja, jangan pakaian. " komplain.


" Hey, memangnya setelah mandi nanti, kau akan menggunakan kemasan jajanan itu untuk menutupi tubuh-Mu hah?? " bentaknya.


" Eu... Euh... Tidak juga Kak " sahutnya.


" Maka dari itu ayo. " ajaknya.


Lee langsung membawanya ke Tempat berbelanja. Sampai-Nya disana.


" Pilihlah pakaian kita masing-masing. " ujarnya.


Mereka berdua-Pun berbelanja di berbagai Tempat, ditengah memilih Lee bertanya.


" Aku ini sangat aneh dengan-Mu Zuu. " keheranan.


" Maksudnya? " sahutnya.


" Kau ini selalu makan banyak tapi, kenapa tubuh-Mu tetap seperti itu?? " tercengang bengang.


" Memangnya, menurut-Mu tubuh ini harus seperti apa?? " tanyanya kembali.


" Dengar. Jika, tubuh manusia terlalu mengonsumsi makanan berlebihan, bukankah itu akan menimbulkan penyakit? " sahutnya.


Karena mendengar jawaban dari Lee, jelas sekali Zuu marah dan sigap melempar pakaian yang berada ditangannya itu.


" Kau mendoakan aku ini lumpuh, berpenyakitan begitu?? Bosan hidup kau ini rupanya!!. " lantangnya.


" Ti... Tidak bukan begitu..., " sigap menyelang.


Zuu menangkap Lee dan mengikatkan tubuhnya dengan pakaian disana. Lee meminta maaf.


" Tunggu Zuu, maksud-Ku bukan begitu. Aku minta maaf. Sungguh, Zuu lepaskan ini tolong " rintihannya.


" Setelah mati, baru aku akan melepaskan ikatan ini. " tegasnya.


Tengah sibuk mengikat Lee, kebisingan mereka ditegur oleh pekerja disana. Pekerja itupun sontak terkejut dengan perilaku mereka.


" Ya Ampun?!! Apa yang telah terjadi disini, hey kalian berdua! Ganti kerusakan ini mengerti!! " lantangnya.


" Eu... Kakak ini nanti yang akan menggantinya. " mengelak.


" Haha... Benar. " sahut Lee.


" Cepat lepaskan ini. " bisiknya.


" Haha... Baiklah " tertawa.


Setelah selesai memilih mereka pergi ke kasir untuk membayar semuanya begitu-Pun juga kerugian tadi. Kakak itupun bertanya.


" Wah beruntung sekali yah mempunyai Abang seperti dia, Adek pasti sangat senang. " belainya.


Mereka berdua saling tertawa dan menatap.


" Ahaha... Haha... Itu sangat lucu Kak. " sahutnya.


" Haha... Adek benar. Haha... " tertawa lebar.


" Haha... Terima kasih Kak. " tersenyum.


Zuu mencubit perut-Nya dengan keras sambil tertawa.


" Ahaha... Hahahau... Huhu... Hua... " rintihannya.


Mereka berdua keluar dari tempat itu. Zuu sigap melepas rangkulan-Nya.


" Lepaskan ini. " tegasnya.


" Kau ini, baru juga dirangkul begitu. Gimana jika, aku mencium-Mu. " celanya.


" Jika kau mencium-Ku, disitulah kau terakhir melihat wajah-Ku. " bentaknya.


" Maksud-Mu, kau akan pergi meninggalkan-Ku begitu? " tanyanya.


" Bukan aku!! Dasar tidak waras!! Tapi kau yang akan pergi musnah dari alam ini!! Uh... " dongkolnya.


" Uh... Jadi, jika aku mencium-Mu kau akan membunuh-Ku begitu? " kecewa.


Zuu menghela nafas dan hanya berdesah.


" Jika, memang seperti itu. Aku akan menerima-Nya. Itu akan menjadi cabutan nyawa yang manis, dan kau yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa yang dikirim khusus oleh Tuhan hanya untuk-Ku. Kalo begitu aku ingin mati sekarang saja Angel. " belainya.


Lee mendekati wajah Zuu dan termonyong-moyong. Sontak Zuu terkejut juga risih. Dan memukul wajah Lee dengan tangan-Nya.


" Ahhh... " teriak Zuu.


" Aw.... Wajah-Ku. " rintihannya.


" Dasar Lee tidak waras!! Aku hampir membunuh-Mu!! " lantangnya.


" Ini sakit Zuu, aku lebih baik mati merasakan sakit sekali, daripada dipukul seperti ini. " rentan hati.


Zuu langsung menarik kerah baju Lee.


" Aku akan menyabut nyawa-Mu secara perlahan, aku akan membuat-Mu menderita terlebih dahulu dan disitulah kematian-Mu akan tiba. Kau mengerti!! Menjadi seorang pembunuh transparan itu adalah yang terbaik haha... " konyolnya.


" Wah berkharisma. Ternyata dibalik kemanisan dan kecantikan-Mu itu, ada lumur hitam yang menyela di Dalam tubuh-Mu. " celanya.


" Diam kau. Sudahlah, aku ingin makan. Perut-Ku lapar karena ulah-Mu. " desahnya.


" Apa!! Hey tadi..., " terkejut.


Zuu menyelang.


" Aku tahu, jika tidak mau aku akan pergi sendiri. " sahutnya.


" Euh... Baiklah aku akan ikut. " sigapnya.


Mereka berdua pun pergi bersama dan makan kembali, ditengah makan Zuu berpamitan untuk pergi ke Toilet sejenak.


" Aku akan ke Kamar Mandi, tunggu disini. " ujarnya.


Lee menganggukkan kepala-Nya.


Zuu langsung menelpon Faiz.


" Halo. " panggilnya.


" Hai my. Ini kamu kan? " sahutnya.


" Euh... Iya, jadi ada apa? Kenapa kau menelpon? " tanyanya.


" Kenapa bertanya seperti itu, tentu saja aku ini rindu dengan-Mu. Mmm... My aku ingin mengajak-Mu untuk pergi malam ini. " ajaknya.


" Oh. Malam ini aku tidak bisa karena, suami-Ku mengajak aku jalan sekarang ini. " sahutnya.


" Jadi, maksud-Mu sekarang Kakak tua itu sedang bersama-Mu sekarang? " rentan hatinya.


" Benar. "


" Apa Bujang talang itu, belum mengetahui apapun?? " tanyanya.


" Euhm... Aku tidak tahu. " sahutnya.


Setelah lama telponan, Zuu kembali dan Lee bertanya.


" Apa besar?? kenapa lama? " tanyanya.


" Tidak. " gugup.


" Em... " mengangguk.


Zuu bertanya dengan mencelanya.


" Ternyata, kau ini kurang populer yah. Kenapa Kakak seperti ini? " celetuknya.


Sontak Lee terkejut.


" Apa maksud-Mu?? " terheran-heran.


" Handphone Kakak itu berguna atau tidak sih? Kenapa aku belum pernah melihat Kakak ini mengangkat telepon sekali saja. Haha... " celanya.


" Sudah. bertanya layaknya manusia yang normal saja. " celanya kembali.


" Hah!! Kau mengatakan aku ini konyol?? " lantangnya.


" Memang benar begitu. Dengar, ini pertama kalinya aku mendengar pertanyaan seperti itu, biasanya aku selalu mengobrol dengan orang yang normal, dan belum pernah sekali saja aku mendengar pertanyaan yang dikatakan oleh-Mu itu. " celanya.


" Uh... Aku hanya merasa heran saja, tadi pandangan-Ku teralih sejenak ke Orang itu yang sedang mengangkat telepon-Nya. Aku hanya terpikir bertanya seperti itu. " ujarnya.


" Aneh " celanya kembali.