Blue Love

Blue Love
Aku kebingungan, sungguh!



" Kenapa hah?? Apa sekarang kau sudah sadar?? Apa sekarang kau ingin menjambak rambut-Ku kembali seperti apa yang dilakukan Zuu dahulu?? " tanya Lee dengan tertawa pahit.


Zuu pun mendekati Lee dan menatap tajam mata-Nya, demikian Lee juga begitu.


" Ini..., " ujar Zuu dengan menyodorkan sekantung makanan ditangan-Nya.


" aku membeli-Nya untuk diberikan padamu. " ujar Zuu dengan pelan-pelan.


Sontak membuat Lee tertawa gila karena tingkah-Nya Zuu.


" Hahaha... Benarkah ini untukku?? Hahaha " tanya Lee dengan gelakak.


Sigap Lee pun langsung menerjang sekantung makanan itu dengan tangannya sehingga, jatuh ke lantai. Zuu pun terkejut juga merasa rentan hati dengan tindakan-Nya Lee baru saja. Zuu langsung menatap tajam.


" ada apa?? Kau marah? Jengkel? Atau apa hah!? Hahaha... " gelak Lee kembali.


" hey dengar Zuu!! Kau pikir aku ini kanak-kanak, ketika diberi sebuah bingkisan seperti itu langsung ceria, gembira?? Hahaha... Tolong beri tanda kutip untuk kalimat ini. Bagi-Ku, apapun hal pemberian dari-Mu adalah sampah!! Tidak ada gunanya!!! Tolong berhenti berpikir seperti itu Zuu, kau membuat dirimu sendiri gila. Ka*****!!! " cacat Lee kembali.


Zuu berdesah dan membersihkan bekas makanan yang dilempar oleh Lee tadi, dan pergi. Demikian Lee juga terus berusaha mengatur napas dan amarah-Nya.


" mungkin dengan sedikit istirahat aku bisa hidup kembali. Iya itu benar, aku harus tidur sekarang. " ujar Lee dengan menenangkan diri.


Zuu pergi ke ruang keluarga untuk tidur, tapi saat ingin tidur ia menggerutu sejenak karena rasa kekecewaan-Nya terhadap Lee.


" Dia itu sedang dalam keadaan mabuk atau bagaimana?? Apa yang membuat Lee begitu marah pada-Ku? Hanya karena candaan kecil?? Karena itukah?? Ini pertama kalinya aku melihat dia amat murka. Tunggu, apa karena aku datang terlambat?? Itu konyol, setiap hari bahkan aku dengan-Nya memang selalu pulang terlambat. Lalu, apa alasan-Nya ia berkata kasar begitu??! Apa aku benar-benar melakukan kesalahan diluar nalar? Huh... Mungkin itu hanya dia saja yang sedang sakit malam ini. " cela Zuu dengan berdesah.


Zuu sungguh sangat bingung juga rentan hati dengan kejadian yang menimpa-Nya. Ia merasa takut juga gundah gulana dengan situasi sekarang.


" lee adalah orang ketiga yang dengan berani membuat hati aku rapuh. Bahkan, ucapan-Nya itu diluar dugaan, ia mengatakan bahwa aku ini sama tidak berguna-Nya dengan Ayah-Ku?? Tahu apa dia berani mengatakan itu?! Kenapa setiap mereka yang sudah aku pandang baik pada akhirnya selalu jahat pada-Ku?? Jika memang tidak suka katakan dari awal, tak perlu melakukan hal seperti ini. Apakah dengan cara menyakiti hati seseorang bisa membuat mereka bahagia? Aaarrggh... Ini membuat-Ku tidak waras!! " geram Zuu.


Zuu terus berdesah untuk mengatur amarah-Nya.


" malam ini aku sungguh lelah. Huh... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan esok. " gerutu Zuu kembali dengan gelana juga berdesah.


Zuu pun tertidur dengan sendirinya. Jam menunjukkan pukul 04:00 pagi. Tiba-tiba Lee terbangun karena merasakan lapar-Nya kembali, ia pun keluar dari kamar, turun dari lantai atas dan mencari sebuah makanan.


" Ouch!... Perut-Ku amat lapar, sebenarnya kau ini kenapa Lee?? Tadi itu kau benar-benar kelaparan, kenapa makanan pemberian dari Zuu kau hantam?! Lalu sekarang bagaimana?? Apa aku akan mati malam ini?? Tidak-tidak!! Aku tak mau mati sekarang!! Aku mohon... " ujar Lee dengan lesu.


Lee berharap Zuu masih menyimpan makanan sampingan disekitar-Nya. Saat ia melihat ke arah meja seketika Lee terkejut dan langsung berlari memeriksa-Nya, siapa sangka itu adalah sebuah makanan instan. Lee langsung membawa makanan itu ke Dapur dan memasak-Nya. Setelah selesai ia pun menghabiskan semua makanan, saat sampai di titik akhir penghabisan, ia baru berpikir terlintas di kepala-Nya.


" apa Zuu yang menyisakan ini untuk-Ku? Jika itu benar, bukankah berarti ia peduli pada-Ku? Apakah ini sebuah perhatian-Nya? " gumam Lee dengan kebingungan.


" lalu, sekarang Zuu dimana?? Oh benar, sekarang ia berada dimana? " tanya Lee dengan sedikit panik.


Lee pun mencari Zuu di lantai bawah terlebih dahulu, mencari terus mencari hingga akhirnya Lee menemukan Zuu sedang tidur di kursi panjang ruang keluarga.


" ternyata disini. " gumam Lee dengan terengah-engah.


Lee pun kembali ke dalam Kamar-Nya untuk beristirahat. Pagi pun tiba. Zuu bangun dari kursi panjang-Nya dengan menggeliat, setelah bangun ia baru merasakan badan-Nya sakit karena tidak biasa tidur di sofa.


" Aw... Aw... Leher-Ku terasa sakit, ada apa dengan sofa ini?? Ketika ditempatkan untuk duduk begitu sangat empuk, kenapa saat digunakan tidur sangat menyakitkan. " rintih-Nya.


Zuu pun bangkit dari tempat tidur-Nya dan merasa penasaran dengan kondisi Lee sekarang.


" sekarang dia pasti sudah sadar dari mabuk-Nya, hm... Aku akan lihat. " ujar Zuu dengan berdiri.


Ia pun pergi keluar dari ruang keluarga menuju lantai bawah, Zuu melihat Lee yang sedang fokus memainkan sebuah laptop di Ruang Tamu. Zuu merasa resah karena peristiwa semalam.


" apa dia benar-benar mengatakan itu dengan keadaan sadar?? Seperti-Nya hari ini tampak baik, wajah Lee juga berseri. " gumam Zuu dengan cemberut.


Saat ia lanjut melangkahkan kakinya ke depan tiba-tiba Celepak...!! Betapa terkejut-Nya Zuu melihat air kopi yang menggenang di hadapan-Nya, selain itu saat melihat ke berbagai arah cela Rumah, ia terengah-engah juga terjegil dan ternganga karena banyak-Nya sampah juga benda yang berserakan dimana-mana.


" apa ini?? Apa yang telah terjadi dengan keadaan rumah ini?? Kapan angin menerjang?? " ujar Zuu dengan mengelus dada.


" aku akan mendapatkan jawaban-Nya sekarang, apakah malam tadi itu dia sedang mabuk atau tidak, bisa jadi aku hanya dalam keadaan bermimpi tadi malam. " gumam Zuu kembali.


Zuu pun menghampiri Lee dengan ekspresi marah dan menggebrak meja Lee dengan mengatakan.


" hey Lee su!! apa yang sudah kau lakukan dengan Rumah ini hah?? kenapa aku banyak sekali melihat sampah dimana-mana, dan apa itu? kopi, hey buanglah bekas minum-Mu itu pada tempat-Nya, ini terlihat seperti kondisi pasar. " gerutu Zuu.


Lee yang demikian terus menatap tajam mata Zuu. Saat Zuu ingin berdesah kembali Lee menyelang.


" hey kau mendengar-Ku tidak? lihat..., "


" Apa?? Memang-Nya apa yang perlu aku katakan pada-Mu? " selang Lee.


Zuu yang merasa terheran-heran pun ternganga.


" Hah?? "


" Apa urusan-Nya dengan-Mu yang aku lakukan sekarang tadi dan kedepannya hah!!!? memang-Nya kau ini siapa? ada urusan apa kau bertanya seperti itu? kopi itu tergeletak disana karena aku yang menyimpan-Nya, apa ada masalah? aku bertanya apa ada masalah!!! " bentak Lee dihadapan wajah Zuu.