
" Hah?? " menoleh ke belakang bersamaan.
" Euu... Begini, kami hanya takut bak mandi-Nya kotor jadi, belum dibersihkan ya Zuu selepas pindah ke sini kesibukan begitu sangat menyerang kami, benar bukan Zuu? Haha... " tergagap-gagap Lee menjelaskan.
Arun sigap merasa keheranan dengan jawaban dari Lee.
" Bukankah tadi mengatakan bahwa airnya sedang surut, lalu sekarang jawaban berbeda? " tanya Arun.
Mereka tertegun, matanya juga membeliak gagu untuk melawan ucapan dari Arun.
" airnya ada tidak di dalam sana tadi? " tanya Arun kembali ke Amerta.
" Tentu saja ada, bahkan tadi aku sempat mendengar perkataan dari Zuu bahwa toilet ini sedang dalam perbaikan saat aku masuk semuanya terlihat baik-baik saja? " kebingungan.
Seketika serangan datang menghantam mereka berdua, keruan sekali Zuu dan Lee terdiam, terpaku wajah mereka juga berpeluh dingin.
Arun mencoba untuk bertanya kembali.
" Jadi sebenarnya kalian ini kenapa? Apa telah terjadi sesuatu? Hingga bisa nekat berbohong kepada kami? "
Tiba-tiba Zuu tertawa dengan terbahak-bahak, Lee dan lainnya jelas sekali kebingungan juga sedikit ketakutan akan tingkahnya. Lalu Zuu berkata.
" Kejutan!!! Haha... Seru sekali ya Kak?? Haha... Wajah kalian sampai tegang begitu, aku sudah menduganya bahwa ini akan berhasil haha... Kau kalah taruhan Kak, dan sebagai hadiahnya aku menginginkan... Mmm... Oh! Tempat tidur-Mu! Cocok sekali, jadi kami bertiga tidak perlu berdesak-desakan saat ingin tidur nanti, ye!! Kita menang. " soraknya sendiri.
" Haha... Oh tidak!! Bagaimana ini bisa ? Haha... " gelak sumbing sembari memukul-mukul bahu Zuu.
Seketika Arun dan Amerta di kelilingi kebingungan yang dasyat, lalu bertanya.
" Hah?? Maksudnya?? "
Zuu mengalihkan pembicaraan.
" Haha... Sudahlah sudah, ini menjadi urusan kami berdua, tapi sebelumnya aku dengan Kak Lee ingin meminta maaf juga, kami sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi kalian seperti ini, benar kan Kak? " tutur kata Zuu.
" Haha... Benar, aku minta maaf yah? " sahut Lee.
" Euu... Sudahlah, dari pada memakan hal bingung mending kita langsung makan nasi saja yang sudah tentu membuat hati senang pastinya akan membuat tidur kalian nyenyak juga nantinya, benar kan Kak? " elak-Nya.
" Oh iya benar, benar. Aku juga sudah lapar sekali, Zuu! Segeralah siapakan semuanya kami akan menunggu di meja makan, mari teman-teman. " ajak Lee.
Meski mereka masih setengah mati penasaran tapi, akhirnya pun Arun dan Amerta mengikuti Lee. Sedangkan Zuu kembali untuk memasak. Saat hendak menyiapkan piring dan segalanya ia baru tersadar bahwa masakan yang tadi ia buat telah gagal.
" Akh!!! Aku melupakan itu! Lalu bagaimana ini?? Jika melihat resep dari orang lain kembali, dan hasilnya sama seperti sebelumnya bagaimana? " panik.
Zuu memutuskan membuat ulang masakannya dengan cara rancangan apa yang ada di pikirannya saja.
" semampu-Ku mungkin bisa. " gumamnya bertekad hati.
Lama waktu berjalan, ia pun berhasil membuat makanan hasil resepnya sendiri, dan segeralah Zuu membawanya ke meja makan.
" halo semuanya, makanannya sudah siap. " ucapnya girang sembari meletakkan masakannya di meja.
" Wa..., eh?? Ada apa dengan makanan-Nya? " heran Amerta bertanya.
" Hah? " Zuu kebingungan.
Arun pun melihat, sontak ia juga terkejut dengan hasil masakan yang dibuat Zuu.
" Makanan ini di campur semuanya? Kenapa hancur begitu? " tanyanya juga terheran-heran.
Zuu yang disadarkan oleh mereka keruan kebingungan.
" Benarkah?? Euu... " tersinggung.
" Apa masalahnya, lagi pula ini terbuat dari bahan makanan biasanya, hanya tampilannya saja yang yah... Kurang kreatif, cicipi saja. Aku juga pernah mencoba masakan Zuu, dan itu sama dengan yang lainnya tidak ada perbedaan. " selang Lee.
Perkataan dari Lee membuat mereka sedikit percaya dan memberanikan diri untuk menerima masakan dari Zuu.
" Aku akan mencoba-Nya. " ucap Amerta mengambil.
" Aku juga kalau begitu. " sahutnya juga.
Kemudian Lee ikut melakukan hal sama dengan mereka, saat hendak di makan masakan tersebut di cium terlebih dahulu.
" Aromanya tidaklah buruk. " ujar Arun.
Setelah di makan mereka juga berkata.
" Rasa biasa makanan pada umumnya, hanya saja tampilannya sedikit menggelikan hati, ini pertama kalinya juga aku mencoba masakan yang dibuat oleh Zuu, terima kasih. " kritiknya.
" Ah tidak, bukan apa-apa. Aku sangat senang kalian menikmati makanan ini. " ujar Zuu senang hati.
Zuu terhenti saat hendak memasukkan suapan pertamanya. Wajah Zuu menampakkan seperti orang keletihan juga terkantuk-kantuk.
Mendabak Amerta ikut mendukung karena juga merasa bertanya-tanya dengan kehidupan Lee dan Zuu.
" Ah benar! Tadinya aku juga ingin menanyakan hal itu, dan yang teramat membuat aku penasaran lagi ialah, bukankah kalian berdua waktu itu tinggal berdua di Hotel? Sehingga aku sempat berpikir ternyata ada juga persaudaraan yang amat begitu erat seperti kalian, aku terkagum-kagum. " katanya.
Sontak Arun terkejut akan ucapan-Nya Amerta baru saja.
" Hah! Apa??! " kejutnya.
" Kenapa?? " Amerta kebingungan.
" Bukan, maksud-Ku... Apa mereka benar-benar tinggal berdua di Hotel?? Tidak dipisahkan?? " terkejut-kejut.
Seketika suasana hati mereka berdua semakin berdebar-debar kencang karena rasa kekhawatiran juga gelisah resah. Amerta semakin memperjelas memberitahu kejadian waktu itu.
" Aku pernah tinggal bersama mereka sehari, di sebuah Hotel, waktu itu aku dengan Kak Lee melihat Zuu sekonyong-konyong saja menabrakkan diri ke mobil kami, dan aku hendak membawanya ke Rumah Sakit, tapi Kak Lee melarang alhasil Zuu pun dibawa ke Hotel tempat yang di inap oleh mereka. " sahutnya.
Penjelasan dari Amerta semakin membuat Arun bertanya-tanya juga terkejut-kejut.
" Apa kalian tengah mempunyai hubungan buruk dengan keluarga? " duga-Nya.
Mereka kembali dihantam pertanyaan mematikan.
" Euu... " gagu Lee juga Zuu.
Sigap Zuu berpikir dan menangkis percakapan Arun juga Amerta.
" Sama seperti yang dikirakan Arun, sekalian... Kami juga ingin merasa lebih untuk hidup sendiri tanpa adanya campur tangan dari keluarga. " ujarnya.
" Lalu... Hingga kapan kalian akan bertingkah seperti ini? Bukankah itu tidak baik?? " sindirnya.
Lee membantu melawan pertanyaan dari Arun.
" Euu... Bukan kami berniat mengasingkan dari orang-orang berharga, tapi sebenarnya kami sedang berlatih untuk menjadi lebih dewasa tanpa harus membebankan orang tua kami. " sahut Lee.
" Jika kebenarannya memang begitu... Kenapa harus satu atap? " terheran-heran.
" Euu... Zuu masih anak sekolah, untuk sementara waktu... Euu... Bagaimana yah cara menjelaskan-Nya. " tergaguk-gaguk.
" Itu Kakak tahu sendiri bahwa Zuu masih anak sekolah, berarti tanggung jawab-Nya masih di tangan orang tua. " tangkis Arun.
Seketika Lee bergunyam karena rasa kekesalannya terhadap pertanyaan Arun yang terus beruntun.
" Ini anak dari planet mana ia berasal, kenapa sampai ke dalam-dalam begitu pertanyaan-Nya? Sifatnya seperti orang bijak saja, seakan-akan aku ini tengah menjadi orang bodoh dan bersalah yang selayaknya di interogasi oleh seorang polisi. " dongkol-Nya.
Karena lama menahan gumaman alhasil kejengkelannya pun meledak, ia menyatakan secara tegas bergas.
" Aku yang meminta kepada orang tua mengambil alih tanggung jawab Zuu, agar aku tidak terlalu terkejut saat berumah tangga nanti, bisa dikatakan Lee sedang berlatih menjadi seorang suami yang baik untuk Zuu. " ujarnya bengis.
Sahutan darinya, malah semakin membuat mereka lebih terheran-heran karena jarang sekali ada orang yang berkeputusan seperti itu, tapi bisa dimengerti juga oleh Arun dan Amerta akan yang dilakukan oleh Lee. Merasa tidak nyaman hati Arun meminta maaf kepadanya.
" Oh benarkah? Aku sungguh tidak tahu mengenai hal itu tapi apapun alasannya, aku sungguh-sungguh minta maaf bertanya yang tidak selayaknya dipertanyakan. " ujarnya.
" Eh, tapi ternyata ia mudah merasa bersalah, mengejutkan-Nya lagi mudah berucap maaf, tidak salah Zuu memilih rekan. " gunyamnya terpukau.
" Ah... Haha... Itu bukan masalah, tidak apa-apa. " tersengeh juga hati girang.
Saat hendak memasukkan suapan pertama-Nya kembali, sekonyong-konyong tanpa pikir juga waktu yang panjang Arun bertanya kembali. Keruan sekali itu membuat Lee terkejut hingga terbeliak.
" Kalian saudara tapi kenapa seperti ada yang berbeda dari wajah kalian, euu... Maksudnya... " canggung.
Amerta menyelang.
" Tidak mirip. Pada umumnya ada salah satu anggota tubuh dari seorang saudara serupa dengan-Nya, benar kan Arun? " celetuknya.
" Glup!... Tajam sekali ucapan dari mereka, aku hampir ingin menelan kedua anak ini. " gunyamnya menelan lidah karena rentan hati.
Beda suasana dengan Zuu, ia malah merasa geli hati akan perkataan yang diucapkan oleh Arun dan Amerta. Wajah-Nya menampakkan tertawa.
Lee yang melihat sorotan dari Zuu pun dongkol, kemudian ia merangkul bahunya untuk menyamakan wajah dari mereka.
" bagaimana sekarang?? Mirip bukan?? " ujar Lee kesal hati.
Zuu melepaskan rangkulan-Nya dengan menertawakan.
" Haha... Kau ini kenapa? Hey kalian seperti-Nya jangan pernah tanyakan hal itu, tentu saja kami berbeda itu karena... " ucapnya terhenti.
" Plak!... " sigap Lee memukul Zuu sembari berbisik.
" hey!! Jangan bertindak sembrono!! " peringatnya.
Zuu tersadar.
" Euu...maksud-Ku... Apa permasalahannya? Bagi kami saudara bukan terlihat samanya anggota tubuh. Eh bukan begitu, tapi bagi kami apapun itu, wajah kami terlihat mirip kan Kak? Mata kalian saja yang bermasalah. " ujarnya menahan tawa.