
" Zuu. Bagaimana tampilan-Ku sekarang? Apa Kau mencintainya?. " tersengeh.
"Kenapa Kau bertanya padaku? Seharusnya bertanyalah kepada orang yang disukai olehmu. Ku-dengar Kau sedang menyukai seorang Wanita bukan? " cengar-cengir.
" Itu memang benar. " gumamnya.
Zuu melihat ke Arah Amerta yang terlihat seperti orang melamun dalam kebingungan. Zuu bertanya dengan menepak.
" Ada apa? " tanyanya.
" Ah... Bukan apa-apa, aku hanya bertanya-tanya? Kalian berdua ini keluarga atau orang lain. Sepertinya sangat dekat? " kebingungan.
Sigap Lee menjawab tapi Zuu menyelang pembicaraannya.
" Kami itu..., " sahut Lee.
" Iyah, Kami keluarga tapi, tidak terlalu dekat. Pada intinya begitu. " selangnya.
Seketika Lee cemberut juga kesal dengan perkataan Zuu, begitupun juga Amerta yang merasa kebingungan dengan perkataan Zuu.
" Oh... Itu sangat aneh. Keluarga tapi, tidak terlalu dekat. " kebingungan.
Ditengah perjalanan Lee berhenti sejenak keluar dari Dalam Mobil, Zuu juga Amerta menunggu kembalinya Lee.
" Ah... Kakak tua itu sangat menyebalkan bukan!? " dongkolnya.
" Meskipun begitu, menurut-Ku Dia sangat manis. " sahutnya.
Seketika Zuu tersedak minuman karena terkejut.
" Apa Kau menyukainya!!? " lantangnya.
Amerta langsung membungkam mulut Zuu.
" Stt... Hey!! Percayalah, sungguh bukan begitu. Apa aku mengatakan itu? " bisik Amerta.
" Aku tidak tahu, tapi tidak untuk nanti. " sahutnya kembali dengan tersengeh.
Zuu melamun ke Arah wajah Amerta, Diapun bertanya.
" Ada apa " gagap.
" Ada yang mengganjal di Dalam Tubuhku. " sahut Zuu.
" Apa maksud-Mu? " kebingungan.
Zuu sigap keluar dari Dalam Mobil.
" Ke Toilet. Tolong katakan itu nanti kepada Lee. Ini sangat mengganggu sungguh. " tergesa-gesa.
Zuu pun sigap lari. Selesai dari Toilet tiba-tiba Zuu melihat seseorang terjatuh dompetnya, Zuu sigap menepak bahu dari Belakang dengan perlahan, juga sambil menunjuk ke Bawah.
" Hey. Dompet itu milikmu, kasihan jika tidak diambil pasti Dia menyedihkan. " tegur Zuu.
Orang itupun menoleh ke Arah Zuu dan mereka saling terkejut ternyata itu adalah Faiz. Sigap Faiz memeluknya. Zuu terdiam dan melotot karena terkejut.
" Zuu, Apa Kamu mencoba untuk menghindari-Ku? Hey aku menunggu kehadiranmu di Sekolah, Kau dari mana saja? " tersedu-sedu.
" Hey Kau ini memang anak kecil, ah tidak kusangka Ka..., "
Omongan Zuu terhenti karena pelukan Faiz yang begitu erat juga tersedu-sedu kronis. Zuu pun bertanya dengan lembut.
" Apa Kau sungguh merindukan-Ku? " belainya.
Faiz mengangguk. Zuu hanya terdiam juga kebingungan. Setelah lama berjumpa dan berbicara dengan Iz', Zuu pun kembali ke Dalam mobil. Zuu terkejut karena Lee belum kunjung datang juga.
" Apa ini sungguhan?? Aku berada diluar itu cukup lama tapi kenapa Dia belum kembali juga!! Perlu kudatangi Dia? " tanya Zuu.
" Aku tidak tahu, tapi ini sudah malam. Sebaiknya tunggu saja. " sahut Amerta.
Lee pun tiba dan masuk ke Dalam Mobil.
" Halo. Lihat apa yang kubawa. " bersemangat.
Lee membawakan sebuah Makanan berukuran besar.
" Ini untuk temannya Zuu. Tolong terima ini. " cengar-cengir.
" Terima Kasih untuk makanannya. " sahut Amerta.
" Apa ini keberuntungan kita haha... " semangat Zuu.
" Bagian-Ku mana? " dongkol Zuu.
" Kenapa Kau bertanya seperti itu, jelas punyamu tidak ada. Malam ini adalah pertemuan pertama aku dengan teman barumu, jadi untuk malam ini Ku-khususkan untuknya. " sahutnya.
Zuu sigap berdiri di Dalam Mobil, dan mengambil makanan yang berada di tangannya Lee dengan mengatakan.
Zuu pun membukakan makanan itu iapun terkejut dengan mengatakan.
" Mentah?? Kak apa ini? Aku ini bukan singa yang biasa memakan makanan mentah " keluhannya.
" Jika Kau tetap menginginkan makanan maka, ambil saja itu dan masak nanti. " sahutnya.
" Jangan bercanda, jangankan untuk tempat memasak pribadi, istirahat saja seperti di Tengah Gurun! Bosan hidup!!? " lantangnya.
" Apa yang salah Zuu, di Rumah-Mu tidak ada tempat untuk memasak? " tanya Amerta.
Zuu terkejut, berbeda dengan Lee. Ia malah cengar-cengir seperti meminta ingin masuk ke Ruangan yang gelap. Zuu langsung menjelaskan.
" Ah benar, aku ini memang miskin dan sama sekali tidak mempunyai alat untuk memasak. " keluhannya.
" Lalu, sarapan tadi Kau dapatkan darimana? " tanyanya kembali.
" Oh itu, semuanya sudah tersedia. " sahut Zuu.
" Hah!! " tercengang bengang.
" Aku sama sekali tidak mempunyai apapun, tapi Ibu-Ku sepertinya mempunyai itu semua hihi... " gagap.
" Ah... Sudah kuduga Kau itu pasti bercanda. Saudara-Mu saja mempunyai uang untuk membelikan-Ku makanan, mana mungkin untuk mempunyai sebuah alat masak Kau tidak ada " tertawa.
" Jangan bercanda, siapa saja mampu untuk membelikan seseorang makanan. " tertawa kembali.
" Kau benar. Aku tidak menyangka, selain cantik juga berbakat, ternyata Kau ini juga rendah diri dan rendah hati. Aku sangat beruntung mempunyai teman seperti-Mu. " tersenyum.
Seketika Lee tertawa bahak.
" Hahaha... Itu sangat sulit dipercaya... Haha... Zuu-Ku dikatakan seperti itu. " kecaman.
Zuu berniat untuk menarik rambut Lee, tapi ini sangat berbeda. karena Lee sudah tidak berambut panjang lagi, iapun melemparkan sebuah benda dengan berkata itu ulat bulu, Lee dengan lantangnya terkejut hampir terjadi kecelakaan.
" Ulat bulu di Pahamu Kak. " ujarnya.
" Hah!! Dimana!!? Ah... Dimana itu? Siapapun singkirkan!! " lantangnya.
" Kak awas!! " tegurnya.
" Ah... " teriak.
" Ah!! Kau ini!! Kenapa tidak bisa memperhatikan jalan dengan benar!! " marahnya.
Amerta pun terkejut juga ketakutan.
" Aku berharap bisa pulang malam ini ke Rumah-Ku, tapi bukan ke Rumah-Ku yang gelap. " celanya.
" Ah... Aku sungguh minta maaf. " ujarnya Lee.
" Aku hanya bercanda, apa Kau mengira aku ini apa? Yang membawa-bawa seekor ulat bulu di Dalam Mobil? " sahutnya kembali.
" Hey Kau juga bersalah dalam hal ini " dongkolnya juga.
" Ah... Cepat jalan. " bentaknya.
" Tunggu. Berjanjilah akan membawa-Ku ke Rumah Ibu-Ku, bukan Rumah-Ku yang sekarang. " panik.
" Amerta. Kau tenang saja, berikan Dia kesempatan untuk membawamu dengan baik.
Siapapun itu berhak mendapatkan kesempatan yang kedua. " sahutnya.
Amerta pun menghela nafas dan meyakinkan diri.
" Baiklah. Ayo... " semangatnya.
Setelah lama melewati berbagai jalanan, akhirnya sampai di Rumah-Nya Amerta. Zuu dan Lee terpukau melihat Rumah Amerta yang begitu bagus. Sebelum berangkat mereka berdua pun berpamitan dengan Amerta.
" Rumah-Mu sangat bagus, pertahankan. Aku akan pergi sekarang " ujarnya Zuu.
Di Tengah perjanjian Lee menyarankan Zuu untuk duduk di Kursi Depan bersama Lee.
" Temanmu sudah pergi. Kenapa Kau tidak pindah juga ke Depan? " dongkol Lee.
" Dimana perbedaan dan masalahnya? " ujarnya.
Lee membandingkan dengan perasaan marah tapi ia menarik nafas panjang-panjang dan berkata.
" Jika aku adalah seorang pacar-Mu, Kau pasti akan duduk bersama dengan berpegangan erat sama halnya dengan perlakuan-Mu kepadanya bukan? " celanya.
...Aku harap kalian menyukainya❤❣️...
...Tetap bersama 🍭🤝...