Blue Love

Blue Love
Menjenguk



Zuu bangun dan pergi ke Toilet untuk mandi, disaat ia tengah membereskan buku-buku pelajaran tiba-tiba seseorang mengetuk Pintu Zuu langsung menghampiri. Ternyata itu adalah Pelayan Hotel untuk memberikan sebuah sarapan pada Zuu.


" Terima Kasih. " Zuu tersenyum sambil mengambil Makanan tersebut.


" Maaf Mbak, tolong piring kotor bekas semalam? " tanya Pelayan itu dengan tersenyum.


" Oh tunggu. " sahut Zuu.


Ia-Pun mengambil dan memberikan-Nya kepada Pelayan itu.


" Kenapa dengan sarapan yang satu-Nya Kak? " tanya Pelayan itu dengan kebingungan.


" Oh itu, aku kira suami-Ku akan pulang cepat ternyata tidak, jadi aku kembalikan. " sahut Zuu.


" Oh, yasudah berarti yang tadi juga dikembalikan? " ujar Pelayan itu kembali.


" Tentu saja tidak. Aku akan memakannya, Terima Kasih. " sahut Zuu kembali dan sigap masuk ke Dalam Kamar.


" sarapan-Nya ada 2, Kak Lee sudah makan disana atau tidak? " gumam-Nya


Zuu pun memakan sarapan tersebut dan berangkat.


Menunggu dan menunggu di Sisi Jalanan akhirnya pun kendaraan umum tiba, saat melihat ke arah supir, ia terkejut supirnya adalah orang yang waktu itu berdebat dengan-Nya. Begitupun juga supir saat melihat itu Zuu sontak pergi tapi Zuu berusaha menahannya.


" Tunggu Pak... Tunggu, aku akan membayarnya untuk jasa waktu itu dan begitu pun juga hari ini, saya mohon tolong antar saya. " belai-Nya.


" Benarkah?? Emmm baiklah cepat naik, awas saja jika kau berulah kembali. " tegas Supir itu.


Zuu pun naik, di Tengah perjalanan ia baru tersadar dengan Faiz, dan meminta kepada Pak Supir untuk putar kembali dan menyuruh-Nya untuk mengantarkan Zuu ke Rumah Sakit.


" Putar kembali Pak, tadi pas pertigaan tolong belok ke kanan. " gesa Zuu.


" Oh jadi, kita putar kembali. Baiklah, tapi untuk yang ini belum kau bayar? " ujar Pak Supir itu.


" Ampun ini orang " gumamnya Zuu.


" baiklah terserah, cepat jalan. " gesa Zuu.


Sampai di Rumah Sakit Zuu menelpon Faiz.


" Aku sudah sampai, cepat kemari. " gesa Zuu


Menunggu dan menunggu akhirnya Iz' datang menghampiri Zuu.


" Kamu tidak apa-apa kan? " tanya Iz dengan panik sambil meraba-raba pipinya Zuu.


" Aku tidak apa-apa. " sahut Zuu dan sigap melepaskan tangan-Nya Iz dari wajah-Nya.


" Lalu, kenapa semalam kamu mematikan telponnya. " tanya Iz dengan panik.


" Apa hubungannya? Hm... Aku tidak tahu semalam itu, lampu mati secara tiba-tiba dan telpon-Ku juga ikut mati karena belum sempat diisi baterai lama. " sahut-Nya.


" Oh begitu, aku mohon Zuu lain kali jangan membuat orang khawatir. " tegas Iz.


Faiz menyuruh Zuu untuk duduk sejenak dan bertanya tentang Lee.


" Jadi, Bujang Talang itu tidak pulang semalam? " tanya Faiz.


" Pulang sekitar jam 1 pagi, kemudian berangkat kembali jam 03:21 mungkin. " sahut Zuu kembali.


" Ada apa dengannya? " tanya Faiz kembali.


" Aku tidak tahu " sahut Zuu kembali.


" Aku sangat ingin dia segera tahu hubungan kita. " keluh kesah-Nya Faiz.


" Oh dia sudah mengetahui hubungan kita Iz. " sigapnya.


" Benarkah?? Wah... Sulit dipercaya. Kamu bersungguh-sungguh? Ini sangat bagus, Zuu jadi kita tidak perlu bersembunyi dalam hubungan ini bukan? Wah... Zuu bagaimana jika nanti malam kita berkencan dan itu pasti, tidak akan ada rasa jangkal lagi ketika kita bersama meski Bujang Talang itu melihat tidak akan terjadi apa-apa. " Faiz sontak terkejut juga terharu.


" Emm... Baiklah aku akan coba. " Zuu tersenyum.


" yasudah. Sebaiknya kita berangkat sekarang bagaimana jika nanti kita terlambat. " ajak-Nya Zuu.


" Berangkat bagaimana? Bukankah, kamu kemari itu untuk menjenguk ayah-Ku Zuu ? " tegur Faiz.


" Oh iya kau benar. Yasudah aku akan masuk sekarang. Tunggu disini. " Zuu tersadar.


" Aku yakin dia baik-baik saja. Huh... " menghela nafas.


" sejujurnya saja aku tidak menyukai yang bernama seorang ayah. Menyebalkan... Mereka hanya bisa meninggalkan tanpa berfikir bijak itu penjahat. Ahh haruskah aku melakukan-Nya? Sungguh... Aku tidak menyukai ini. " dongkol-Nya Zuu.


Ia pun mendekati ayah-Nya Iz, dan menepak bahunya sambil berkata.


" Cepatlah kembali seperti dahulu. " ujar Zuu dengan risi.


Zuu pun keluar kembali menghampiri Iz.


" Bagaimana sudah? " tanya Faiz.


" Tentu saja. " sahut Zuu.


" Kenapa lama? Apa ayah-Ku sudah siuman? " tanya Iz dengan kebingungan.


" Oh tidak, dia masih tertidur pulas. Itu karena aku tadi mendoakan-Nya agar cepat mati. " sahut Zuu dengan bimbang.


" Hah!!? " Faiz terkejut.


" Hah? " Zuu juga ikut terkejut.


" Apa maksud-Mu? Kamu mendoakan-Nya agar cepat meninggal?? " ujar Iz dengan tegas.


" Hah?? Oh ti... tidak bukan itu maksudku, cepat kembali seperti itu. " sahut Zuu dengan gagap.


" Kembali kemana?? Kembali ke Alam mana? " cela-Nya Iz.


" Tentu saja, ke Alam ini. Memangnya kemana lagi? Yah cepat kembali seperti dahulu raganya begitu maksud-Ku. " Zuu tersengeh.


" mmm... Sudahlah. Mari kita berangkat sekarang bagaimana? " Zuu menukar topik.


" Oke... Mari " sahut Iz.


Mereka berdua berangkat bersama ke Sekolah menggunakan kendaraan umum, ketika sebentar lagi sampai di Sekolah Zuu meminta kepada Supir itu untuk berhenti Iz kebingungan dan bertanya.


" Ada apa? Kenapa berhenti disini? " tanya Iz.


" Aku akan terlebih dahulu turun disini, memangnya kau pikir ini apa? Jika kita turun bersama siapa orang yang tidak akan curiga. " sahut Zuu sambil membuka pintu mobil.


" Oh yasudah kalo begitu... Biar aku saja yang turun. " ujar Iz kembali.


" Aku tidak yakin soal itu. Sudah nikmati saja kendaraan-Nya. " sahut Zuu dengan menutup pintu mobil-Nya.


Saat tengah berjalan tiba-tiba seseorang menepak bahunya dengan keras.


" Hey Zuu... " cengar-cengir


" Aw... Amerta. Kau ini... Menyapalah dengan hati aku mohon, kenapa keras sekali menepak-Nya. " tegas-Nya Zuu.


" Ahaha... Aku minta maaf... Mungkin aku terlalu bersemangat sehingga tidak sengaja mengeluarkan energiku. " Amerta tersengeh.


" Bagaimana kabar-Nya? " tanya Zuu.


" Sangat bagus, Kak Lee menerima-Ku menjadi temannya sangat baik. " tersenyum.


" Benarkah?? Wah aku sangat terpukau. Aku senang " sahut Zuu dengan tercengang bengang.


Zuu berpaling pandangan melihat Eunoia yang sedang diganggu oleh seseorang, sigap Zuu menghampiri.


" Jika berjalan itu memakai mata!! Wah... Cari masalah rupanya!! Cepat ganti telpon-Ku sekarang juga!! " bentak si pegangggu.


" A... aku tidak menabrak-Mu... Justru itu sebaliknya. " elak Eunoia.


" Hey bosan hidup rupanya!!? " bentak-Nya kembali sambil memegang kerah baju Eunoia.


Zuu langsung memukul kepala si Pengganggu itu dengan keras sehingga ia merintih kesakitan dan menoleh ke Belakang.


" Aw... Siapa kau hah!! Wah... ada rupanya seorang pahlawan yang melawan dari Belakang seperti pengecut haha... " cela-Nya.


" Wah... Pintar sekali rupanya kau ini... haha... " Zuu tertawa terbahak-bahak.


" Lebih mengejutkan-Nya lagi ada rupanya seorang laki-laki yang berani hanya mengganggu ketentraman seorang wanita hanya untuk kepuasan diri-Nya sendiri? Musang " cela-Nya Zuu dengan melotot.


Mereka berdua saling bertatapan dengan tajam dan marah.