Blue Love

Blue Love
Berat hati



Mereka berdua pun masuk ke ruang menari bersama, Leon mulai mengajarkannya. Setelah lama mempelajari mengikuti, Zuu sangat tercengang-cengang akan ilmu yang diberikan oleh Leon.


" Wah... Tidak aku sangka ini sangat sulit untuk aku terima! Bagaimana cara kakak melakukannya?? Sehingga aku payah mengikuti pergerakan yang diperagakan olehmu. " keluhnya terpukau.


" Haha... Benarkah?? Teman-temanmu juga mengatakan hal yang sama sepertimu Zuu. " geli hati.


" Mengapa kakak malah tertawa huh... Aku berasa berat sekali untuk melakukannya. Sungguh! " berkeluh kesah.


" Haha... Kau memang lucu sekali. " ujarnya tersengih sembari duduk.


Kemudian Leon memerintahkan Zuu untuk beristirahat sejenak.


" kemarilah, kita akan duduk disini sambil menunggu tenaga berkumpul. " ajaknya.


Zuu pun berjalan menghampiri Leon dan duduk di sampingnya, tak lama kemudian Leon memberikan sebotol air kepadanya.


" ini minumlah, air putih sangat baik untuk tubuh kita, sebarkanlah dengan sebotol minuman ini. " mengulurkan tangan.


" Oh, mmm... Terima kasih hehe... Seperti-Nya aku sangat banyak merepotkanmu bukan?? " tersengih, resah.


" Tidak, kau adalah murid-Ku. Mmm... Tidak ada yang merepotkan bagi seorang pelatih seperti aku jika itu membuatmu berhasil nantinya. " sahutnya.


Zuu tersenyum juga tersanjung akan ucapan darinya.


" Seperti-Nya aku memang tidak salah mengidolakan-Mu, bahkan kita bisa berlatih seperti tadi sejujurnya itu sangat sulit untuk aku percaya. Waktu dulu di sekolah pertama-Ku... Kakak adalah orang pertama yang ingin selalu aku jumpai, aku berkata jujur! Setiap melihat wajah kakak aku tidak pernah merasa bosan, itu sebabnya ketidakpercayaan momen ini membuat benak hatiku meledak-ledak. " tersengih.


" Wah... Sungguh?? Apakah itu yang sebenarnya kau katakan?? " terkejut.


" Tentu saja, bukankah aku sudah mengatakan-Nya tadi, aku berkata jujur! " tegasnya.


" Wah... Jika kebenarannya memang begitu, berarti aku juga adalah pria yang sangat beruntung bisa di spesialkan oleh wanita seperti Zuu. " tersenyum malu juga.


Sontak itu membuat Zuu geli hati, tersipu-sipu malu.


" Haha... Aku tidak percaya kakak bisa mengatakan itu. " tergelak.


" Hehe... " ikut terkekeh-kekeh.


Mereka berdua bersenda gurau juga menghasilkan tertawa senang bersama. Tak lama waktu berselang Leon pun mengatakan kembali.


" lalu bagaimana sorotanmu di saat waktu kita bertemu?? " mengalihkan pembicaraan.


Zuu menjawab dengan spontan juga masih dalam keadaan geli hati.


" Oh... Hahaha... Waktu itu, ini sungguhan ya Kak! Setiap berdekatan denganmu di dalam dadaku berbunyi, Dak, dig, dug... Tetapi itu bergetar sangat kencang Kak. Ah... Lucu sekali rasanya jika diingat-ingat kembali. " menghela napas.


" Bukankah itu berarti tandanya jatuh hati kepada seseorang? " gumamnya.


Lalu Leon pun alhasil mengatakan,


" kau suka padaku? " tanyanya.


Seketika pandangan Zuu teralih ke wajahnya Leon dengan membeliak.


" Hah?? " terkejut.


" Ya, tentu saja! Kau berkata bahwa setiap berdekatan dengan aku jantung-Mu berdebar kencang, bukankah itu tandanya jatuh hati? " gede rasa.


Suasana hati Zuu pun berubah menjadi canggung juga keresahan, ia terdiam juga terpaku.


" Euu... " bingung.


Leon mengatakan kembali.


" Kenapa kita jarang bertemu di waktu Zuu duduk di kelas 10? Bukankah aku sering melatih siswa-siswi disana? " alihnya.


" Oh begitu rupanya... " tersadar.


Suasana menjadi tidak nyaman bagi Zuu, sedangkan berbeda dengan kondisi hati Leon ia malah membelot dan merasa gede hati karena memang mengira bahwa Zuu menyukainya. Tak lama kemudian, ia memberikan sebuah undangan kepada Zuu.


" datanglah nanti kesini, kita akan menjadi pasangan di acara ini. " ajak Leon sembari menyodorkan.


Tegas sekali Zuu terkejut juga kebingungan akan maksudnya.


" Aku tidak mengerti? Euu... Sebelum-Nya aku minta maaf, tapi maksud dari kak Leon?? " resah.


" Jadi temanku mengadakan sebuah acara, ya... Aku juga tidak mengerti apapun soal itu, tetapi dia menyuruh-Ku untuk datang dan mewajibkan membawa seorang teman. Hanya Zuu yang aku punya yang bisa diandalkan. " tersenyum.


Zuu terdiam juga kelinglungan harus mengatakan apa.


" euu... Kenapa?? Bagaimana tanggapannya?? Euu... Kau mau menjadi pasangan-Ku nantinya? " tanya Leon kembali.


Zuu masih dalam keadaan melamun diatas angan-angan dirinya. Leon tetap bersikeras agar Zuu menerima tawaran-Nya dengan cara mengancam.


" jika kau tidak ikut, aku akan berhenti melatih kalian, bahkan mengundurkan diri dari sekolah ini. Perlu Zuu ketahui juga, bahwa rekan-rekanmu yang lainnya sangat gembira mendapatkan latihan dariku, itu disebabkan karena mereka tertarik akan ilmu yang aku tunjukan. "


" Hah? " linglung.


Leon seketika tersadar dan sigap meminta maaf kepada Zuu.


" Ahh... Aku minta maaf Zuu, sungguh! Aku tidak bermaksud apapun, disebabkan-Nya aku melakukan hal ini karena hanya ingin mengungkapkan rasa terima kasih saja sebagai seorang teman. Dia teman yang baik juga istimewa bagiku, maka dari itu aku hanya ingin membawakan orang yang spesial juga di acara miliknya. Kau mengerti maksudnya bukan? Aku mengerti maksud-Mu, aku baru tersadar bahwa Zuu sudah mempunyai suami, jadi untuk berkeputusan hal ini tentu saja jangan sembrono. Tidak pernah diambil sungguh-sungguh, lupakan, situasi hanya terasa mencekam diriku. " ujarnya.


" Teman? Apakah dia adalah yang sangat baik bagimu? " angkat bicara.


" Tentu saja, ya... mungkin, hanya teman pada biasanya Zuu, yang menemani ya seperti itu pada dasarnya. Dari namanya saja teman, berarti dia berperan sebagai orang yang selalu menemani bukan? " tutur katanya.


Seketika Zuu teringat juga dengan teman-temannya, ia berpikir bagaimana jika Zuu berada di posisi temannya Leon tersebut, tentunya pasti merasa tersanjung terhormat akan tinggalkan yang dilakukan oleh Leon. Alhasil ia mengatakan.


" Euu... Aku akan mencoba untuk berpikir terlebih dahulu. Kapan acara itu akan diadakan? " tanya Zuu.


" Wah!! Benarkah?? Euu... Mungkin... Besok, eh bukan! Pada lusa hari. Mungkin di malam minggu acara dimulai. " rusuh hati.


" Oh... Jika aku menerima tawaran darimu aku akan menghubungi-Mu nanti. " ujarnya.


" Oh tentu sangatlah baik hati Zuu... Haha... Aku akan menunggu jawabannya. " girang.


Lama waktu berjalan, akhirnya pelajaran pun usai. Arun berkata.


" Aku pulang lebih dulu. Sampai jumpa. " pamitnya lekas pergi.


" Iya tentu. Hati-hati di jalan. " sahut Zuu kebingungan.


Ia pun cepat menghampiri meja Amerta.


" Jadi kau akan pulang bersama ke rumah-Ku tidak? " tawar Zuu.


" Oh... Euu... Aku..., " gugup gelisah.


" Kau tidak memerlukan barangmu lagi?? Jika memang benar begitu begitu aku dan Kak Lee akan membuangnya. " ucapnya.


" Eh jangan! Kenapa dibuang?? Itu barang milikku tentu aku masih membutuhkannya. " tegas Amerta.


" Yasudah berarti hari ini kita akan pulang menuju arah yang sama? " olok-oloknya.


" Euu... Sejujurnya aku sangat ketakutan dengan suasana rumah kalian tapi aku... " diselang.


" Benarkah?? Biar aku yang akan menunjukkan-Nya padamu ketakutan yang mengerikan. " ajaknya seraya merangkul lengannya.


Mereka