
Zuu berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari, Lee yang merasa kebingungan pun bertanya-tanya karena sorotan Zuu yang tidak mengacuhkan pertanyaan-Nya.
" Aku sedang bertanya padamu, " tegur ajar Lee.
Zuu mengambil sebuah kantung keresek dari dalam laci itu, ia menghampiri Lee dan duduk kembali. Zuu berkata.
" Aku selalu mendengarkan-Mu Kak, beri aku kesempatan untuk situasi yang sekarang. Berikan tanganmu. " suruhnya.
Lee yang jelas kebingungan bertanya.
" Tunggu, apa maksudnya?? Memberi kesempatan apa?? Untuk apa? Memang-Nya kenapa??" tanya Lee.
" Berapa banyak hal lagi yang ingin tanyakan padaku? " olok-olok Zuu.
" Terserah kau saja, memang apa pentingnya aku mengetahui semua tentang-Mu, aku sama sekali tidak memperdulikan-Nya. " gengsi.
" Yasudah, berikan tanganmu. " suruh Zuu kembali.
" Untuk apa? " tanya Lee.
" Beri aku kesempatan untuk menguji tangan ini. " ucapnya
" Hah?? " kebingungan.
" Berikan saja. " gesa Zuu mengulurkan tangan.
Ia pun menuruti keinginan-Nya itu dengan terheran-heran. Kemudian Zuu mengeluarkan beberapa alat pengobatan yang ia miliki, dan disini Lee makin terkejut-kejut akan tingkahnya. Zuu malah membantu meringankan luka-Nya bekas tadi siang itu.
" Amerta hanya menghisap darahmu saja kan? Berarti tidak ada salahnya jika aku berbuat seperti ini padamu. " tutur Zuu.
Tindakannya pun langsung membuat Lee tergaguk-gaguk.
" Euu... I...iya... " sahut Lee.
Zuu mengobati lukanya itu dengan sangat perlahan juga kelembutan batin. Ia juga meniup-niup tangan Lee.
merasa ingin menghibur juga menghidupkan senyum Lee Zuu mengolok-olok dengan cara memanjakannya.
" Ini pasti sangat bukan?? emm aku minta maaf baru bisa ku-lakukan sekarang. " belu-belainya.
" Aku tidak mengerti maksud-Mu " sahut Lee tak acuh.
Sontak Zuu merasa geli hati karena tingkahnya.
Setelah selesai diobati, pembicaraan Lee pun dilanjutkan.
" Jadi siapa orang-Nya. " tanya Lee.
Zuu menyahut dengan tergaguk-gaguk.
" Jay dia adalah ciuman pertama-Ku, tapi meski begitu sebenarnya kakak adalah orang pertama yang aku cium. " sahutnya rusuh hati.
" Sungguh? Eh maksud-Ku, apa peduli-Nya aku. " gengsi.
" euu...tapi aku seperti baru mendengar nama itu, siapa dia? " tanya Lee penasaran.
" Kau ingat penyebab aku bisa datang ke hotel di waktu itu? Karena Jay menyuruh-Ku kesana sehingga terjadilah masalah kita. " jawab Zuu.
" Oh jadi kau datang kesana itu bukan karena memang berniat menginap? Melainkan di perintahkan oleh temanmu itu? Karena sebab apa ia menyuruhmu begitu? " duga Lee.
" Bukan teman Kak, tapi dia adalah pacar-Ku, pacar pertama-Ku. Sejujurnya aku juga tidak mengerti mengapa ia menyuruh aku kesana, dia hanya mengatakan cepat datang ini penting, itu sebabnya aku turuti. " ucap Zuu.
" Lalu, apa dia sekarang sudah mengetahui keadaan-Mu?? Begitu pun juga kau apakah mengetahui dia ada dimana?? " Lee bertanya-tanya.
" Aku tidak tahu, sudah lama sekali aku tidak ingat dengan dia. Ini pertama kalinya lagi aku menyebut namanya karenamu. " sahut Zuu.
" Wah, hubungan kalian menggantung? " ujar Lee.
" Mmm... Benar. "
Lee pun semakin bertanya-tanya mengenai pacar Zuu itu.
" Aku tidak tahu itu, nomornya ada pada ponsel aku yang dulu, entah dia berusaha mengubungi-Ku lagi atau tidak. Pada biasanya Jay sendiri yang selalu datang ke rumah, aku tidak tahu tempat ia tinggal. " jawab Zuu.
Sontak Lee menggeleng-gelengkan kepala karena terheran-heran dengan hubungan-Nya Zuu.
" Hahaha... Ini pertama kalinya aku mendengar ada hubungan yang sepertimu. " ejeknya.
" Lagi pula apa pentingnya hubungan aku itu, dia juga sudah berbulan-bulan lamanya tak kunjung menengok-Ku. Siapapun manusia di muka bumi ini, pasti pernah mengalami apa yang sudah terjadi dan menduduki posisi-Ku yang sekarang benar kan Kak? " kata Zuu.
Seketika Lee terdiam juga termenung, Zuu yang merasa kebingungan pun langsung bertanya.
" ada apa?? Bagaimana tanggapan-Mu? Ada bukan? " tanya Zuu.
Lee tersadar.
" Hah?? Oh yah mungkin ada saja. " sahut Lee muram.
" euu... Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Zuu. " ucap Lee.
" Emm... Apa itu?? " penasaran.
" Euu... Bagaimana tanggapan-Mu jika Jay dikemudian waktu datang kembali? " tanyanya.
Zuu terjegil dan gagu dibuatnya, ia pun langsung melihat ke arah Lee.
" Euu... Jika dia kembali mungkin..., " sahut Zuu terhenti.
Tiba-tiba lampu kamar mereka berkedap-kedip tidak keruan, sontak perhatian mereka teralih panik terkejut-kejut.
" ada apa ini Kak? Kenapa lampunya bertingkah seperti ini?? " takutnya.
" Aku juga tidak tahu. " sahut Lee kebingungan.
Mendabak saja suara guntur terdengar jelas di telinga mereka, geluduk duarr!! Sehingga membuat Zuu ketakutan.
" Huaaa... Kenapa guruhnya keras sekali. " resahnya.
Lee pun langsung melihat ke arah jendela dan memutuskan untuk memeriksa keadaan di luar.
" Kau diam dulu disini, aku akan melihat cuaca di luar sekarang. " tuturnya.
Kemudian Lee berdiri dan berjalan menuju yang ditujunya. Saat di buka tirai jendela itu, sontak ia terkejut-kejut,
" ada apa ini? Kenapa cuacanya berubah menjadi buruk seketika. Menakutkan. " kejutnya gelisah.
Lee langsung melihat jam.
" ini pukul berapa? Wah!! Sudah pagi, tapi meski begitu ini sangat membingungkan kenapa ada cuaca buruk di waktu pagi hari. " Lee bertanya-tanya.
Ia pun menutup kembali tirai itu, dan menghampiri Zuu.
" euu... Sebaiknya cepat tidur saja, sudah jam 4 lebih. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Euu... Aku pergi sekarang, selamat ma... Euu... Selamat beristirahat. " pamit Lee tidak nyaman hati seraya menutup pintu.
Waktu terus berlalu, pagi pun tiba. Lee bangun membukakan matanya, ia menggeliat. Saat ingin meregangkan di bagian tangannya ke sebelah kanan, seketika ia terkejut-kejut juga terbeliak lebar karena melihat Zuu yang sudah berada di samping-Nya.
" Z...zuu??? " kejutnya.
Ia pun terbangun menguap seketika dan menggosok-gosokkan matanya lekas melihat ke arah Lee.
" Ada apa Kak? " tanya Zuu setengah sadar.
" A...apa yang kau lakukan disini?? dan sejak kapan?? " tergaguk-gaguk.
" Oh kau benar, sebenarnya malam tadi itu sangat mengganggu tidur-Ku, aku mencoba mencari tempat tidur yang aman dan nyaman untuk aku bisa tinggali, pada akhirnya tempat-Mu lah yang terpilih. " sahut Zuu.
Lee masih terpaku dengan apa yang telah terjadi. Zuu mengatakan kembali.
" sejujurnya saja aku masih belum puas tidur tapi pagi ini sungguh-sungguh keras sekali menyuruh-Ku untuk lekas bangun. Aku akan pergi mandi dan berangkat sekolah. " ucapnya kembali.
Lee hanya melihat dengan melongo. Kemudian Zuu pun berangkat. Di tengah perjalanan menuju sekolah Zuu terlihat seperti orang yang tengah tepekur meski dalam keadaan mengantuk. Siapa sangka ternyata Zuu juga memikirkan hal yang sama dengan Lee.
" bagaimana perkataan Kak Lee benar-benar terjadi?? apa yang harus aku lakukan?? " kebingungan merenung.
" bagaimana jika Jay kembali?? " gunyamnya gelisah.