Blue Love

Blue Love
Kelelawar Cantik



Malam tiba dan Zuu masih berkeliaran di Luar, ia makan sejenak di Kedai. Penjual itu bertanya kepada Zuu dengan keheranan.


" Kamu ini masih anak SMA bukan?? " tanya-Nya.


" Em... " Zuu mengangguk.


" Di malam hari seperti ini, kenapa kamu masih berkeliaran ditengah Jalan? Memakai seragam pula. Seperti-Nya orang tua-Mu sudah meninggal ya? Anak-anak nakal seperti ini yang berkeliaran di waktu malam, pada umumnya kekurangan kasih sayang dari orang tua mereka. Benar bukan? " cela-Nya.


Zuu masih menyibukan diri dengan makan.


" itu anak jika, seseorang bertanya itu di sahut. Sangat tidak sopan. " tegur-Nya.


" Ibu, lebih tidak sopan mana ketika seseorang bertanya dan dijawab dengan mulut dipenuhi makanan?? " tanya Zuu dengan makan.


" tunggu aku, sampai selesai menghabiskan ini semua. " ujar Zuu.


Sekian lama berdiam disitu Zuu kembali berjalan, iapun merasa kelelahan dan duduk sejenak kembali di sebuah Jembatan sambil merenung mengingat kejadian lepas bersama Lee, dimana mereka saling berdebat tentang siapa yang salah terjadinya pernikahan mereka. Zuu mulai merasa geli sendiri dengan tingkah-Nya Lee waktu itu.


" Haha... Jika, diingat-ingat itu sangat lucu. Huh... " tersengih dan menghela nafas.


" haha... Dia itu benar-benar tidak waras. Huh... " terkekeh.


Sontak Zuu mengingat dengan perkataan Penjual tadi yang mengatakan bahwa, orang tua Zuu sudah meninggal.


" bahkan, aku juga tidak mengetahui mereka itu masih hidup atau tidak. " Zuu berdesah.


Zuu pun mengeluarkan telepon-Nya untuk melihat jam, dan ternyata hari benar-benar sudah malam menunjukkan pukul 12 malam.


" uh... Bagaimana ini? Jarak dari sini menuju Hotel lumayan jauh. Aku berjalan bukannya semakin dekat, ini malah semakin jauh. Uh... " desah-Nya kembali.


Ia memutuskan untuk menelpon Min-ah. Aung... Aung... Ponsel Min-ah berdering. Min-ah tersadar dan melihat ponselnya.


" Siapa malam-malam begini menelpon? " dongkolnya dengan menggosok mata.


" ampun ini anak!! Kelelawar mungkin dia ini, ngak kira-kira emang. Apakah bestie selalu seperti ini everyone? " kesah-Nya.


Min-ah mengangkat telepon-Nya.


" ada apa gerangan memanggil hamba, ada yang perlu dibantu? Hamba selalu siap kapanpun dibutuhkan. " ujar Min-ah ditelpon dengan tersenyum nada menahan kesal.


" Haha... Aku sungguh tidak mengerti maksud-Mu? Haha... " Zuu terkekeh.


" Tertawa kau ini. Tidak waras kau ini? Seperti kelelawar saja mengganggu orang diwaktu tengah malam begini. " cela-Nya.


" Memang-Nya di Rumah-Mu banyak sekali kelelawar yang mengganggu, dan apakah kelelawar selalu mengganggu orang-orang ditengah malam begini? " tanya Zuu di dalam telpon.


" Bertanya lagi. Cepat katakan apa mau-Mu?! Jika tidak ada, aku akan menutup segera telepon-Nya. " tegas-Nya.


" Tunggu! Kau ini, belum juga aku berbicara. " selang Zuu.


" Cepat katakan! " gesa-Nya.


" Tolong jemput aku sekarang disini Min-ah, dan antar sampai ke Hotel. Aku akan mengirim keberadaannya dimana. " ujar Zuu.


" Haha... Lucu sekali itu wahai Ibu Negara, seorang Kapten pasti akan selalu menyuruh budak-budak nya untuk kesenangan hati, bukan begitu Gusti Ratu? " cela-Nya.


" Yang betul itu Ibu Negara, Kapten, atau Gusti Ratu? " tanya Zuu kembali.


" Omong kosong!! Hey Zuu jangan selalu bertingkah yang pada akhirnya merepotkan orang lain, Aku mohon itu padamu, mengertilah. " tegas-Nya.


Seketika Zuu tersedu-sedu dan meminta mohon kepada-Nya untuk membantu.


" Min-ah oh Min-ah, kaulah satu-satunya manusia seperti malaikat yang tiada memiliki sayap. Aku mohon dengan murah hati kepada-Mu untuk menolong-Ku segera disini " belai Zuu.


" Hey hey, yang seharusnya murah hati itu kau apa aku, saat ini kau saja dalam kesusahan!! Akulah yang akan menjadi orang bermurah hati tiada henti. " tegas-Nya Min-ah kembali.


" Ya... Ya terserah, euh... Ya maksud-Ku seperti itu. Aku mohon, cepat bantu aku. " gesa-Nya.


" Heh... Dimana keberadaan-Mu sekarang. " tanya Min-ah dengan menghela nafas.


" Aku akan mengirimnya. " sahut Zuu dan sigap menutup telpon-Nya.


" Masih untung mempunyai teman membebankan daripada menyesatkan. " desah-Nya sigap berdiri dari atas Kasur.


Min-ah pun pergi menuju tempat yang diarahkan Zuu. Ia pun menunggu kedatangan Min-ah, ditengah menunggu Zuu mulai merasa mengantuk dan menguap. Ia tertidur dengan posisi duduk menyenderkan kepalanya di tiang Jembatan. Ia meruyupkan matanya. Tiba-tiba,


" Aaaa... Tidak lagi!! " teriak dari Zuu.


Sigap Zuu terbangun, mendabak ada yang menarik kaki Zuu dengan keras dan kencang menuju bawah Jembatan. Zuu berusaha untuk menahan dan menaikkan dirinya ke Atas dengan berteriak minta tolong.


Dan akhirnya Min-ah datang langsung menarik tangan Zuu ke Atas.


" Kau ini benar-benar sudah tidak waras ya!! Hah?? Hey jika, memang ada masalah dengan suami-Mu atau dengan siapapun itu, jangan diakhiri dengan nyawa melayang. Kau kan bisa mencari jalan yang baik dan benar agar bisa masalah-Mu itu terselesaikan. Aku mohon akhiri dengan baik. " tegas Min-ah.


" Hey hey. Aku ini masih waras, aku masih menginginkan melihat matahari esok. Kau tahu? " bentak Zuu.


" L...lalu apa yang kau lakukan tadi?? " tanya Min-ah dengan gagap.


" Huh... Aku tidak tahu. Jika, aku beri tahu juga nanti akan dikatakan tidak waras kembali. " sahut Zuu dengan menghela nafas.


" Maksudmu itu?? " tanya Min-ah kembali.


" Sudahlah. Ini sudah tengah malam, mari pergi sekarang. " ajak Zuu dengan merangkul lengan Min-ah.


" Euh... Oke. " sahut Min-ah.


Mereka berdua pun masuk ke Dalam Mobil. Min-ah bertanya.


" Apa yang kau lakukan di malam hari begini, sehingga luntang-lantung di Jalanan, kau tidak takut akan adanya bahaya?? " tanya Min-ah dengan menegur.


" Siapa juga yang menginginkan kedatangan-Nya bahaya. " sahut Zuu dengan lesu.


" Hah?? Kau mengatakan apa!! " tanya Min-ah dengan terkejut.


" Euh... Tidak ada. " sahut Zuu.


" Uh... Kau ini benar-benar ahh... Entahlah. Kau bergaduh dengan Kak Lee? " tanya Min-ah sambil menyetir.


Zuu hanya terdiam sambil menatap lurus ke Arah Jalanan.


" hey... Aku bertanya! Kau bergaduh dengan suami-Mu?? " tanya Min-ah kembali.


" Aku juga tidak tahu, aku juga bingung. " sahut Zuu dengan lesu kembali.


" Ahhh... Kau ini " Min-ah mendongkol.


" Oh ya Min, aku mau bertanya. Memang-Nya ada ya? Manusia yang bekerja pulang pagi berangkat pagi? " tanya Zuu.


" Eumm... Kenapa bertanya seperti itu, tentu saja ada Zuu. Lalu, Ayah-Ku itu apa?? " sahut Min-ah.


" Oh. Kau benar. " Zuu tersadar.


" Ah... Aku tahu, kau bertingkah begini karena merasa rindu dengan Kak Lee bukan?? " ejek Min-ah.


Sontak itu membuat Zuu terkejut dan mengelak dengan gagap.


" R...rindu?? Haha... Menjijikkan, itu sungguh menjijikkan kau tahu. " elak-Nya.


" Mm... Benarkah? Lalu, siapa yang kau maksud pulang pagi berangkat pagi itu? " tanya Min-ah dengan mengejek.


" Hey hey. Aku menunggu-Nya itu..., " sahut Zuu terhenti.


Min-ah menyelang.


" Haha kau mengatakan apa?? Menunggu?? Haha... " ejek Min-ah kembali dengan terkekeh.


" Hey dengarkan dulu!! " bentak Zuu.


Tiba-tiba mereka hampir saja menabrak sebuah pohon karena kelalaian Min-ah. Zuu berteriak.


" Awas nabrak!! " lantangnya.


" Eh... " teriakan dari Min-ah dengan terkejut.


" Kau ini bagaimana ah, menyetir saja harus dengan tertawa. Kita itu sedang dalam Perjalanan bukan ditempat hiburan, sekali lengah nyawa menjadi setengah bahkan bisa saja menghilang tanpa kita duga. " tegur Zuu.


" Huh... Huh... Hah?? Nyawa setengah maksudnya? " Min-ah menghela nafas dengan lega.


" Tentu saja, seperti sekarang ini. Aku merasa nyawaku hampir hilang semua. " ujar Zuu dengan lega.


" Memangnya nyawa-Mu ada berapa? " tanya Min-ah.


" 1000. Kenapa bertanya?!! Cepat jalan, dengar apa yang aku katakan tadi sebelumnya, aku masih ingin melihat matahari esok. Mengerti?? " tegas Zuu.


... ...


...Love you all ❣️...