Blue Love

Blue Love
Mulut kotor



Amerta pun terkejut dan meminta maaf.


" Oh tidak Zuu aku minta maaf, sungguh! " paniknya.


Lee juga yang merasa panik langsung mengambil tisu untuk menyeka wajah Zuu. Seketika ia kembali marah karena Lee mengelap tisu itu hingga ke mulut sebab saking paniknya Lee.


" Hentikan, hentikan!! " bentak Zuu.


" Ada apa?? " Lee kebingungan.


" Apa yang kau lakukan hah??! Bagian yang kotor hanya berada di bagian mata-Ku saja! Kenapa menyeka sampai ke mulut juga!!? " tegur ajarnya.


" Aku minta maaf, aku hanya..., " keluhnya terhenti.


" Wah... Ternyata kalian begitu sangat dekat yah? Aku hampir cemburu. " selang Amerta terpukau.


Seketika mereka berdua terdiam dengan melihat ke arah Amerta. Zuu langsung mendorong Lee hingga jatuh.


" Ahh... Itu tidak benar, dia memang selalu bertingkah menjengkelkan seperti itu, kau bisa melihat-Nya bukan? " elak-Nya juga mengejek.


Lee sigap berdiri dan duduk kembali. Amerta pun berkata sembari juga ikut duduk di samping Lee.


" Zuu salah, itu bukan perlakuan menjengkelkan, tapi sebuah rasa kasih sayang-Nya sesama saudara, benar kan Kak? " tegur ajarnya sambil menatap pukau ke wajah Lee.


Tidak ada sahutan dari keduanya dan itu malah membuat Lee keresahan karena keberadaan juga perkataan-Nya. Amerta mengatakan kembali.


" oh itu benar, sudah lama sekali tak jumpa dengan Kak Lee! Kakak apa kabar?? " ujar-Nya kembali.


" Aku baik " sahut Lee rusuh hati.


Seketika Amerta bertanya-tanya karena timbulnya rasa penasaran terhadap Lee yang menghilang begitu saja.


" Sebenarnya Kakak ini kemana? Aku sangat sakit hati karena tidak ada balasan pesan ataupun telponan dari Kakak, apakah semuanya baik-baik saja? " tanya Amerta.


" Itu karena... Euu... " tergagu-gagu.


" Kak Lee tidak bisa menghubungi-Mu itu karena telepon genggam miliknya dijual sendiri. " selang Zuu seraya makan.


Amerta pun langsung terkejut dengan jawaban-Nya Zuu, ia semakin penasaran juga syok apa hal-Nya yang membuat Lee melakukan itu.


" Apa?! Tapi kenapa?? Ada masalah apa sehingga Kak Lee menjual teleponnya?? " kejut-Nya.


" Di pecat, itu kelengahannya sendiri dalam bekerja. Ahh dia memang ceroboh. " cacatnya.


Seketika mata Lee terbeliak karena tidak kepercayaan-Nya dengan ucapan Zuu, begitu pun juga Amerta yang tidak mengetahui posisi Lee sekarang.


" Apa itu benar Kak? Kamu diberhentikan bekerja? " tanyanya sedih hati.


Lee yang merasa tak menerima umpatan dari Zuu pun melawan sigap berdiri.


" Itu memang benar! Tapi apakah Amerta tahu alasan dibalik perkataannya tadi?? " ujar-Nya dengan tegas.


" Ada lagi?? " tanya Amerta penasaran.


" Ini mungkin tidak baik untuk diungkit kembali tapi sangat perlu juga kau ketahui Amerta, dia!! Hampir saja membunuh atasan-Ku dengan satu telanan, tanpa adanya sebab dia memukuli dengan sangat begitu sadis sehingga atasan-Ku merintih kesakitan, dan perlu juga kau tahu konyol-Nya dia beralasan karena penampilan seperti penjahat haha... Apakah itu bisa di sebut kewajaran manusiawi?? " cela-Nya kembali.


Seketika Zuu pun langsung berdiri dan ikut menangkis cercaan Lee.


" Dasar penjahat!! Sangat jelas sekali kau lengah dalam bekerja, jika memang benar begitu, bukankah seharusnya kau membela atasanmu hah?! Dikeluarkan-Nya kau dalam pekerjaan itu membuktikan bahwa kau memang berengsek saat bertugas? Ahh dasar pria bebal!! " caci maki-Nya.


Lee benar-benar terkejut-kejut dengan apa yang telah di utarakan Zuu. Karena saking kesal juga murka-Nya Lee, sehingga hampir saja bicara terus terang.


" Wah haha... Kau sunguh-sungguh is..., kau memang benar-benar saudara terburuk di dunia!! Apa maksud dari perkataan-Nya itu? Amerta bisa mendengar cara ia bercakap bukan? " ejek-Nya juga.


Amerta pun hanya mengamati cara Lee berbicara. Sontak Zuu langsung berdiri.


" Saudara terburuk?? Apa maksud-Mu? " bertanya-tanya murka.


" Tenang, tenang! Ini kenapa kalian malah saling mencaci maki satu sama lain?? Itu tidak baik. Jika memang kebenarannya begitu yasudah lupakan saja, berarti itu bukan jalan rezeki-Nya, apa yang perlu di ributkan?? Seharusnya untuk sekarang itu kakak cari jalan lain agar bisa mendapatkan posisi yang lebih baik dari sebelumnya. " tegur ajar Amerta menyelang.


" Itu benar!! Pria tidak berpikiran! " tegas Zuu.


" Zuu juga sebagai saudara tidak sepantasnya berkata-kata kasar kepada orang yang lebih dewasa dari kita, itu biadab. Bukankah seharusnya Zuu mendoakan yang baik untuk Kak Lee? " tegur ajarnya juga.


" Itu benar!! Ahh dasar wanita mengenal tata krama!! Anak siapa dia ini?? " tegasnya juga.


Setelah banyak berdebat mereka akhirnya duduk kembali dengan kesal juga berdesah. Amerta mengatakan kembali.


" lucu " gereget sembari melihat wajah Lee.


" Lucu?? " Lee kebingungan.


" Ini pertama kalinya Amerta melihat Kak Lee marah juga kesal begitu, ternyata sangat menggemaskan. " belu-belai.


Lee dibuat gagu tidak nyaman hati, sedangkan Zuu sedang berusaha mengendalikan amarah-Nya. Seketika Amerta teringat sesuatu.


" oh tidak!! " ujar-Nya sembari menepak kepala.


" Ada apa? " tanya Lee.


" Arun, niat aku ke sini itu hanya beli minuman, sekarang Arun pasti tengah menunggu. Aku akan kembali ke sini Zuu Kak. " sahutnya sembari bergegas beranjak berdiri.


Zuu dan Lee saling bertatapan penuh kekesalan.



" Pria genit. " cela-Nya kembali sambil menundukkan kepala dan makan.


" Apa?? Kau mengatakan aku apa? " terjegil.


Zuu tidak menyahut dan malah berpura-pura tak mendengar dengan menyibukkan dirinya makan.


" ******. " cacat Lee juga seraya makan.


Seketika Zuu tersedak matanya membeliak karena cacian Lee kembali, ia bertingkah kembali dengan memegang kerah-Nya.


" Kau mengatakan aku apa?? Apa kau tidak mengerti arti dari kata itu hah?? " murka Zuu.


" Apa?? Apa?? Tentu sekali itu adalah kalimat yang cocok untuk ditunjukkan kepada-Mu, kau ini seperti wanita yang tidak terpelihara oleh pemiliknya. " cacatnya.


Zuu langsung kesal dan merasa geli hati akan ucapan yang di keluarkan Lee, ia pun menangkisnya.


" Haha... Itu konyol sekali, memang benar. Sejujurnya saja aku yang sekarang seperti manusia yang tidak terpelihara oleh pemilik-Nya, yaitu kau. " ujar Zuu menatap tajam Lee.


Lee kebingungan dengan perkataannya.


" ada apa? Hey Lee su!! Bukankah kau juga mengetahui sifat asli-Ku sebelum bertemu denganmu, aku yakin kau pasti tahu. Aaarrggh... Apa mungkin sebenarnya aku ini sudah terkena virus hitam darimu yah? " sindir Zuu mengolok-olok.


Lee benar-benar tergagu-gagu harus berkata apa tapi dalam hatinya sungguh-sungguh dongkol kepada Zuu, ia berusaha berdesah.


" kenapa hanya diam saja? Haha... Itu benar bukan? " ujar-Nya.


Lee melawan celaan Zuu tapi dengan cara mengalihkan pembicaraan.


" Hey istri mana yang berani membentak-bentak apalagi mencaci maki seperti itu, jelas sekali aku mengatakan kau itu ******. " tangkisnya tergagap-gagap.


Zuu merasa hendak ketawa juga kesal karena alihan pembicaraan-Nya Lee. Tiba-tiba,


" Istri siapa memangnya itu? " tanya Amerta.


Tanpa di duga Arun dan Amerta tiba di sana secara mendabak, wajah dari mereka menampakkan kebingungan juga bertanya-tanya dengan ucapan Lee baru saja.