Blue Love

Blue Love
AKU TIDAK MENYUKAI INI!



Lee menyendengkan kepalanya ke Pundak Zuu.


" Zuu aku pusing, kepala-Ku seperti berputar kencang. " rintihnya.


" Apa Kau baik-baik saja Kak? " gugup.


" Aku akan baik-baik saja, sungguh " sahutnya.


Zuu hanya terdiam dengan kebingungan juga panik.


" Ini sebenarnya, aku dipanggil kemari untuk melihat keromantisan kalian atau apa?! " tanya tukang pijat.


" Ah... Maafkan aku Bu, mungkin Dia salah menyebutkan rasa sakitnya. Sehingga aku jadi keliru. Maafkan aku "


" Yasudah kalo begitu, bayar untuk aku datang kemari. " ujar tukang pijat itu kembali.


" Hah!! Bayar? " terkejut dengan ternganga.


" Tentu saja, memangnya aku kemari hanya untuk memijatmu saja. Hey untuk datang kemari itu tenaga harus diperlukan. " beleternya.


" Iya tentu saja " sahutnya.


Zuu pun membayar dan tukang pijat itu pergi dengan senang hati. Zuu bertanya kembali kepada Lee.


" Hey, Kau baik-baik saja. Sebenernya Kau ini terkena penyakit apa, aku sungguh tidak mengerti. Tadi Kau berkata sakit punggung dan sekarang pusing kepala, jadi sebenarnya apa yang Kau rasakan? " bingungnya.


" Tadi aku merasa sakit punggung dan sekarang juga, setelah meminum ramuan darimu aku merasa pusing, apakah ini efeknya? " belainya.


" Benarkah? Ah... Aku benar-benar minta maaf, mungkin aku salah memasukkan sesuatu. Ini sangat tidak bagus, sebaiknya Kau istirahatkan saja kembali. Aku akan memanggil seorang Dokter untuk datang kemari. " sahutnya.


Zuu pun menidurkan Lee menggandengkan lengannya dengan perlahan.


" Aku harap Kau baik-baik saja. " ujar Zuu.


Zuu keluar dari Hotel dan memanggil seorang Dokter, Lee pun diperiksa dan diberi obat yang harus diminumya.


" Tolong jaga Dia dengan baik " konsultasi Dokter.


" Iya. Terima kasih banyak. " sahutnya.


" Tapi, siapa Pria ini? Apakah Dia Kakakmu, atau Ayahmu? " tanya Dokter.


" Suamiku Dokter. " sahutnya kembali.


Seketika Dokter itu terkejut dan ternganga.


" Apa!!? Apa itu benar? " melotot.


" Tentu saja. " jawabnya.


" Aku sangat iri, ini sulit dipercaya. Padahal, Dia cantik juga manis, apa benar ini kenyataannya. " gumam Dokter.


Dokter itupun pergi. Malam tiba, Zuu membawa sebuah makanan untuknya dari Bawah dan duduk di sebuah Kursi.


" Ini sangat bagus, wah aromanya sangat menggugah selera. Hey ini milikku,jangan pernah Kau berani mengambilkan. " tegur Zuu.


Tidak ada sahutan dari Lee, itu sangat membuat Zuu merasa sendiri.


" Hey ini milikku, apakah Kau mau mencobanya " belainya.


Zuu merasa sedih dan berteriak.


" Kau belum matikan!? Kenapa bicara-Ku tidak Kau sahut!!? " dongkolnya.


" Ah apa yang kulakukan, kenapa aku malah berteriak begitu sudah tahu Dia sedang sakit, apakah aku ini tidak waras!! Aku ini sangat menyebalkan, aku ini sangat menyebalkan, aku ini sangat menyebalkan!!... Kenapa momen seperti ini sangat menyebalkan!! " gumamnya.


" Aku tidak menyukai ini, sungguh... Ini membuatku tidak ingin makan banyak. Aku tidak menyukai ini... Aku tidak menyukai ini... " gumam Zuu.


Pagi tiba, Zuu bangun dengan posisi duduk. Ia menoleh ke Belakang untuk melihat Lee, ia terkejut karena Lee tidak berada di Tempat tidurnya. Zuu sigap berdiri dan mencarinya.


" Kak... Kak... Kak Kau dimana? " lantangnya.


Zuu terus mencari dan Lee masuk dari Pintu Kamar dengan membawakan sebuah sarapan ditangannya.


" Hey... Apa yang sedang Kau cari? " tanyanya.


Zuu langsung memukul bahunya.


" Hey darimana saja Kau ini hah!!? " bentaknya.


" Eh... Kau ini kenapa? Hampir saja sarapannya jatuh. Ini cepat makan, jika tidak aku yang akan memakannya. " kesuh-kesih.


Zuu duduk dan bertanya.


" Kau tidak apa-apa? Apa sakitnya masih terasa? " gugup.


" Aku merasa lebih baik karena tidurku yang pulas juga nyaman. " sahutnya.


" Oh baguslah, eh tunggu. Apa maksudmu kemarin juga kemarin itu Kau tidur dengan tersiksa begitu? "


" Ah tidak, ukhuk... Maksud-Ku bukan begitu sungguh. " kesuh-kesihnya.


Zuu terdiam dengan cemberut.


" Tentu saja. " sahutnya.


Selesai sarapan Zuu langsung pergi mandi, dan Lee menunggu. Keluar sudah Lee bertanya dengan keheranan.


" Kenapa tidak memakai seragam Sekolah? Biasanya Kau langsung memakainya. " tanya Lee.


" Ah itu, sepertinya aku tidak akan masuk lagi ke Dunia Sekolah. " sahutnya.


" Haha... Ukhuk... Apa maksud-Mu? " tertawa.


" Hey kenapa Kau malah tertawa hah!! Saat ini hatiku sedang sedih bagaimana bisa Kau tersenyum bahagia seperti itu.!! " dongkolnya.


" Aku tertawa karena melihat ekpresi-Mu Zuu... Haha... Itu sangat lucu, sungguh aku tidak berbohong. " cengar-cengir.


Zuu merasa kesal dengan ucapan Lee.


" Aku sungguh tidak menyukai itu " lesunya.


Lee duduk disebelah Zuu dengan mengatakan.


" Mau ku-Pindahkan Sekolah? " tersenyum.


Zuu menoleh ke Arah Lee dengan terkejut.


" Benarkah? Apa boleh? " tanya Zuu.


" Tentu saja, sebaiknya Kau tetap bersiap saja, seperti biasanya berangkat Sekolah. Mungkin ini akan berbeda dari Sekolah-Mu yang dulu. " sahutnya.


Zuu sigap bersiap begitu pun juga Lee, saat tengah memakai sepatu Zuu termangu.


" Hey Kau sudah siap? " tanya Lee.


" Aku berubah pikiran " sahutnya.


Zuu melepaskan kembali sepatu dari Kakinya.


" Kenapa dilepas kembali? Jangan bermain-main ini akan terlambat jika, Kau begitu Zuu. " tegur Lee.


" Aku merubah pikiran-Ku dan tidak akan pergi ke Sekolah kembali. " sahutnya.


" Hey ada apa dengan-Mu, apakah Kau bercanda? " cengar-cengir.


" Aku tidak bercanda Kak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi nanti jika, aku memulai kembali ke Sekolah yang baru, apa tanggapan mereka dan aku sangat takut untuk mengambil risikonya. Itu sangat menjengkelkan. Apakah itu akan baik untukku atau tidak. " sahutnya.


Lee jongkok dan berhadapan dengan Zuu.


" Hey Nyonya. Hidup ini tidak akan berarti jika, Zuu ragu dalam mengambil risiko. " tegur Lee.


Zuu terus menatap Lee.


" Kita memang manusia yang tidak bisa sempurna. Tapi, bukan berarti jadi alasan untuk enggan berusaha. " konsultasinya.


" Heh... " menghela nafas.


" Ada apa? Kau tidak percaya itu? Aku merasakan ketakutan dan kecanggunganmu. Jadi, ayo kita selesaikan. "


Lee menarik tangan Zuu dan menggandengnya.


Sampainya di Sekolah Lee mengatakan.


" Mmm... Kau diam saja disini, aku akan masuk terlebih dahulu. " ujarnya.


" Iya. " sahutnya.


Setelah lama menunggu akhirnya Lee kembali.


" Segera masuk ke Kelas sekarang, aku akan pergi dulu ke Sekolah-Mu untuk mengambil surat-surat pindahnya. "


" Apa! Jika Kau mengambil ke Sekolah-Ku, apakah tidak akan terjadi sesuatu menimpamu? " tanyanya.


" Sudah. Masuk saja... " tegasnya.


" Baiklah "


Zuu keluar dari Mobil dan masuk menuju Sekolah. Lee menahan sebentar.


" Euh... Ini, siapa tahu Kau membutuhkan makanan tambahan jadi, simpan ini. "


" Tapi, Kau sudah memberikan-Ku uang, apa harus juga aku memakan ini? " tanya Zuu.


" Ambil saja, aku juga mengerti akan perutmu itu. " sahut Lee kembali.


Zuu kesal dan menendang kakinya Lee.


" Ishh... Berhenti berkata seperti itu, tanpa penjelasan darimu juga aku mengerti sendiri. Sudah pergi sana!! " lantangnya.


...Aku melihatmu <_<😍...


...Tetap perlihatkan jejakmu 👣💕💙...