Blue Love

Blue Love
Gundah gulana Faiz



Zuu langsung menutup telpon dan menyimpan-Nya seraya berkata.


" sebaiknya... aku menghubungi-Nya menggunakan telepon genggam-Ku saja Pak, mohon tunggu sebentar. " Ujarnya tersengeh malu.


Zuu pun keluar untuk mencoba berbicara kembali terhadap Lee, tapi saat Zuu menelpon dan terus menunggu karena Lee tidak mengangkat-Nya.


" ahh!! Dia ini kemana?? Kenapa tidak dijawab!! Ahh bagaimana ini?! " gumamnya kesal juga panik.


Zuu berusaha untuk terus menelepon kembali tapi tetap saja tidak diangkat oleh Lee. Karena hal itu sungguh membuat Zuu tambah gelisah juga takut. Pada akhirnya ia pun kembali masuk menghampiri Kepala Sekolah dan duduk di kursi.


" Sudah? " tanya Kepala Sekolah.


Sontak Zuu panik dan menjawabnya dengan rusuh hati.


" Mungkin sedang dalam perjalanan. " sahut Zuu.


" Kenapa memakai kata mungkin?? Kamu sudah menghubunginya kembali dengan benar bukan? " tanya Kepala Sekolah itu kebingungan.


Zuu dibuat gagu karena-Nya.


" Euu... Iya itu maksudnya... Euu... " tergagap-gagap.


Faiz pun berusaha membantu Zuu.


" Dia pasti akan datang setelah dihubungi. Bapak tenang saja. " selang Faiz.


Seketika Zuu langsung melihat ke wajahnya Faiz dengan tercengang bengang. Kepala Sekolah menyindir Zuu karena perkataan-Nya tadi. Ia berdeham.


" Ehemm... Sebaiknya Zuu ini perhatikan ketika berbicara, berkata-kata kasar kepada orang yang lebih tua dari kita bukankah itu tidak beradab? Benar Zuu?? " cela-Nya melihat langsung ke mata-Nya Zuu.


Sigap ia pun menyahut beresah-resah.


" Iya Pak, itu benar. " sahutnya.


Kepala Sekolah itu pun mendekatkan dirinya dengan membisik di telinga Zuu.


" Apalagi orang itu adalah suami kita sendiri? " bisiknya.


Seketika mata Zuu terjegil karena terkejut-kejut akan ucapan Kepala Sekolah itu.


Lama menunggu akhirnya Ayah dari Faiz pun telah tiba dan langsung duduk, sedangkan Lee belum kunjung-kunjung datang.


" Sebenarnya ada apa ini Pak? Apakah putra saya melakukan kesalahan? Atau bagaimana? " tanya Ayahnya itu kebingungan.


" Harap bertenang, kami masih menunggu dari pi..., " bicara-Nya terhenti.


Tiba-tiba Lee tiba dengan membawa sekantung keresek di tangannya. Zuu langsung bernapas lega, akhirnya dia datang. Lee duduk bersebelahan dengan Zuu, dan Kepala Sekolah pun memulai pembicaraannya.


" begini alasan saya memanggil kalian berdua begitu pun juga wakil keluarganya, sebenarnya ada salah satu peraturan Sekolah kami yang telah disangkal oleh mereka berdua. " menjelaskan.


Seketika mereka semua terkejut dan bertanya-tanya.


" Memangnya apa yang telah dibangkang oleh mereka Pak?? " tanya Ayahnya Faiz.


" Sekolah sudah sejak lama menerapkan peraturan kepada semua siswa berlaku untuk tidak memiliki hubungan khusus terhadap lawan jenis-Nya, kami sangat melarang siapapun berpacaran murid kepada murid lainnya, itu karena agar belajar mereka bernilai baik juga bagus. " tegur ajarnya.


Zuu, Faiz begitu pun ayahnya terkejut-kejut dan panik tetapi beda lain halnya dengan Lee, ia malah terasa geli hati setelah mendapatkan penjelasan dari Kepala Sekolah itu, Zuu yang melihat tanggapannya pun mulai kesal.


" Benarkah begitu?? " tanya Ayahnya.


" lalu sebagai gantinya apa yang harus mereka perbuat? Apa Bapak akan mengeluarkan mereka? " tanyanya kembali.


" Bisa jadi. Bahkan kami jamin siapapun setelah keluar dari Sekolah ini karena tercatat hal buruk akan kesulitan untuk masuk ke Sekolah lain. " ancamannya.


Perkataan itu lebih mengejutkan dari sebelumnya, Zuu meronta-ronta agar tidak dikeluarkan.


" Apa?? Ahh tidak-tidak aku tak ingin dikeluarkan dari sini Pak, saya mohon. " berkeluh.


Ayah Faiz yang tidak menerima ucapannya pun berkata.


" Maksud Bapak mengatakan hal itu apa?? " bertanya-tanya.


" Hal ini sangat wajar kami lakukan di Sekolah ini untuk lebih memperbaiki mereka yang bersifat nakal. " tangkis-Nya.


" Sebagai gantinya apa itu? " tanya Ayahnya Faiz mendesah.


" 2 cara untuk menghapusnya itu ada di tangan mereka sendiri yaitu, pilih salah satu dari pintu ini. Kalian lebih memilih untuk dikeluarkan dari Sekolah atau memutuskan untuk tidak berhubungan khusus kembali? " sahut-Nya.


Sontak itu mengejutkan mereka terutama bagi Faiz, tapi tidak untuk Lee yang dari tadi terus menahan tawa karena situasi ini.


" Tidak ada pintu yang lain? " tanya Ayah Faiz.


" Tapi bagaimana bisa kalian melakukan itu? Jika peraturan memang tidak memperbolehkan mereka untuk berpacaran di Sekolah apa setidaknya di luar sekolah juga salah? " kritik Ayah Faiz.


" Selama status mereka masih menjadi murid kami tentu itu akan menjadi masalah. " sahutnya.


Ayah Faiz yang berusaha memenangkan-Nya kebingungan harus berbuat apa lagi.


" dan jika keputusan sudah ditentukan segera katakan. " ujarnya kembali.


Faiz benar-benar kebingungan harus berbuat apa seraya terus melihat Zuu.


" jika keputusan-Nya ialah lebih baik berhenti untuk berhubungan katakan sekarang di hadapan kami, saya akan menghitung hingga 10, belum ada jawaban dari salah satunya berarti memutuskan untuk keluar. " peringatan-Nya.


Dan itu malah membuat Faiz semakin keresahan begitu pun juga Zuu yang di kelilingi kebingungan harus mengatakan apa, tapi ia juga tak ingin keluar kembali dari Sekolah, itu sangat membuatnya takut.


Guru pun mulai menghitung.


" 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, " tegasnya.


Zuu menutup matanya dengan ketakutan.


" 9, " hitungnya.


" Zuu. " panggil Faiz.


Di hitungan ke 9 akhirnya ia angkat bicara dengan wajah dipenuhi air mata bergenang, sontak mereka yang hadir sigap melihat ke arah Faiz.


" aku sangat bahagia sekali bisa berkenalan dengan-Mu, maaf sekali aku selalu membuat-Mu kesulitan, tapi sejujurnya saja aku sangat mencintaimu. " erangan-Nya.


" Kata-kata terakhir seperti apa itu?? Berapa lama mereka berpacaran?? Tidak mempunyai kenangan banyak kah?? Membosankan. " gunyam Lee mencela.


Faiz menarik napas dalam-dalam dan berurailah air matanya, sebelum mengatakan ini tangan Faiz sangat bergemetar.


" mari kita usai saja hubungan ini? " gundah gulana-Nya.


Zuu yang melihat benar-benar ikut teriba-iba, sebenarnya ia juga tak ingin seperti ini tapi situasi sungguh-sungguh mencekam dirinya. Ia pun juga angkat bicara dengan tergagap-gagap.


" A...aku pasti akan sangat menyesali setelah mengeluarkan kata-kata ini padamu Faiz. " sahutnya juga bergenang air mata.


" baiklah, mari kita jalani kehidupan masing-masing. " sahutnya kembali.


Seketika Faiz langsung melihat ke wajahnya Zuu tergagu-gagu, ia sungguh gundah gulana karena tidak mempercayai ucapan Zuu baru saja, berbeda dengan Lee setelah ada sahutan itu ia malah terbahak-bahak, Zuu yang melihat tingkahnya itu merasa malu, segeralah diseret oleh Zuu keluar dengan kesal.


" kau ini sangat menjengkelkan yah!!? Apa kau tidak bisa menanggapi sesuatu itu cocok dengan situasinya?! " murka-Nya.


" Haha... Aku minta maaf Zuu, ekspresi kalian sungguh membuat-Ku geli hati tanpa berhenti. " sahutnya juga tertawa.


Marah Zuu meledak-ledak.


" He!! Berhenti tertawa!! Dasar pria berengsek tak mempunyai adab!! Mati saja sana!! " cacatnya membentak.


Seketika itu langsung menghentikan tawa-Nya Lee. Ia melawan celaan-Nya.


" Kau mengatakan aku apa?? Wah sulit di percaya kata itu berani keluar kembali dari mulutmu bahkan kau juga menyumpahi suami-Mu sen..., " tangkis Lee terhenti.


Dengan lekas Zuu membungkam mulutnya Lee.


" Jangan pernah katakan itu di sini!!! Kau ini benar-benar penjahat yah!! " cela Zuu kembali.


" Apa maksud-Mu!! Yang sekarang penjahat itu kau!! Bersikaplah lebih sopan terhadap-Ku. " tegur ajarnya.


" Diam kau!! Jangan berpura-pura tidak tahu, he!! Aku peringatkan secara tegas padamu Lee su!! Perhatikan mulut-Mu dengan baik juga benar!! Ka..., " terhenti.


Lee langsung menyelip ucapannya Zuu.


" Baik benar apa hah!!? Kau adalah orang yang tak tahu kata berterima kasih? Lihatlah, aku selalu menjaga baik namamu apa kau pernah mendengar saat aku mengubar-ubar aib jelek-Mu?? Tidak kan? Sungguh aku telah berbuat baik pada..., " ujar Lee terhenti.


Mereka saling menyelang pembicaraan.


" Baik apa maksud-Mu hah!! Guru tahu aku adalah istrimu itu bisa kau katakan kebaikan. " cekamannya.


" Oh... Euu... Ahh tentu saja itu sebuah kebaikan." gagap-Nya beresah-resah.


" Ahh kau ini!! " jengkelnya.


" Tapi perlu kau tahu Zuu aku sangat menyukai ketika kau mengatakan istrimu hahaha... Seakan-akan aku ini... " besar hatinya terhenti kembali.


" Diam kau!! " bentak-Nya.


Lama berdebat, kemudian Faiz keluar dari dalam ruangan guru. Mereka saling bertatapan.