
Saat ditengah berjalan, Zuu berhenti sejenak dan duduk disisi Jalan Raya. Lee juga ikut berhenti.
" Hey Kau!! Kenapa Kau malah mengikuti-Ku!? Pulang sana, Rapat sudah selesai. Kau bisa istirahat dengan tenang. " tanya Zuu, bentak.
Zuu juga menyalahkan Lee atas semua perkara yang telah terjadi.
" Kau bilang apa!! Hey celetuk! Jika saja Kau tidak sembarangan masuk ke Kamar seseorang. Mungkin, semua dari awal sampai akhir kejadian mengerikan ini tidak akan pernah terjadi!! Kau mengerti! " membentak dengan lantang.
" Hey! Kau berbicara seperti ini semua salah-Ku, memangnya Kau tidak bersalah dalam hal ini hah!! " bentak Zuu kembali.
" Tentu saja tidak. " jawabnya.
" Seharusnya di suasana tercengang, memanasnya badan, begitu-Pun juga hati, Kau itu sedikit saja membela-Ku, tidak-tidak bukan aku, setidaknya membela dirimu sendiri!! Ini apa...?! Kau hanya diam saja! Seperti Anak yang melihat domba diadukan, celengok sana, celengok sini. " melotot.
Dengan terkejut juga ternganga Lee membentak Zuu kembali.
" Memangnya Kau membela disituasi tadi!??? Dengar! Mana ada orang yang percaya dengan ekpresi-Mu saat membela diri seperti tadi! Sangat aneh!! Seharusnya Kau lebih mendalami dengan hati yang dirasakan sebenarnya. Ini mana ada? " AKU TIDAK BERSALAH....AKU TIDAK BERSALAH" ekpresi macam apa itu?!." lantang Lee.
Zuu mematahkan pembicaraan Lee sambil memegang kerah baju Lee.
" Lalu, maksud-Mu apa?! Aku harus menggunakan ekpresi seperti apa? Yang Kau maksud hah!? Menangis dengan lantang, berlarian, berteriak, melompat dari tebing seperti orang gila . Setelah nyawa-Ku tiada, baru mereka akan percaya? Jadi Kau menginginkan aku mati hah!? " bentak Zuu kembali. Dengan seketika Zuu menatap Lee dan tersedu-sedu dan menangis tanpa air mata.
" Aku sangat sedih, kenapa Ibu-Ku sama sekali tidak mempercayai putrinya sendiri. Bahkan, dengan teganya Dia mengatakan bahwa Aku ini adalah seorang wanita yang kotor. Apakah Kau tahu? Hati-Ku sungguh sangat sakit!! Hiks... He... " tersedu-sedu.
" Lihatlah ekpresinya itu, Dia benar-benar tidak pandai dalam mengekspresikan apapun. " gumam Lee.
Lee-Pun mengatakan dengan lembut.
" Seharusnya Kau itu bersyukur " ujarnya.
Zuu terkejut dengan apa yang dikatakan Lee barusan.
" Hah!? Bersyukur? Sekarang apa lagi yang dimaksud olehmu hah!? " membentak.
" Perlahan saja bicaranya. Jangan membuat-Ku terkejut. Dengar Ibumu itu sayang padamu Dia mengatakan dirimu kotor karena mungkin, menurut dia bahwa Kau benar-benar melakukan hal itu, kenapa Dia menyuruhmu pergi. Mungkin itu juga demi kebaikanmu. Berfikir positif saja. Mana mungkin seorang Ibu melakukan hal keji kepada anaknya sendiri. Aku yakin Ibumu mempunyai alasan tertentu. Sekarang lihatlah diriku, tidak ada satupun keluarga-Ku yang datang menemuiku, disaat aku memerlukan mereka. Huh... Sangat berbeda dengan Kehidupanmu. " mengeluh dengan tersenyum.
Tangis Zuu terhenti dan bertanya lagi kepada Lee dengan perlahan dan lembut.
" Kau benar. Mmm... Lalu mengapa tidak ada satupun Ibumu, atau Ayahmu yang datang saat Kau memanggilnya?. "
" Entahlah. " mendongak.
Kruyuk... Kruyuk...
Mendabak perut Zuu berbunyi. Lee langsung memberikan sebungkus biskuit. Dengan spontan Zuu langsung memakannya. Dan berkata sambil makan.
" Apa tidak ada lagi? Ini terlalu kecil dan isinya juga sedikit " bertanya.
" Tidak ada. " jawabnya.
Tiba-tiba, hujan turun dengan lebat, Zuu juga Lee berlarian dan meneduhkan diri. Setelah lama meneduh, Zuu mulai mengantuk. Lee bertanya dan menawarkan tempat penginapan.
" Jadi, bagaimana? Mau tidur disini apa ditempat Penginapan?."
" Apa maksudmu?! Tidak-tidak, tidak perlu. " tergagap.
Tubuh Zuu menggigil kedinginan dan wajahnya pucat. Lee langsung membawa Zuu ke tempat penginapan disekitar sana. Awalnya, Zuu menolak tetapi Lee memaksa dan akhirnya-Pun sampai di Hotel. Lee memesan Kamar untuk Zuu dan juga untuk dirinya. Tetapi,
" Mbak, pesan 2 Kamar untuk malam ini. "
" Mohon maaf Pak. Tetapi Kamarnya saat ini sudah penuh. Kemungkinan, satu Kamar kosong minggu depan Pak, maafkan Kami. " jawab pekerja Hotel.
Lee merasa kebingungan, tetapi disaat ini ia sangat mengkhawatirkan keadaan Zuu, yang demikian wajahnya memucat, dan tubuhnya menggigil kedinginan. Lee menanyakan kembali.
" Setidaknya 1 Kamar? " memohon.
" Mungkin, untuk 1 Kamar ada. Tetapi fasilitasnya kurang memungkinkan membuat Anda nyaman Pak " jawabnya.
Akhirnya Lee memutuskan untuk tetap tinggal di Hotel itu. Lee membawa Zuu untuk masuk ke Kamarnya. Seorang pelayan membawa sebuah Makanan, susu hangat, dan juga Obat masuk angin yang diminta oleh Lee. Selesai makan juga minum obat, Zuu langsung tidur dengan sendirinya.
Pagi-Pun tiba. Zuu bangun dan membukakan matanya, alangkah terkejut Zuu melihat Lee berada disampingnya dengan pas berhadapan dengan mukanya. Zuu spontan memukul wajah Lee, dengan tenangnya tidur Lee terbangun juga terkejut, dan akhirnya jatuh dari ranjang ke lantai . Brukk...
" Wajah-Ku! Ah sakit... Kau!! Kau sudah tidak waras hah!? Kenapa Kau memukul wajah-Ku??! Sedang tidur pula!? " bentak.
Zuu mendekati wajah Lee sambil memegang kerah bajunya.
" Hey, kenapa Kau bertanya kembali? Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa Kau dari semalam disini?. " melotot.
" Eh, tidak... Eh, iya. Maksud-Ku iya. Aku dari semalam terus melek dan menjaga Kau, itu sebabnya aku berada disini. Memangnya kenapa? Lagi pula tidak apa-apakan jika, kita se-Kamar. seorang suami istri se-Kamar itu hal yang wajar. " gagap.
" Kau!?..., (terhenti)
Omongan Zuu terhenti karena secara tiba-tiba
Terdengar bunyi ketukan pintu. Zuu membukakan pintunya. Ternyata itu adalah seorang penginap Hotel yang berada disebelahnya.
" Ada apa ini, kenapa sangat bising sekali didalam?! Jika, memang ada masalah tolong diselesaikan dengan ketenangan juga adab yang baik. Jangan sampai orang lain merasa terganggu dengan perdebatan kalian! " bentak.
Zuu meminta maaf atas keributan yang berasal dari dalam Kamarnya. Zuu masuk kembali. Dan bertanya kembali kepada Lee.
" Kau sungguh tidak melakukan apapun kan? "
" Tidak. " jawab Lee.
Zuu merasa tenang dan lega. Iapun bersiap pergi ke Sekolah, dengan memakai seragam olahraga, bekas yang ia kenakan kemarin di Sekolah. Saat tiba di Sekolah, Zuu bertemu dengan Minah.
" Zuu, mana Buku Novel yang mau Kau sarankan padaku? Minggu lepas, akan Kau berikan dihari Sabtu depan. Berarti sekarang? " tanya min-ah.
Zuu terkejut dan bergumam dl hati.
" Ah, tidak. Aku melupakan itu, bagaimana bisa aku mengambil buku Novel itu? Sedangkan Ummah sudah tidak mau bertemu dengan-Ku lagi "
" mmm... mungkin, aku akan berkunjung ke Rumah-Mu malam ini, dan juga memberikan Novelnya. " jawab Zuu.
Saat tengah belajar perut Zuu bunyi. Kruokk... Kryukk...
" duh... Perutku sakit, ah lapar!! " gumam Zuu.
Istirahat tiba. Min-ah mengajak Zuu untuk pergi beristirahat bersama. Tapi, Zuu menolak karena ia tidak membawa uang sepeserpun. Min-ah bertanya kebingungan.
" Ah... Tumben sekali hari ini Kau tidak ingin keluar dari kelas? Mmm cepat katakan padaku, dengan sebab apa Kau memutuskan itu? Biasanya Kau yang paling rusuh saat jam istirahat tiba? "
" Mmm... Itu karena aku..., " kebingungan.
Omongan Zuu terpotong karena mendabak Megan datang dari arah luar kelas kemari, dengan tergesa-gesa memanggil-manggil Zuu. Setiba dihadapan Zuu Megan menjelaskan dengan terengah-engah.
" Zuu!! Itu... Ada seorang Pria yang mencarimu di luar, dan saat aku bertanya seperti ini. "APA KAMU KAKAKNYA ZUU? dan Dia mengatakan. " BUKAN, SAYA SUAMINYA. " Aku sangat tidak mempercayai itu semua, dan Dia terus mengatakan bahwa Kau adalah istrinya. Hey! Jelaskan yang sebenarnya, apakah ini sebuah lelucon? "
Zuu sangat terkejut dan malu, iapun pergi menghampiri Lee. Min-ah juga Megan mengikuti Zuu. Saat tengah mencari suaminya itu, Lee sedang berbicara dihimpit 2 orang Wanita disampingnya, Zuu merasa jijik melihatnya. Iapun langsung memegang kerah bajunya Lee dan membawanya keluar dari Sekolah. Lee-Pun marah dan bertanya-tanya.
" Ah. Dasar Kau ini sangat tidak sopan, apa yang telah dilakukan oleh Wanita ini " tersengeh karena marah.
Zuu juga merasa marah dan malu dengan kedatangan Lee.
" Diam Kau!! Aku yang seharusnya bertanya. Sedang apa Kau datang kemari!! Apa Kau sedang merusak nama baik-Ku hah! Apa saja yang Kau katakan kepada mereka hah?! Hey tolong hormati Wanita ini. Dengar aku masih seorang pelajar dan aku masih membutuhkan seorang teman, hey kenapa Kau mengatakan kepada mereka bahwa Kau adalah suami-Ku? Apa Kau sudah tidak waras! " Bentak Zuu
Lee tersengeh juga memanas dengan situasi ini.
" Apa ini!? Aku hanya mengatakan dengan kejujuran, apa salah? Memang apa salahnya! Dimana kesalahan-Ku" tanya Lee.
Zuu menjabak rambut Lee dengan mengatakan.
" Apa Kau mau mati hah!! Kenapa Kau malah bertanya seperti itu padaku, apa Kau berpura-pura tidak tahu!! " bentak Zuu.
Lee meminta maaf dengan kesakitan.
" Ah. Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu"
Lee terus maju karena menghindari serangan dari Zuu, saat terus maju Zuu tidak sengaja terpeleset karena menginjak kerikil di jalanan. Dan Leepun jatuh ke pangkuan Zuu.