Blue Love

Blue Love
crazy king



" Halo permisi Pak. " sapa Lee seraya memegang erat tangan Zuu.


Pekerja itu pun menyahut kebingungan.


" Iya? Ada apa? " ujar-Nya meletakkan barang-barang.


Mereka berdua pun berhadapan dengan salah satu pekerja itu.


" Begini Pak, wanita ini mengatakan kepada saya ingin membantu disini, dia cukup kuat untuk seorang pekerja keras yang mahir. " ujar Lee dengan tersengih.


Pekerja itu pun menyahut.


" Hey jangan bercanda, bagaimana bisa aku memperkerjakan dia sedangkan diriku saja masih membutuhkan uang untuk anak-anak-Ku tetap bernapas! " bentak pekerja itu.


Zuu dan Lee terkejut akan sahutan orang itu. Lee pun tetap bersikeras mempromosikan-Nya.


" Tidak Pak, sungguh! Bapak tidak perlu membayar apapun atas tenaga yang ia keluarkan nantinya, ia benar-benar tipe wanita yang suka menolong orang tanpa pamrih. Bahkan, niatnya itu sangat membutakan dirinya sendiri, terkadang juga sangat membodohkan-Nya, orang baik ataupun tidak dia tetap saja menolong, ahh... Terkadang memang anak jaman sekarang hanya ingin mencari muka saja, yah seperti ingin mendapatkan pujian, hahaha... Kacau sekali. Tidak tahu bagaimana bermara-Nya untuk kedepan nanti, dimana sebenarnya akal sehat mereka disimpan? Haha... " celoteh-Nya seraya mencubit-cubit perlahan bahu Zuu.


Zuu hanya bisa ikut tertawa sumbing.


" Hahaha... Itu benar. " ujar Zuu.


Pekerja jelas kebingungan akan perkataan Lee baru saja.


" Tunggu, bukankah baru saja kau mengatakan bahwa wanita ini berhati dermawan dan selalu menolong orang dengan suka relawan? Lalu juga sekarang kau mengatakan dia itu adalah wanita jelalatan? Apa itu? Jadi sebenarnya bagaimana? " tanya Pekerja itu terheran-heran.


Seketika mereka berdua saling menatap karena terkejut juga panik. Lee berusaha mengelak dan menjelaskan beresah-resah.


" Euu... Itu..., bukan begitu maksudnya, terkadang manusia...aku mengatakan ada kata TERKADANG, jadi seperti itu tapi sesungguhnya dia wanita yang dermawan. " ujar Lee kembali dengan rusuh hati.


Pekerja itu benar-benar dikelilingi kebingungan juga ragu-ragu terhadap-Nya. Lee tanpa pikir panjang langsung membuktikan ucapannya dengan cara menyuruh Zuu untuk mengangkat 2 buah gas.


" Ah... Zuu cepat ambil itu. " gesa Lee seraya menunjuk.


Jelas saja ia terkejut dan terjegil dengan suruhan-Nya.


" Hah?? Tapi apakah itu tidak terlalu..., " Zuu beresah-resah.


Lee langsung menyelang.


" Apa yang dimaksud dirimu ini? Hahaha, mulai keluar kembali rasa rendah dirinya, ayo cepat-cepat lakukan. " ujar Lee seraya mendorong-dorong Zuu juga tertawa sumbing.


Zuu yang demikian merasa takut apa yang harus dilakukan, langsung mengangkat gas tersebut dengan rusuh hati. Setelah diangkat Lee sontak bersorak.


" wow... !!! Bapak melihat-Nya?? Haha... Dia memang wanita yang sangat berenergi, hahaha. " ujar Lee kembali dengan besar hati.


Pekerja itu pun langsung tercengang akan kekuatan yang dimiliki Zuu.


" Yasudah langsung saja, kenapa harus berbasa-basi seperti ini, tapi kau berjanji aku tidak perlu membayarnya kan? " sahut pekerja itu dan bertanya.


" Ah... Berapa kali aku harus mengatakan tentang hal itu hah? Hahaha... Kau tidak perlu membayarnya sungguh. " sahut Lee dengan tertawa.


Kemudian Zuu langsung melakukan pekerjaan itu. Bawaan barang yang pertama ia mendapatkan pikulan kecil, tapi setelah itu Zuu sangat dikagetkan sehingga matanya melotot karena harus mengangkut kotak kedua dengan berukuran cukup besar, sigap langsung melihat ke arah Lee yang sedang memperhatikan tidak jauh dari sana.


" *menggelengkan kepala dengan mendesah " ekspresi yang ditunjukkan Zuu.


Lee menyahut, juga menyemangati-Nya.


" kau bisa!! Kau bisa Zuu!! Berjuang!! " ujar-Nya dengan suara perlahan.


" Apa yang baru saja dikatakan oleh-Nya?! Berjuang?? Bahkan, saat ini aku seakan-akan tengah bertempur di medan peperangan, padahal aku sendiri tidak mengerti bagaimana cara menembak atau melawan, ini apa?? Aku sama sekali belum pernah mencoba angkut benda sebesar ini?! Perintahnya sangat jauh dari akal sehat!! Aaarrggh... Pria itu sama saja menyuruh-Ku untuk mati secara perlahan. " gumamnya dengan menggerutu.


Zuu lama berdesah di dalam hati, kemudian ia pun mendapatkan gagasan agar bisa melakukan pekerjaan itu dan berhasil. Zuu menyuruh 2 orang pekerja lainnya untuk membantu mengangkat benda tadi dan menaruhnya nanti di punggung Zuu. Sebelum diletakkan, ia mengumpulkan semua energi yang berasal dari rasa marah-Nya kepada Lee, dan terus menarik napas dalam-dalam, kemudian Zuu siap dan diletakkan-Lah barang itu, ia dengan sekuat tenaga mengangkut-Nya. Setelah disimpan benda itu Zuu langsung mengata-ngatai Lee.


" aku berharap kau mendapatkan balasan yang setimpal!!! " makian-Nya dengan berdesah.


Ditengah bekerja Lee pun berpindah tempat ke dalam mobil dan tetap mengawasi Zuu dari sana. Lama waktu berjalan tiba akhirnya pada titik pengakhiran.


" selesai dan selesai, kenapa baru datang sekarang hah? Huh... Ha... " ujar Zuu terengah-engah seraya duduk dengan lesu juga berkeringat banyak.


Ditengah mengipas-ngipasi lehernya, tiba-tiba datang saja seorang pekerja tadi menghampiri Zuu dan duduk disebelah-Nya. Kemudian, ia memberikan sebuah botol minuman kepada Zuu. Meski terasa terheran-heran tapi Zuu juga memerlukan minuman itu dan menerimanya.


" terima kasih Pak. " ujar Zuu tersengeh.


Pekerja itu pun memulai pembicaraan-Nya.


" Wah... Ternyata kau ini bukan hanya bermodal cantik dan imut yah, tapi... Juga bermodal kekuatan yang sangat besar. Perlu kau tahu, itu jarang sekali dikalangan wanita jaman sekarang. " ujar pekerja itu membelu-belai.


Jelas sekali Zuu merasa malu karena perkataan itu.


" Haha... Tentu saja tidak semua begitu. " sahut-Nya tersengeh.


" Aku tidak melantur, ini sungguh-sungguh! Kau sangat pekerja keras. " puji-Nya kembali.


Zuu hanya bisa berkata terima kasih juga tersipu malu. Kemudian, pekerja itu berucap kembali.


" eeu... Itu..., aku seorang pria duda juga mempunyai anak hanya 3 saja hehe... Mereka juga masih muda-muda. " ujar-Nya kembali dengan canggung.


Zuu mulai merasa termangu-mangu dan mengamati perkataan pekerja itu.


" kau tahu? Bagaimana rasanya ketika seorang anak ditinggal oleh sang ibu? Itu pasti membuat lubang dihati mereka. "


Zuu hanya mengangguk-angguk dengan perkataan-Nya,


" aku ingin sekali segera menambal hati mereka. " ujar pekerja itu, udam.


Kemudian Zuu menyahut, mengangguk-angguk terus dan terharu karena setuju akan hal itu.


" Aku juga ikut merasakan sekali, hiks... Itu lebih menyakitkan daripada takdir hidup-Ku saat ini, hiks... " sahut Zuu beriba-iba.


" Bagus sekali jika kau bisa merasakan-Nya, aku sangat senang, hiks... " ujar pekerja itu kembali.


" Iya, iya tentu saja. Pak. " sahut Zuu dengan sedih.


Pekerja itu pun langsung menghapus air mata-Nya dan bertanya kembali.


" Jadi apa jawaban? " ujar-Nya menatap dengan bergenang air mata.


Zuu sigap kebingungan dan berhenti tersedu-sedu.


" Ja...jawaban? Maksudnya Bapak? " tanya Zuu kembali dengan beresah-resah.


" Tentu saja jawaban-Nya apa? Berarti air mata itu menandakan kau setuju atau tidak menjadi istri-Ku? " sahut-Nya sedikit dongkol.


Jelas sekali Zuu terperanjat juga terbeliak karena saking terkejut.


" Hah!!??? " kejut-Nya.