
" Kita akan kemana? " tanya Lee dengan gugup.
" Aku lapar, mari kita makan malam bersama dengan Kakak. " sahut Zuu dengan bersemangat.
Jelas sekali Lee terkejut dan melepas gandengan Zuu.
" Apa?! Hey! Sadar Zuu, bukankah kau itu selesai berpesta dengan mereka? dan sekarang kau menginginkan makanan kembali? " ujar Lee dengan terheran-heran.
" Kenapa kau menunjukkan ekpresi seperti itu? Huh... Banyak sekali orang yang tak aku kenali tadi disana, Arun juga yang lainnya mengajak teman-teman lama-Nya, itu sebabnya aku makan sedikit. " sahut Zuu dengan lesu.
" Jadi apa masalah-Nya? " tanya Lee kembali.
Zuu yang mendengar tanggapan dari Lee pun terkejut dan kesal dengan ucapan-Nya.
" Kenapa kau malah bertanya begitu? Tentu saja aku merasa malu, memang-Nya apalagi yang aku rasakan ketika dipandang banyak orang. " sahut Zuu dengan geram.
Seketika itu membuat Lee tergelak-gelak dengan perkataan yang dikeluarkan oleh Zuu.
" Hahaha... Memang-Nya manusia mana yang akan terus memperhatikanmu hah? kau ini siapa? " cela Lee dengan tertawa.
Zuu yang tidak menerima ejekan dari Lee pun menyahut.
" Kau saja yang tidak mengetahui, banyak sekali diluar sana pria yang sangat menyukai-Ku, kau bisa melihat bukti-Nya, bagaimana Faiz memperlakukan aku, dia sangat menyanyangi juga mencintai. Dan mungkin, perlu kau tahu juga banyak laki-laki di luar sana itu melebihi kau dan juga Faiz. " sahut Zuu dengan angkuh.
Lee yang demikian juga tidak menerima perkataan Zuu pun mencela kembali.
" Benarkah?? Jika memang benar begitu, aku benar-benar kasihan kepada mereka yang begitu sangat menganggap-Mu lebih, kenapa mereka bisa menyukai, mencintai orang aneh seperti-Mu. Hahaha, perlu aku jujur juga sebenarnya kau ini sedikit aneh tapi, keanehan-Mu itu mungkin tertutupi karena paras wajah-Mu itu. Meski begitu, jika saja mereka tahu kau yang sebenarnya itu bagaimana, aku akan sangat meragukan dengan ucapan-Mu baru saja. Hahaha... " cela-Nya dengan terkekeh.
Zuu pun terdiam, Lee berhenti tertawa dan menarik nafas dalam-dalam dan berkata dengan mencela kembali.
" ini sungguhan? kau merasakan malu? Hahaha... Aku tak menyangka, ada kata malu di dalam dirimu. " cela Lee dengan tertawa.
Zuu hanya terdiam dan melihat ke arah Lee yang sedang tertawa dengan keras. Lee yang merasa risi melihat tatapan Zuu pun diam, ia pun bertanya.
" Sebenarnya kau ini mempunyai dendam apa kepada-Ku hah?! " tanya Aku dengan kesal.
Lee terdiam dan merasa tidak nyaman dengan ucapannya.
" Eu... Aku..., " sahut Lee dengan gagap.
Zuu pun menarik tangan Lee dan membawa-Nya pergi ke sebuah Restoran. Zuu pun memesan banyak makanan dan memakan-Nya dengan senang hati, Lee hanya melihat Zuu makan dengan kesal.
" Nyaman, nyam..., perlu kau tahu juga Kak, aku sangat sakit hati dengan perkataan-Mu tadi, sebagai tanda permintaan maaf-Nya, kau harus menanggung rasa lapar-Ku malam ini. Kakak mengerti? " ujar Zuu dengan tersenyum manis.
Lee yang tidak menerima pun menolak.
" Hey! Kenapa harus aku yang menanggung-Nya, bahkan aku sama sekali tidak merasa bersalah, kenapa kau yang bertindak sendiri? " sahut Lee dengan cemberut.
" Hey! manusia apa kau ini hah? sudah melakukan sesuatu yang berdosa bukan-Nya merasa bersalah juga rendah diri, kau tidak malu? Dengar Kak, api itu rasa-Nya tidak hangat. Anak kecil saja tahu api itu rasanya bagaimana, sangat memalukan kau ini memang " ujar Zuu kembali.
Lee hanya terdiam juga menatap Zuu dengan risi. Zuu sangat menikmati makanan yang di pesan-Nya.
" Nyam, nyam... Kau tak akan memakan ini Kak? " tanya Zuu seraya mulut dipenuhi makanan.
" Haruskah? " tanya Lee kebingungan.
" Tidak-tidak, sepertinya tidak usah. Ukhuk aku bisa menghabiskan semua ini. " sahut Zuu dengan tersedak.
Lee yang mendengar pun langsung merubah pikiran-Nya untuk ikut makan.
" Berikan sup disebelah-Mu itu cepat " gesa Lee.
Zuu yang merasa risi dengan arahan Lee pun menolak-Nya.
" Huh... Itu berada di dekat-Mu. " ujar Lee dengan berdesah.
Zuu pun memberikan-Nya dengan kesal hati.
" apa sulit-Nya, mengambil ini saja tidak bisa. " cela Lee dengan menatap tajam Zuu.
Zuu pun menyahut-Nya dengan sama hal-Nya melotot dengan sebal.
" Jika begitu kenapa tidak kau ambil saja sendiri?! " ujar Zuu.
" Akh... Kau ini memang menjengkelkan...! " sahut Lee dengan berdesah.
Saat Lee ingin memasukkan suapan-Nya yang pertama, dengan sontak ia menjatuhkan kembali makanan-Nya.
" Aw...!!! " teriak Lee.
Zuu pun langsung melihat ke arah-Nya dan ternyata, Lee sedang merintih kepanasan. Jelas sekali Zuu tertawa dengan tingkah yang dilakukan oleh Lee.
" Hahaha... " dekah-Nya.
" Kenapa sup ini panas?! " tanya Lee dengan kesal hati.
" Pertanyaan yang sangat konyol hahaha... Tentu itu panas, dari nama-Nya saja sup, mereka baru mengangkat itu ke dalam mangkuk. Hahaha... " sahut Zuu dengan tergelak.
Di tengah asik makan, Lee pun berkata kembali dengan ekspresi kesal.
" Makanlah sepuasnya, mungkin... Ini akan menjadi hari terakhir aku menyuruh-Mu seperti ini. " ujar Lee dengan masam wajah.
Setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Lee, Zuu pun terheran-heran dan langsung bertanya.
" Apa maksud-Mu berkata seperti itu? " tanya Zuu
" apa kau masih marah pada-Ku? Bukankah aku tadi sudah meminta maaf pada-Mu sebelumnya? Beginikah caramu membalas sebuah kekesalan? " comel-Nya.
" Sebentar, kau mengatakan apa? Minta maaf?? Dimana kata itu keluar dari mulut-Mu hah? Aku belum mendengar sebelum-Nya?? " tanya Lee dengan tersengih risi juga mata terjegil.
Zuu pun terdiam dan gagap saat menjelaskan.
" Eu..., iya. Aku sungguh minta maaf atas persoalan tadi. Aku mohon " ujar Zuu dengan menundukkan kepala-Nya.
Tidak ada sahutan dari Lee. Seiring berjalan-Nya waktu, suasana pun menjadi tidak nyaman juga canggung. Lee yang melihat Zuu yang tadinya makan lahap, menjadi perlahan dengan wajah dipenuhi kegundahan. Lee berdesah dan berkata kembali dengan perlahan.
" Zuu, " panggil-Nya.
Zuu yang demikian pun terjegil saking terkejut-Nya Lee memanggil, ia mendongakkan kepala-Nya.
" huh..., perkataan tadi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang kau maksud. Sebenarnya ada sesuatu hal yang perlu kau tahu, dan seperti-Nya kau yang akan marah pada-Ku, aku sungguh minta maaf. " ujar Lee dengan perlahan.
" Sekarang apa lagi yang dimaksud oleh-Mu? Tolong katakan dengan jelas. " sahut Zuu.
" Aku akan menjelaskan-Nya. " ujar Lee kembali.
Lee pun menarik nafas dalam-dalam dan menjelaskan.
" aku tidak bisa berkehidupan seperti ini lagi dengan-Mu. Tolong maafkan aku. " ujar Lee.
Zuu yang memerhatikan dengan sungguh-sungguh pun, sontak terkejut juga gundah dengan perkataan Lee barusan.
" Maksud-Mu? " tanya Zuu dengan kebingungan.