
" Benar, lalu ada apa? " tanya Zuu.
" Ini sangat aneh, mengapa masalahnya sulit untuk dipecahkan. " gunyam Arun.
" aku akan tidur lebih dulu dengan Amerta. " ujarnya sembari pergi.
" Eh tunggu, " selang Zuu.
Arun berbalik badan. Kemudian Zuu bertanya.
" kalian sudah tahu dimana tempat beristirahat-Nya? "
" Ya tentu saja, Kak Lee sebelum pergi sempat menunjukkannya. " sahut Arun.
" Oh... Baiklah, selamat malam tidur dengan nyenyak. " tutur katanya.
" Ya. " sahut Arun, pergi.
Zuu melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai ia benar-benar sudah mengantuk sekali, alhasil Zuu pun lekas pergi ke ruangannya. Sebelum tidur ia memeriksa keadaan teman-temannya dulu.
" Tok, tok... " suara pintu diketuk.
" Kreeek... " pintu dibuka.
Yang membukanya ialah Arun.
" Zuu. " kejutnya.
" Oh Arun, euu... Maaf sebelumnya mengganggu. Kalian sudah tidur? " tanyanya.
" Iya, kami sudah tidur tadi. Aku kebangun karena terdengar suara ketukan pintu. " jawabnya.
" Oh, aku sungguh minta maaf. Aku hanya ingin memastikan kalian tidur dengan nyaman atau tidak? " ujar Zuu.
" Tidak apa-apa. Rumahmu ternyata sangat bagus, siapa yang tidak berminat untuk menginap di sini. Ayo masuk. " sanjungnya dan mengajak.
" Euh, tidak! Aku akan tidur di ruangan-Ku saja sungguh. " menolak.
" Oh... Aku kira kita akan tidur bersama, yasudah tidak mengapa jika itu membuat-Mu nyaman. " ucap Arum agak kecewa.
" Aku sangat menyesal dengan apa yang aku katakan tadi, tapi apapun itu semoga kalian merasa senang. Baiklah selamat malam, tidur dengan nyenyak. Dah " ucapnya juga pergi.
Kemudian Zuu masuk ke ruangannya untuk tidur. Malam sudah sangat larut. Zuu, Amerta, Arun telah tertidur dengan pulas tanpa ada sedikit pun gangguan, tapi tak lama kemudian kenyenyakan tidur Zuu harus terhenti disebabkan terbangun oleh suara yang sangat mengganjilkan bagi siapapun.
" Beep, beep... Bim!, bim!... " suara klakson mobil bergemuruh tak keruan.
Sigap Zuu menggosok matanya dan melihat ke arah asal bunyi tersebut.
" Grrr!!! Suara keributan apa itu?? " menoleh ke belakang kursi.
Disini Zuu sangat terkejut-kejut dan begitu membuat-Nya terheran-heran.
" ini dimana asal bunyinya?? "
Zuu pun memutuskan mencari sumber suara tersebut, ia berjalan menuju berbagai arah.
" apakah salah satu dari mereka menerapkan alarm dengan suara seperti ini? " kiranya.
Zuu mengira bahwa Arun dan Amerta adalah dalangnya, tapi rasa duganya memudar disebabkan semakin lama di dengarkan olehnya malah semakin kuat dan nyaring suara klakson mobil tersebut sehingga membuat Zuu tak kuat lagi untuk berdiam disana, ia pun berniat keluar. Saat hendak keluar,
" ada apa ini?? Kenapa pintunya tidak mau dibuka? Aku merasa tak mengunci sebelumnya. " terheran-heran.
Karena ingatan Zuu samar-samar, entah ia benar menguncinya atau tidak, Zuu pun mencoba untuk mencari kunci itu alhasil ia mengubrak-abrik ruangan tersebut.
" akh!! Sebenarnya dimana kuncinya?? Kenapa tidak ada dimana-mana!? " gelisah resah.
Zuu mulai panik dan mengetuk pintu dengan keras sekuat tenaga-Nya.
" hey siapapun yang di luar tolong!!! Hey!! Ada orang tidak di luar? Zuu terkunci. Kak Lee!! Amerta!! Aku terkunci di kamar!! Arun!! Tolong!! " lantangnya.
Usaha Zuu kali ini benar-benar tidak mengeluarkan buah manis, ia malah keletihan juga suaranya yang mulai serak. Pada akhirnya Zuu memutuskan untuk mencoba kembali mencari kunci ruangan tersebut. Wajah dan tubuhnya sungguh-sungguh dipenuhi keringat dingin juga bergetar tak keruan, saking takut juga paniknya dengan situasi sekarang.
" ahh... Kuncinya dimana!!??? Bagaimana ini?? Aku benar-benar ketakutan!! " mengeluh.
" Dak, dig, dug... " jantung Zuu juga mulai berdetak kencang.
Ditengah fokus mencari tiba-tiba,
" Ini bukan yang kau cari? " ujarnya.
sigap Zuu merasa gusar kepadanya.
" He!! Apa kau mencoba mempermainkan aku!! Das... " dongkol Zuu terhenti seketika setelah menoleh.
Ternyata eh ternyata, seseorang yang memberikan Zuu kunci itu adalah entah manusia atau bukan, tetapi ia memiliki wajah menyeramkan, sigap saja Zuu berteriak dengan lantang karena rasa syok juga ketakutan.
" Aaaaaaah...!! " teriaknya.
Saking nyaringnya suara Zuu sehingga menimbulkan Arun, Amerta, Lee, terbangun dengan terkejut.
" Suara siapa itu?? " kejut Amerta.
" Zuu. " kejut Arun.
Tanpa pikir panjang mereka berdua langsung keluar dari kamar dan menghampiri ruangan Zuu, ditengah berjalan tiba-tiba Lee juga berlari berarah dengan tujuan yang sama.
" Kak Lee!! " kejut Arun.
" Kakak. " kejut Amerta.
" Ka...kalian baik-baik saja?? " terengah-engah panik.
" Kami tidak apa-apa, tapi bagaimana kakak bisa ada disini? Bukankah Kak Lee tidur di luar bersama teman-teman? " heran Amerta.
" Siapa yang mengatakan itu? Aku tidur di luar rumah-Ku, eh kau malah menanyakan hal yang tidak penting! Hey, Zuu bersama kalian bukan? " tegang.
" Ti...tidak, Zuu tadi mengatakan akan tidur di ruangan-Nya, sebab kami keluar karena terbangun mendadak saja terdengar suara teriakan yang nyaring sekali, dan kami mengira itu adalah suara Zuu. " sahut Arun.
" Benarkah?? Kalian juga mendengar-Nya?? " tanya Lee berkeringat dingin.
Seketika suasana menjadi saling menegangkan.
" Benar. " sahutnya kembali.
Lekas saja Lee berlari kembali menuju ruangannya Zuu, mereka pun mengikutinya. Saat hendak masuk tiba-tiba Lee benar-benar merasa dijanggalkan karena adanya pintu itu dikunci. Ia berteriak.
" Zuu!! Zuu!! Apa kau di dalam?!! Semuanya baik-baik saja kan?! " lantangnya khawatir.
Amerta dan Arun yang melihat sorotan dan ekpresi dari Lee sungguh membuat mereka ikut bergetar tak pasti, hatinya juga ikut ketakutan sehingga dapat membuat jantung mereka berdetak kencang. Karena situasi sangat mencekam Lee alhasil ia pun terpaksa mendobrak pintu tersebut dengan keras sekuat tenaga.
" Bruk.... " pintu pun dihantam oleh Lee hingga terjatuh.
Ia langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan mencari dengan terus berteriak memanggil nama Zuu.
" Zuu!! Zuu!! Kau dimana!! Hey!! Katakan sesuatu!! " terengah-engah khawatir.
Pada kenyataannya hal itu sangat menjadikan Lee gelisah resah dengan ketidakhadiran-Nya Zuu. Mereka berdua mencoba menenangkan Lee.
" Kak bertenanglah, sepertinya semua baik-baik saja. " tutur kata mereka.
Seketika Lee langsung membentak dan memarahi mereka berdua.
" Bagaimana bisa kau mengatakan aku harus bertenang hah!? Dan tunggu, kau berkata apa?? Baik-baik saja? Apa yang dapat di layakkan baik-baik saja hah!? Kau tidak melihat Zuu tidak ada disini?? Lalu sekarang dia ada dimana? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada-Nya?? Berpikirlah. " berangnya.
Amerta pun langsung menangkis perkataan Lee.
" Tenanglah Kak!! Apa dengan cara kau berteriak-teriak juga beresah-resah tak keruan seperti itu dapat menemukan Zuu!! Tolong untuk bertenang!! Sejujurnya, peristiwa ini sulit untuk aku mengerti, grr lupakan saja. Lihatlah Kak, kondisi dalam ruangan ini seperti tidak terjadi sesuatu apapun, dan menurutku Zuu belum sempat masuk ke dalam sini. " ujarnya.
" Benar, barang-barang semuanya tertata rapi, sebaiknya kita cari Zuu di tempat lain, oh tunggu! Apa Zuu masih berada di dapur? " kiranya.
Sigap Lee dan Arun berlari ke ruang belakang untuk memeriksa. Sedangkan Amerta, ia masih merasa ganjil dengan kejadian saat ini memutuskan untuk menenangkan diri agar amarahnya tidak meledak-ledak. Amerta memang tipe orang yang agresif ketika sudah mengeluarkan gusarnya. Ia duduk di kursi tersebut sejenang. Setibanya mereka disana, alhasil pun Zuu juga tidak ada di tempat itu. Keruan sekali hal itu semakin membuat Lee keresahan juga ketakutan dengan kondisi Zuu sekarang.
" Apa ini?? Dia tidak ada disini. " mengeluh.
" Tapi sungguh saja, aku sangat mendengar jelas suara teriakan Zuu dari arah sesuatu ruangan tetapi entah darimana asalnya, suaranya bergema-gema jadi aku tak pasti dimana tempat Zuu itu menentu. " ucapnya juga resah.
Alhasil mereka berdua sangatlah kebingungan, di tambah dengan suasana menjadi mencekam membuatnya rusuh hati. Tiba-tiba,
" Aaaaaaah...!! " lantangnya berteriak.
Mendadak kembali suara teriakan itu terdengar oleh mereka, dan untuk saat ini dugaan mereka orang yang berteriak itu bukanlah Zuu tetapi Amerta.
" Amerta!! " kejut mereka, membeliak.