
" Apa maksud-Mu berbuat kasar terhadap tamu-Mu sendiri hah!! " bentak Faiz dengan melihat tajam.
" Dia...d...ia " sahut Pelayan itu gagap dengan gemetar.
" Rumah Makan ini sangat buruk dari yang Ku-duga ternyata, dengan adanya orang kecil seperti-Mu bisa saja menghancurkan kesuksesan Restoran ini. Sampah tahu sampah?? Apa kau tahu sampah itu!!? " cela Faiz dengan membentak.
" dari berbagai penjuru semua sampah yang aku lihat, kaulah sampah terbusuk yang pernah aku lihat. " cela Faiz kembali dengan terus menginjak kaki Pelayan itu.
Iz' menarik kerah baju Pelayan itu dengan meruntun dan memukul secara beruntun.
Zuu yang memperhatikan sangat tidak nyaman dengan sifat dan tindakan-Nya Faiz, ia merasa tidak menyangka bahwa Faiz bisa melakukan hal itu. Zuu berusaha untuk menghentikan perbuatan Faiz tapi, Faiz tak mendengarkan. Kemudian, pemilik Restoran pun tiba dan menyela sigap menenangkan Faiz dengan menarik-narik-Nya.
" Pak... Pak. Tenanglah Pak. Tenang " ujar-Nya.
Iz' meronta dan berteriak dengan membentak mereka.
" Bagaimana saya bisa tenang jika wanita ini dilakukan juga dituduh menjijikkan seperti itu hah!! Kau mati saja sana!! Akan Ku-bunuh sekarang juga kau!! " lantang-Nya.
" Tenang Pak. Tenang, kami sangat minta maaf atas perilaku karyawan kami, tolong tenang Pak. Kita bisa membicarakan ini baik-baik. " ujar-Nya kembali.
" Diam kau!! Ini tidak ada urusan-Nya dengan-Mu!! Pergi dari sini sebelum aku juga memutuskan untuk membunuh-Mu juga. " bentak Faiz kembali.
Seketika itu membuat mereka bergemetar juga ketakutan dengan bentakan Faiz. Kemudian, Zuu menarik baju Faiz dan langsung menyanyikan dengan wajah manis.
" faiz you're crazy in love because of me let's go, and leave them. say good bye " senandung-Nya dengan menarik kerah baju Faiz sigap meninggalkan.
Pemilik Restoran begitu pun juga yang lainnya sangatlah terheran-heran melihat tingkah laku-Nya Zuu. Ia pun membawa Faiz pergi, ditengah berjalan Faiz bertanya.
" Kenapa kita pergi dari hadapan mereka?? Mereka semua itu kacau sekali kau tahu?? Bisa saja aku menelan mereka satu persatu. " gerutu Faiz.
" Diam kau. " sahut Zuu dengan lesu.
Mereka berdua pun memutuskan berjalan tanpa arah. Tiba-tiba, Pandangan Zuu teralih ke sebuah Rumah Makan yang ternyata di dalam-Nya itu terdapat Lee yang sedang makan, lebih mengejutkan Zuu, ia melihat Lee tengah makan bersama orang yang tadi diduga-Nya mencuri, dengan sigap Lee panik juga kebingungan. Ia menyuruh kepada Faiz untuk segera melepaskan jaket yang dikenakan-Nya.
" Berikan jaket-Mu sekarang juga. Cepat!! Cepat! Lepaskan!! " gesa-Nya.
" Apa maksud-Mu?? U...untuk apa aku harus melepaskan jaket-Ku?? " tanya Iz' dengan kebingungan.
" Cepat!! " bentak Zuu.
Dengan sigap Iz' pun memberikan jaket-Nya kepada Zuu, ia pun langsung mengenakan jaket milik Iz' dan menghampiri Lee dengan keadaan menutupi wajahnya. Zuu mendekati orang tadi itu, saat ini ia berada di belakang-Nya, dan bergegaslah Zuu menghantam-Nya, orang itupun sangat jelas sekali berteriak sambil meronta-ronta.
" Apa ini?? Apa ini?? Hey!! Lepaskan!! " lantangnya.
" Memangnya apa lagi menurut-Mu hah? Hey! Kembalikan barang yang seharusnya bukan milik-Mu cepat!! " ujar Zuu dengan mencekik leher orang itu.
" Apa!! Hey apa maksud-Mu hah?? Kau menuduh-Ku mencuri?? Kacau sekali kau ini! " cela orang itu.
" Wah... Keras kepala sekali kau ini rupanya yah... Tidak takut dengan api yang panas hah!!? " cela Zuu.
" hey Lee su!! Kenapa kau hanya diam saja, cepat lepaskan orang asing ini dari-Ku!! " gesa orang itu dengan pengap.
Lee pun langsung memukul bahu Zuu dengan keras, akh...! Sehingga menimbulkan Zuu merintih kesakitan dan melepas hantaman-Nya. Faiz yang menyaksikan dari jarak jauh pun sigap berlari dan menghampiri Zuu.
" Zuu!! Kau tak apa-apa? " Faiz panik seraya merangkul bahu Zuu.
Lee yang mendengarkan pun terkejut saat Faiz datang dengan memanggil nama Zuu, ia tidak tahu bahwa orang yang dipikul-Nya itu adalah Zuu.
" Zuu?? " terkejut juga panik.
Faiz murka kepada Lee dan langsung memegang kerah-Nya.
" Kau ini kenapa hah!!? Apa akal sehat-Mu kacau? hey Lee su!! " bentuk Faiz dengan tersedu-sedu.
" kenapa kau hanya diam saja hah!! Kau tidak khawatir kepada-Nya?? Pecundang!! " cela Faiz dengan terengah-engah.
Faiz pun langsung merangkul Zuu dan membawa pergi dari sana. Lee Yang demikian kejut dengan kejadian ini, hanya terpaku melihat kepergian mereka. Wanita itu pun menapak dan marah kepada Lee.
" Kau ini! Kenapa tindakan-Mu itu lamban sekali hah!! Aku kecewa. Itu sangat buruk " cela Wanita itu.
Wanita itu pergi meninggalkan-Nya. Lee yang demikian dikelilingi gundah juga bingung. Ia duduk kembali dan merenung.
Waktu terus berjalan tengah malam pun tiba, Lee masih berada ditempat itu dan memutuskan untuk pulang kembali ke Hotel, saat ingin membuka pintu Mobil tiba-tiba telepon-Nya berdering. Ternyata itu adalah atasannya yang menyuruh Lee untuk segera datang kesana. Lee masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi menemui-Nya. Sampai disana Lee diperintahkan untuk segera duduk di Kursi. Lee yang demikian sangat kebingungan juga khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Atasan-Nya itu pun memberikan Lee amplop yang berisi uang, Lee sangat kebingungan dengan perilaku-Nya langsung bertanya.
" Maksud dari ini apa Pak? Maafkan saya sebelumnya. " tanya Lee dengan terheran-heran.
" Pergi dan jangan kembali. Sudah ada yang menggantikan posisi-Mu. " ujar atasan itu.
Lee pun mengerti dengan yang dimaksud atasan-Nya itu. Ia langsung pergi dan berjalan menuju Hotel. Di tengah perjalanan Lee lengah dalam menyetir, ia tidak sengaja hampir menabrak seorang pedagang, karena untuk menghindari tabrakan kepada orang itu Lee menabrakkan dirinya ke sebuah Tihang Jalan.
" Aaarrggh...! Ini buruk!! " rintihan-Nya dengan dongkol.
Lee pun berhenti sejenak untuk memenangkan dirinya, kemudian ia melanjutkan perjalanan-Nya. Sampai di Kamar Hotel, Lee melihat Zuu yang tengah belajar, Lee pun berjalan perlahan masuk lebih dalam dan pergi ke Kamar Mandi untuk mengganti baju. Zuu yang mendengar kepulangan Lee, sontak itu membuat-Nya terkejut dan segera mengenakan alat pendengar musik. Selesai dari Toilet, Lee berjalan kembali menuju Ruang Belakang untuk mengambil gelas, kemudian Lee menyeduh sebuah kopi dan mengatakan dengan canggung kepada Zuu.
" kau tidak apa-apa Zuu? " tanya Lee.
Tidak ada sahutan dari Zuu, dan Lee pun terus mengulangi pertanyaan-Nya. Karena rasa dongkol Lee pun menghampiri Zuu dan membentak.
" kau ini tuli atau bagaimana ma..., " cela-Nya.
Perkataan Lee terhenti setelah melihat sebuah alat pendengar musik yang berada di telinga-Nya itu. Lee pun berdesah dan menepak bahu Zuu dengan perlahan. Zuu yang melihat langsung menengadahkan kepala-Nya, dan melihat wajah Lee dengan ekpresi biasa. Karena tatapan dari Zuu pun membuat Lee tercengang bengang.
" kau tidak apa-apa? " tanya-Nya dengan canggung.
Zuu melepas alat pendengar musik dengan mengatakan.
" Kakak sudah kembali? " tanya Zuu.