
Ternyata dan ternyata Lee menyiram Zuu dengan seember air dingin, jelas sekali Zuu terkejut juga menggigil kedinginan, ia menggerutu akan tidak percaya dengan tindakan Lee.
" apa yang kau lakukan hah?? Apa kau benar-benar membangunkan-Ku dengan cara seperti ini?? Hey Lee su. " serunya.
Ia tidak menghiraukan ocehannya Zuu, dan malah pergi. Zuu melihat ke jam dan ternyata ini masih pagi dari dugaan-Nya.
" aaarrggh...!! Ini baru pukul 4 pagi, aku sungguh meragukan kewarasan-Nya. " gerutu Zuu berdesah.
Ia pun bangun, dan mulai membersihkan rumah-Nya Lee, dari ujung sudut barat hingga timur, dengan berdesah menahan amarahnya terhadap Lee. Ia pun selesai menyelesaikan-Nya dan berniat kembali ke ruangan untuk beristirahat, tapi Lee menahannya.
" Eh, kau mau kemana?? " tanya Lee sembari duduk santai di sofa.
" Aku ingin kembali melanjutkan mimpi yang terpotong tadi karena ulah-Mu. " sahut Zuulesu.
" Apa?? " sontak Lee terkejut juga terbeliak.
" Aku sudah merapikan semuanya, apa lagi masalah-Nya? " selang Zuu berkeluh.
" Hey, apapun alasannya tetap tidak baik, hm...baiklah tolong beri ikan di sana itu obat, aku lupa memberikan-Nya. Setelah itu kau boleh pergi. " suruh Lee kembali.
" ingat jangan terlalu banyak menuangkannya, kau hanya perlu meneteskan 3 kali saja, mengerti?? " tegas Lee.
Zuu yang sudah merasa bosan dengan ocehan, berekspresi tidak peduli.
" Ahh... Aku mengerti, tanpa kau berkata juga aku tahu, kau pikir aku sebodoh itu. Aku seorang pelajar teladan. " angkuhnya Zuu kesal.
" Ahh terserah, lakukan saja. Jangan hanya bergantung pada mulut. " ujar Lee juga jengkel.
Zuu pun mengambil obat dan menuangkan pada akuarium itu, ketika Zuu meneteskan-Nya Lee memperhatikan dengan sebelah mata, siapa sangka penglihatan-Nya ia malah meneteskan banyak obat itu, segeralah Lee menegur dan menghampiri dengan marah.
" apa yang kau lakukan hah?? " cegah Lee seraya memegang tangannya.
Saat ia menoleh ke arah Zuu, di sinilah momen Lee terkaget-kaget, ia tidak menyangka air yang menetes banyak itu bukanlah obat melainkan air mata Zuu yang terus berceceran. Ini pertama kali Lee melihat gadis itu mengeluarkan tangis-Nya.
" Hiks... Hiks... " tersedu-sedu.
" Hey hey, apa kau sungguh menangis?? Jangan bercanda? Oh tunggu, bukankah kau itu sangat payah dalam mengekspresikan apapun? Haha... Begini rupanya kau terharu kare..., " olokan Lee pun diseleng.
" Kau ini benar manusia apa siluman hah??? Disaat seperti ini pun apa cocok untuk di senda guraukan?? Kau tidak melihat air yang mengalir ini? Air-Nya keluar secara alami. Hiks... Ini pertama kalinya aku merasakan sakit di dalam benakku. Hiks...!!! " keluh-Nya tersedu-sedu.
" Hey apa kau sungguh menangis, a...aku tidak ingin membuat-Mu..., " kata Lee diselang kembali.
" Membuatmu apa hah?? Apa maksud-Mu menangis, sakit?? Apa ini, kau membentak-Ku, kau menghina-Ku, kau secara terus menerus mengatakan aku ini bodoh, kau juga terus memperlakukan seperti budak, aku baru menyadari betapa sampahnya aku, dan bahkan kau mengguyur-Ku hanya untuk membangunkan saja, itu pertama kali aku dapatkan, kenapa kau begitu amat menjengkelkan hah? Hiks... Tidak bisakah kau memberiku waktu untuk beristirahat dengan tenang? Aku sangat lelah, bahkan malam tadi itu sangat malam yang mengerikan bagiku, aku tidak bisa tidur karena terus merasakan sakit di tubuh-Ku terutama di hatiku. Dasar arogan!! Psikopat mati saja sana!! " seru Zuu dengan menangis sigap pergi.
Lee terdiam juga termangu akan ungkapan-Nya Zuu. Ia berniat menghampiri dan meminta maaf, tapi ia tersadar untuk memberinya waktu terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu Lee pun menghampiri Zuu ke ruangan-Nya, saat ia melihat ternyata Zuu sedang bergelimang di kursi panjang. Perlahan dihampiri Lee termenung-menung melihat Zuu yang terlihat begitu kelelahan.
" Laki-laki seperti apa aku ini?? Tanpa aku sadari telah melukai gadis ini, seharusnya aku lebih bersikap lembut pada-Nya, dia ini seorang pelajar yang umurnya masih bawah 18 tahun, ahh Ada apa dengan aku? Bahkan karena peristiwa itu kehidupan-Nya juga hampir binasa. " gumam Lee dengan kesal hati.
Lee begitu dikejutkan ketika pandangannya teralih ke tangan Zuu yang dipenuhi luka-luka bergoresan juga mengalami pembengkakan, ia pun melihat dengan memegang-Nya secara perlahan.
" ahh, ini pasti sangat sakit. " masygul-Nya dengan menyesal diri.
Tiba-tiba, Zuu tanpa sadar memukul keras ke wajahnya Lee sehingga membuat-Nya tergeblak.
" kesakitan ini tidak seberapa. " ujar Lee kesakitan seraya bangkit kembali dari jatuh-Nya.
ia dibuat terkejut kembali akan racauan-Nya Zuu.
" Aku akan membalasnya lihat saja nanti!! Dasar psikopat, kau pantas mendapatkannya!! Zzz...zz...z.... " igau-Nya.
" Aaarrggh... hal yang percuma untuk merendah diri. " kesal Lee sembari pergi.
Malam pun tiba kembali, Lee benar-benar dibuat termangu-mangu atas kejadian hari ini.
" perasaan yang dirasakan Zuu saat ini sangat mudah aku pahami, kurangnya kasih sayang, tunggu..., " ujar Lee termenung.
seketika saja terlintas sejenak dipikiran Lee mengingat ucapan yang dikatakan Zuu.
" *a**ku katakan sekarang, karena sebab apa kau bertindak begini pada-Ku?? Aku benar-benar kehilangan sesuatu*, apa yang dimaksud oleh Zuu?? Dia mengatakan seperti kehilangan sesuatu jika aku bertingkah begitu?? Apakah...,a..a..pakah? Dia mulai menyukai-Ku?huh, benarkah itu? hehe... " gumam Lee sembari tersenyum-senyum sendiri.
Seketika Lee tersadar sendiri.
" tunggu, ahh pemikiran yang menyesatkan! mana mungkin wanita seperti dia bisa menyukai-Ku, ahh jujur saja aku ini sangatlah jauh berbeda dengan-Nya, bagaikan sayur tanpa garam, eh bukan... Bagaikan seekor kangguru dengan kelinci. Hm... Lalu, apa maksud dari perkataannya itu adalah karena ia tidak memiliki siapaun untuk saat ini selain aku, jika keberadaan kita ditukar aku juga akan mengatakan hal yang sama. Perbandingan nasib-Ku dengan-Nya... siapa yang lebih sukar ya?? Aku kehilangan pekerjaan, uang, reputasi-Ku, kehormatan juga dibantai oleh-Nya, kira-kira 60%. Sedangkan Zuu, sekolah, teman-teman, reputasi, eumm... Oh, apa kegagalan dalam kompetisi menari-Nya juga karena aku? hm... mungkin, oh keluarga, paling berharga dikehidupan, ia kehilangan kepercayaan juga dimata Ibunya. Jujur saja, aku tidak menyangka bahwa ibunya sendiri tidak mempercayai perkataan anaknya, bukankah seharusnya dia lebih mengenal baik watak Zuu itu bagaimana? berapa lama ia mengenal. " gerutu Lee, kebingungan.
ditengah Lee berbicara, seketika ia mengingat benda yang pernah diterima dari Ibu-Nya Zuu.
" oh tunggu, benda itu... ahh aku melupakan-Nya, tunggu aku akan mencarinya di Kamar.