
Saat dibuka, keberuntungan masih berpihak kepada mereka. Tapi, yang membuat Zuu heran ialah kenapa masih banyak persediaan makanan di dalam lemari es sigap bertanya.
" kau menyiapkan ini semua? " seraya melihat Lee.
" Euu... Aku hanya berjaga-jaga saja. " tergaguk-gaguk.
" Aku tidak mengira ternyata kau masih memiliki uang. " sindirnya sambil mengambil bahan makanan tersebut.
Dengan besar hati Lee menjawab.
" Ha... Tentu saja, perlu kau tahu Zuu aku adalah tipe pria yang pandai menyimpan hal apapun bahkan hingga sampai lama bertahan. "
" Terserah. Oh ya, jika kau tidak ada kerjaan sebaiknya temui temanku itu, ajak mereka berbicara untuk mengulurkan waktu, selama aku sedang memasak. " suruhnya.
" Hah? Euu... Kau tidak ingin dibantu? " tawar Lee tegang.
" Aku ingin tetapi, jika kau membantu aku disini lalu dengan mereka bagaimana? Kita tidak bisa mendiamkan begitu saja, seorang tamu sepatutnya di manjakan, tidak sopan jika dibiarkan. " tutur katanya.
" Yasudah, aku akan meminta izin dulu kepada mereka bahwa kau sedang kesulitan jadi aku akan membantu. " rancangannya.
" Tidak bisa begitu! Kau ini bagaimana?! Sudah temankan saja, aku tidak akan lama percayalah. " ujar Zuu gusar.
" Akh... Baiklah, baiklah! " sahut Lee kesal hati.
Lee menghampiri Amerta juga Arun, sedangkan Zuu hendak mulai membuat makanan, ia mengandalkan sebuah tutorial memasak di dalam ponselnya.
" Huh, semoga ini sempurna. Mari kita mulai! " bersemangat.
Seiring berjalan waktu, Zuu sempat-sempatnya selalu menyanjung keterampil si koki di dalam telepon tersebut.
" wah pandai juga cekatan sekali orang ini, bagaimana bisa dia melakukannya? Wah... Bagaimana ini? Sepertinya sulit untuk aku lakukan? " tercengang-cengang.
" huh... Ayo lakukan!!! " bersemangat.
" wah dia menjungkirbalikkan wajannya?!! Haruskah aku mengikuti-Nya juga? " takjub.
Zuu melakukan semua arahan dari si pemasak, meski ada hal yang ia tak bisa dilalui tapi tetap teguh saja Zuu mengikutinya.
" akh!! Kenapa kau malah jatuh ke bawah!! " dongkolnya.
Setelah selesai memasak, ia membandingkan makanan modelnya dengan si koki itu, Zuu merasa sangat kebingungan.
" ini kenapa tampilannya bisa berbeda dengan punya dia?? Padahal aku juga melakukan hal yang sama, tapi tak apa. Nomor terpenting dalam memasak itu lezat atau tidak-Nya. Hal yang percuma jika tampilnya bagus tapi rasanya tidak enak pasti akan sangat merugikan si pemakan. " ujarnya.
Ia pun memutuskan untuk mencicipi masakan-Nya tersebut,
" mmm... Rasanya enak, tapi kenapa aku meragukan ini lezat di mulut mereka yah? Akh...!! " kesalnya.
Alhasil makanan yang baru saja Zuu buat dengan susah payah tidak jadi diberikan kepada mereka karena ada rasa keganjilan dalam makanan-Nya tersebut. Kemudian ia memutuskan untuk membuat dari awal dengan tema yang berbeda, begitu pun juga koki berbeda dari yang tadi. Di tengah memasak tiba-tiba.
" Bruk... Praang!..." menabrak, terjatuh.
Terdengar suara orang menabrak sesuatu sehingga mengakibatkan piring di atas meja tersenggol olehnya dan jatuh, sigap Zuu menoleh ke arah bunyi tersebut.
" Amerta! " kejutnya.
" Aduh, aku minta maaf! Sungguh aku tidak sengaja menyenggolnya. " ujarnya seraya langsung mengambil pecahan piring.
Zuu lekas menghampiri dan membantunya, ketika dibantu Amerta tanpa pikir panjang langsung mengatakan dengan lekas berdiri dan berlari.
" yasudah kau saja yang membersihkannya yah? Aku percayakan semuanya padamu. " tergesa-gesa.
Zuu pun langsung terkejut berusaha menahannya.
" He!! Tunggu!! Kau mau kemana?? " kejutnya.
Amerta terhenti, menoleh ke belakang.
" Aku ingin menumpang di kamar mandi-Mu sebentar yah? " ujarnya.
" Eh tidak-tidak, tidak boleh! " tegasnya.
" Aduh kenapa? Aku harus sesegera-Nya pergi Zuu!! Pelit sekali kau ini!! Nanti jika meninggal mau kuburan-Mu sempit hah? " ucapnya.
" Aduh bukan begitu! Tapi... Euuu, itu maksudnya kamar mandi kami sedang dalam perbaikan jadi untuk saat ini belum bisa di tempatkan. " elaknya tergagap-gagap.
" Benarkah?? Lalu aku harus kemana saat ini Zuu? Hiks, tolong aku!! " rintihnya.
" Mmm... Keluar sa... " katanya terhenti.
" Akh... Aku tidak tahan!! Aku hanya sebentar!! " teriaknya berlari masuk ke dalam toilet.
" Eh Amerta!!! Tidak!! " teriaknya juga.
Seketika Lee juga Arun datang.
" Hey ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak seperti di hutan begitu?? " tegur ajar Lee.
" Kau ini bagaimana hah?!! Jika terjadi sesuatu dengan temanku kau yang berani menerimany?!! " bentak-Nya sembari memukul bahu Lee.
" Aaarrggh... Kau ini kenapa?? " heran Lee.
" Amerta masuk ke dalam kamar mandi!! " ujarnya khawatir.
" Hah?? Benarkah? Bukankah tadi dia mengatakan ingin menemuimu sebentar. " kiranya.
" Akh!! Itulah kau sembrono, lalu bagaimana sekarang nasibnya? " panik.
Seketika mereka berdua diguncangi ketegangan yang tinggi, beda lainnya dengan Arun yang sungguh-sungguh merasa kebingungan akan percakapan Lee dan Zuu, kemudian ia bertanya.
" Ini maksudnya apa? Nasib? Tidak berhati-hati? Memangnya kenapa? Jika Amerta masuk ke dalam kamar mandi lalu?? " terheran-heran.
Mereka tertegun karena pertanyaannya.
" di dalam sana memangnya ada apa? Sesuatu yang amat berbahaya berdiam disana?? " tanya Arun.
" Euu... Itu... Apa Kak, euu... Oh air di dalam sana telah habis, kami hanya merasa khawatir bagaimana dengan nasibnya sekarang. " menggagap.
Sontak Arun pun ikut terkejut.
" Apa?? Betulkah?? Aduh, lalu bagaimana? " ikut bingung.
Arun sigap memanggilnya.
" Amerta!! Amerta!! Kau baik-baik saja?? " teriaknya.
Tidak ada sahutan darinya, dan karena itu membuat mereka semua tambah khawatir juga gundah, Zuu pun memutuskan untuk memerintahkan kepada Lee untuk mendobrak pintunya saja, karena saking takutnya terjadi sesuatu terhadap Amerta.
" Kak! Kau dorong keras saja pintu-Nya!! " panik.
Arun sigap terkejut dengan ucapannya Zuu.
" Hah?? Dobrak? Jangan! Kenapa harus di dobrak?? Nanti bagaimana dengan Amerta. " belotnya.
" Tapi Arun... Jika di biarkan seperti ini resiko meningkat!! Sudah Kak cepat dobrak!!! Bagaimana jika dia mengambil Amerta. " gesa Zuu ketakutan.
" Jangan lakukan itu Kak!! Arun... Arun... T..tidak mengerti mengapa Zuu bertindak begitu? Bagaimana jika Amerta... Kita tidak tahu apa yang tengah dilakukan oleh Amerta sekarang. " tergagap-gagap.
" Maka dari itu kita harus sesegera-Nya menyelamatkan Amerta!! " teriaknya sembari mendorong kuat Lee ke pintu.
Tiba-tiba,
" Kreeek... " pintu dibuka
" Brak... " menabrak.
" Aduh! " kejut Amerta.
Mendadak saja Amerta keluar bertubrukan dengan Lee. Sontak mereka semua terkejut.
" A...amerta?!! " ternganga.
" Ini ada apa?? Kalian semua berisik sekali tahu tidak!! Seperti tak ada tempat lain saja untuk berdebat!!? Kau juga! Dengan alasan apa Kakak ingin mendobrak pintu ini?? " bentak-Nya berang.
" Aku minta maaf sungguh, Zuu yang mendorong. " ujar Lee.
" Euu itu, aku hanya merasa khawatir saja Amerta. " sahut Zuu.
" Khawatir?? Memangnya ada apa?? " kebingungan.
" Euu... Itu..., " gagu Zuu.
Lee dan Zuu sigap memeriksa ke dalam kamar mandi secara bersamaan. Seketika mereka berdua terkejut juga ternganga keheranan.
" Wah!!? Bagaimana bisa?? " kejut Lee.
" Darah yang mengalir di keran ini berubah kembali menjadi air Kak!!? " sahut kejut Zuu.
Tingkah mereka pun keruan sekali menjadi pusat perhatian Arun dan Amerta.
" Sebenarnya kalian ini kenapa?? " tanya mereka kebingungan.
" Hah?? " menoleh ke belakang bersamaan.