
" Faiz! Bagaimana bisa kau ada disini? " tergaguk-gaguk.
Sekonyong-konyong saja ia menarik tangan Zuu.
" Mari ikut dengan aku. " ucapnya.
" Ta...ta..pi kemana? " bertanya.
Zuu pun dibawa ke tempat makan oleh-Nya.
" kenapa kita kemari?? " bisiknya gelisah.
" Bukankah kamu tadi mengatakan lapar? " celetuk Faiz.
" Hah?? Kapan aku mengatakan seperti itu?? " herannya.
" Tapi lapar bukan? " menggoda.
Zuu hanya terdiam juga kebingungan, tanpa pikir panjang ternyata Faiz sudah mengebuk makanan. Zuu yang amat pecinta makanan pun langsung terjegil matanya, alhasil hati dan pikiran Zuu jadi menimbulkan rasa menginginkan makanan itu/tergoda ditambah dengan adanya minuman yang membuat dirinya goyah.
" Euu... Lalu nanti siapa ini yang akan membayarnya?? " bertanya.
" Aku membelikan ini semua untuk-Mu. " sahut Faiz.
" Uh? Wah benarkah? Terima kasih banyak Faiz, aku sangat tersanjung. Aku terima? " tutur kata Zuu.
" Tentu saja. " jawabnya.
Zuu terlihat sangat menyibukkan diri saking lahapnya menyantap makanan itu.
" Semua makanan ini terlalu lezat sehingga aku tidak bisa berhenti memakannya hehe... Sepertinya menggunakan satu mulut untuk menghabiskan segera semua ini tidak akan bisa/tidak akan cukup yah? " ujarnya girang hati.
Faiz hanya bisa mengangguk juga ikut senang dengan ekpresi Zuu sekarang. Kemudian, pelayan datang sembari membawa ikan bakar yang aromanya begitu menggugah selera. Saat diletakkan Zuu terpaku bertanya-tanya.
" apa ini? "
" Ikan bakar. " tersenyum.
Terheran-heran nya Zuu melihat makanan itu dikarenakan tampilan-Nya yang sangat membuat-Nya bertanya kembali sembari makan.
" Tapi mengapa lauknya begitu hitam? Apakah konsep-Nya memang seperti ini? "
" Mmm... Aku juga tidak tahu. Mungkin, ikannya terlalu nakal sehingga di olahraga dalam waktu lama. " sahutnya mengolok-olok.
Tiba-tiba, " Ukhuk... Ukhuk... "
Sontak Zuu tersedak juga matanya membeliak saking terkejut jawaban Faiz, karena teringat dengan ucapan penceramah pada waktu itu.
" Ada apa?? A...apa baunya ini tidak nyaman di hidupmu? Euu... Atau ada masalah dengan makanan-Nya? " kejutnya panik.
" Euu... Tidak-tidak, euu... " tergaguk-gaguk.
" duh bagaimana ini?? Aduh!!! Aku tidak mau senasib seperti si ikan bakar, hiks... Bagaimana cara aku menghindari pria ini?? " gunyamnya panik seketika.
Rancangan Zuu pun datang secara mendadak.
" ahh... Aku meminta bantuan pada Amerta saja. " rancangnya
Zuu pertama-tama mengirimkan pesan dahulu kepada Amerta yang bertulis seperti ini.
" tolong telepon aku sekarang juga!! " gesa-Nya.
Amerta yang jelas sekali pastinya merasa keheranan dengan suruhannya Zuu pun membalas pesan instan.
" Ada apa? Maksudmu? " kebingungan.
" Jangan banyak bertanya cepat lakukan!! Aku mohon hiks... " ujarnya kembali.
" Ahh dia ini benar-benar aneh. " cela-Nya.
Tak lama kemudian Amerta pun menelpon sesuai yang diarahkan oleh Zuu.
" Haha... Eh, maksudnya... Oh tidak! Seperti-Nya Kak Lee sedang menunggu-Ku, euu... Dia menjemput sampai sini dan mungkin sekarang baru tiba, aku harus segera menemuinya. Lihat dia sangat rewel sekali! Sehingga harus menggunakan telepon saja untuk memberitahu dia sudah disini. " elak Zuu tergaguk-gaguk.
Faiz hanya terdiam dan melihatnya dengan bengis. Itu malah membuat Zuu tambah gagu untuk berbicara, alhasil ia pun tetap berusaha pergi dari tempat itu.
" ini mungkin agak menjengkelkan tapi aku harus pergi ya Faiz, sampai jumpa. " pamitnya tergesa-gesa dan lekas berlari.
" Kamu baru memakannya beberapa suapan? Hey Zuu! " serunya.
Ia tak mengacuhkan ucapannya Faiz. Setelah berhasil lari ia menjawab telepon dari Amerta.
" Halo! Huh... Hah... Amerta! " panggilnya terengah-engah.
" Hm... Ada apa? Kenapa kau menyuruh-Ku seperti ini? " tanyanya sedikit kesal.
" Sebelumnya aku sungguh-sungguh mengucapkan banyak terima kasih padamu. " ujarnya dalam terengah-engah.
" Kau kenapa? Apa sesuatu terjadi lagi padamu?? " tanya Amerta kembali khawatir.
Mereka berdua berlanjut saling berbicara di dalam telepon.
" Tidak. Tidak usah tanyakan hal, aku baik-baik saja. Oh ya, sekarang kau ada dimana? " tanya Zuu.
" Aku baru selesai latihan, eh maksudnya tengah istirahat. " sahutnya.
" Oh jadi latihan menarinya sudah diberi oleh Kak Leon? "
" Iya benar. Lumayan sulit, sepertinya dia sudah ahli sekali dalam bidang menari? "
" Tentu saja, pengalaman-Nya memang sangat leluasa. Lalu kapan akan di mulai lagi? Apa akan dilanjutkan besok? " tanya Zuu kembali.
" Aku tidak tahu, dia hanya memberi kami pelajaran selama beberapa menit lalu pergi, dia mengatakan ada urusan tapi sampai sekarang juga belum kunjung datang kembali kesini. " sahutnya.
" Hm... Kau tidak mengetahui dia kemana? "
" Untuk apa aku bertanya-tanya hingga kesana, itu urusan pribadi. Pertanyaan juga memiliki perbatasan Zuu!! Aaarrggh... Kau ini! Memang kenapa? Ada urusan apa kau dengan Kak Leon? " tegur ajar Amerta.
" Tidak ada, aku hanya bertanya saja. Yasudah, aku akan menutup telepon-Nya. " tutur katanya.
" Eh tunggu, sekarang bagaimana kondisi-Mu? Sudah merasa lebih baik? Kau sudah mendapatkan pengobatan dari dokter? Apa masih di dalam rumah? " Amerta bertanya-tanya.
" Jangankan mendapatkan pertolongan dari dokter, sampai rumah saja belum. " keluh-Nya.
Seketika Amerta terkejut.
" Hah?? Apa?? Hey kau sudah keluar dari sekolah ini beberapa jam yang lalu, mana mungkin kau belum sampai juga? Jalan apa yang dilewati oleh-Mu hah? Kenapa bisa sampai selama itu?? " ocehnya.
" Perasaan juga ungkapan kita sama Amerta, jika aku bertemu nanti dengan Kak Lee, sungguh! Aku akan..., " dongkol Zuu terhenti.
Mendabak ponsel milik-Nya mati.
" grrr!!! Bagaimana bisa seperti ini hah!!?? Hiks... " keluh-Nya.
Di tengah-tengah mengeluh Zuu seketika ingat sesuatu.
" bagaimana jika Kak Lee menelpon menanyakan keberadaan-Ku??! Aaarrggh... Tidak bagaimana ini!!? " bimbang-Nya berteriak.
Lama mengeluarkan amarah juga ungkapan kesalnya, alhasil Zuu merasa kelelahan. Ia pun berkeputusan untuk duduk di kursi umum tepi jalanan. Saat ingin menduduki kursi tersebut tiba-tiba saja terdengar jelas di telinga Zuu seseorang berteriak merintih kesakitan dengan langsung juga Zuu terkejut dan terperanjat akan teriakannya itu.
" Aaarrggh... " teriakan
" Wah!! " kejutnya.
Saat menoleh ke arah suara berasal, ternyata dia adalah seorang anak kecil yang tadinya tengah memakan es krim tapi karena ulah Zuu menduduki tangan sebelahnya anak itu, makanan yang ia genggam pun jatuh karena terkejut terutama kesakitan, sigap anak kecil itu menangis histeris. Zuu berusaha menenangkan dan meminta maaf.
" eh, eh, eh. Adik tenang yah? Tenang! " membelai-belai.
" Kau menjatuhkan es krim milik-Ku!! Karena-Mu aku tidak bisa lagi untuk memakannya. " berkeluh.
Zuu langsung mengambil kembali es krim yang terjatuh itu dan malah memberikannya.
" Ini dia es krim milik-Mu, sungguh aku tidak sengaja melakukan hal itu, aku minta maaf. " tutur katanya.
" Hiks...!!! Es krim itu kotor apa Kakak tidak melihat-Nya, jika aku sakit bagaimana? " ujarnya menangis.
" Oh... Euu... Adik tidak perlu menangiskan hal ini... Ini han... " belu-belai Zuu terhenti.
Sekonyong-konyong datang seorang pria berbadan kekar, sontak saja Zuu terkejut-kejut juga gelisah resah. Ia mengatakan kembali kepada anak kecil itu dengan memberikan-Nya uang sebagai tanda gantinya es krim yang dibuat Zuu hingga jatuh.
" ini, ini. Ambil saja uang-Ku, ini pasti cukup untuk membeli ulang es krim-Mu yang terjatuh. Sekali lagi aku katakan minta maaf, sampai nanti. " ujarnya lekas berlari cepat.
" ahh!!! Kenapa hal seperti ini saja terjadi!? " berkeluh seraya berlari.