
"Mas, bangunlah. Sudah pagi."
"Cup.." Bukannya menyahut suara istrinya, Davee malah langsung mencium pipi Riana.
"Ih, sana mandi dulu."
"Mandi bareng saja."
"Nggak ah, nanti Mas lama lamain. Telat lo nanti ke kantornya." Ujar Riana.
"Iya deh, Mas mandi duluan."
"Hehe, gitu dong. ya udah aku mau bantu Bi Muna masak dulu deh di dapur."
"Iya Sayang, hati hati lo turun tangganya."
"Iya Mas, aku udah lihai naik turun tangga tau."
"Ya udah, jangan terlalu capek."
"Iya Mas, kapan sih mandinya? Bawel aja. Sana cepetan..." Kata Riana seraya mendorong tubuh Davee.
***
"Selamat pagi Bi.." Sapa Riana setelah sampai di dapurnya, dan mendapati Bi Muna lagi sibuk mengaduk isi wajannya.
"Eh, Nona. Pagi juga Non." Balas Bi Muna seraya memberi senyum pada Riana.
"Bibi masak apa?"
"Tumis jamur, Non."
"Wah, sepertinya enak tu Bi. Kalau gitu Riana yang bikin salad buah nya ya Bi?"
"Memangnya nggak apa apa Non? Nanti Nona kecapean lo. Kan Nona sekarang juga lagi hamil."
"Nggak apa apa kok, Bi."
"Nona?" Panggil Bi Muna.
"Iya, Bi?" Sahut Riana.
"Nona, sebenarnya orang tua saya lagi sakit Non."
"Benarkah, Bi? Sakit apa, Bi?"
"kanker otak stadium empat, Non." Ujar Bi Muna dengan mimik wajah sedih.
"Astaga, Bi. Kok Bibi baru bilang sekarang?"
"Saya takut dibilang nggak profesional, Non. Nanti Nona dan Tuan akan memecat saya. Apalagi sekarang Nona lagi hamil muda. Kalau saya dipecat, saya nggak tau lagi harus bagaimana mendapatkan uang untuk pengobatan Bapak saya, Non." Kata Bi Muna, Bulir air mata mengalir turun di pipinya.
"Bi.." Riana memegang kedua bahu Bi Muna, dan memandang matanya. "Jangan berpikir begitu, Bi. Bibi cepatlah pergi ke rumah sakit sekarang. Aku akan menjelaskan dengan Mas Davee untuk memberikan Bibi sedikit bekal untuk pengobatan orang tua Bibi."
"Non, Jangan Nona. Bibi baru sebentar bekerja di sini Non. Bibi nggak pantes mendapatkan itu."
"Nggak Bi, sekarang Bibi tunggu di sini. Aku mau naik ke atas dulu ya."
Riana meninggalkan Bi Muna untuk pergi ke kamarnya, menemui Davee.
"Mas.." Riana langsung memeluk suaminya setelah sampai di kamar.
"Ada apa Riana?"
"Hari ini aku nggak bisa ikut ke kantor kamu."
"Emangnya kenapa Sayang?"
"Mas, orang tua Bi Muna sakit kanker otak Mas. Dia harus ke rumah sakit sekarang, dan aku mau gantiin Bi Muna di rumah dulu ya."
"Kamu yakin Riana? Apa kalau gitu kita sewa asisten baru aja?"
"Jangan Mas, Bi Muna membutuhkan pekerjaannya. Dan Mas tau kan, ibu hamil itu bukan cuma aku aja. Banyak kok perempuan di luar sana yang bisa hamil sampai dengan melahirkan tanpa seorang asisten rumah tangga di rumahnya. Aku bisa Mas, ya Mas? Aku mohon bantu Bi Muna." Ujar Riana memelas. Davee menarik nafas berat.
"Baiklah kalau begitu, tapi kamu harus jaga kesehatan ya. Kalau ada apa apa kamu harus segera mungkin hubungin aku."
"Iya Cinta. Eh, tapi aku ada permintaan lagi Mas."
"Apa itu Sayang?"
"Kasih Bi Muna uang untuk membantu biaya pengobatan ayahnya Mas."
"Tapi Bi Muna baru sebentar kerja di sini, Riana."
"Mas? Apa bedanya sebentar atau lama kalau kita mau ikhlas membantu orang lain Mas. Ayolah.."
"Yang benar Mas?"
"Iya, Sayang."
"Makasih Mas.." Riana memeluk Davee.
"Tapi ini berarti aku harus mencairkan uangnya dulu dong."
"Iya, Sayang. Aku nggak punya banyak uang cash."
"Ya sudah deh kalau gitu. Ayo kita sarapan. Eh sini, aku pakaikan dasi dulu. Uh suami ku ganteng sekali." Puji Riana pada suaminya.
"Bunda mu jadi penggombal akut sekarang, Sayang." Ujar Davee sambil mengelus perut Riana. Riana terkekeh mendengar ucapan suaminya.
Setelah sampai di dapur Riana menarik kursi meja makan, dan menyuruh Davee untuk duduk.
"Mas tunggu di situ bentar ya. Aku mau lanjutin bikin saladnya."
"Iya, Sayang. Bi Muna masak apa Bi?"
"Ini lagi masak ayam goreng, Tuan. Juga ada jamur ini, Tuan."
"Baiklah, Bi. Semangat masaknya, Bi." Ujar Davee.
"Baik, Tuan." Sahut Bi Muna.
"Yey, salad buahnya sudah jadi. Sekarang kita makan masakan Bibi dulu. Baru makan saladnya." Ujar Riana sembari mengambil makanan untuk Davee.
"Kamu makannya harus banyak, Sayang. Biar dedenya sehat."
"Iya, Mas."
***
Pukul dua belas siang, yang berarti Davee sedang istirahat. Sudah menjadi kebiasaanya apa bila jam istirahat ia selalu pergi ke restoran dekat dengan perusahaannya. Davee memasuki restoran dan ketika ia baru tepat berdiri di ambang pintung restoran, matanya sudah menangkap seseorang yang sangat ia kenal.
"Rani.." Ujar Davee lirih.
Ya, ada Rani di sana. Ia terlihat seorang diri, dan sepertinya ia sedang dalam kesedihan. Setelah berpikir dan mempertimbangkan beberapa detik, Davee memutuskan untuk bertegur sapa dengannya. Toh, kejadian lalu cuma masa lalu. Bukan berarti seseorang di masa lalunya harus menjadi musuhkan? Begitulah pikir Davee.
"Rani?" Panggil Davee sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Rani.
"Davee?" Rani tersentak kaget. Dan berusaha menutupi kegundahan di wajahnya.
"Sendiri aja?"
"Eh iya nih, Dav. Kamu?"
"Ya seperti yang kamu lihat. Aku sendiri."
"Iya, Dav."
"Ran, sepertinya kamu terlihat habis menangis. Kalau boleh aku tau, ada apa Ran?"
"E, nggak apa apa kok, Dav."
"Ran, ceritakan lah. Paling nggak, dengan kamu bercerita, pikiran mu bisa sedikit lebih tenang. Dan jika setelah aku mendengar permasalahanmu, aku bisa membantu, aku akan mengusahakannya." Tutur Davee.
"Dav, maafin aku waktu itu yang membuatmu bertengkar dengan pacarmu." Kata Rani.
"Bukan pacar, Ran."
"Lalu?"
"Dia istriku, waktu itu aku nggak mengatakan di istriku padamu karena dia masih sekolah. Aku takut soal pernikahan kami akan terdengar di semua penjuru sekolah dan jadi membebani pikiran Riana." Jelas Davee, Rani terlihat syok mendengarnya. Ia menatap wajah Davee dengan lekat, mencari kebenaran dibalik cerita yang ia dengar dari mulut Davee. Tapi sepertinya memang benar yang diucapkan Davee. Begitu pikirnya.
"Aku sungguh nggak tau, Dav. Kapan kamu menikah?"
"Sekitar enam bulan yang lalu."
"Oh.."
"Ran, jangan simpan sendiri kesedihanmu."
"Dav, aku sudah menikah. Dan aku hamil sekarang."
"Seharusnya kamu senang, Ran. Lantas kenapa kamu sepertinya nggak mengharapkan anak itu ada?"
"Ya, aku memang nggak mengharapkan kehadiran anak ini. Dulu memang aku menginginkannya, agar suami ku mau menikahi aku. Tapi ternyata, setelah aku resmi menikah dengannya, dia sudah punya istri, Dav. Dan dia lebih memilih istri pertamanya itu dari pada aku. Aku nggak tau lagi harus bagaimana, Dav. Orang tua ku sudah enggan menerima ku karena mereka sejak awal sudah nggak menyetujui hubungan ku dengan Sugeng, suamiku. Tapi waktu itu aku sudah terlanjur dengan sangat mencintai Sugeng. Jadi aku merelakan tubuh ku, agar bisa mendapatkannya."
_______________________________
Halo jadi author punya novel baru yang berjudul "Apa? Menikah dengannya?" tapi sedang adaptasi ganti judul "tasty tasty married" ya. Jangan lupa mampir ke sana ya. Lihat lihat dulu ceritanya, kalau cocok tambahkan ke favorit kalian. Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian juga di sana.