
"Horey..." Seru Riana setelah sampai di Kungsträdgården, Riana berjingkrak jingkrak kegirangan. Tangannya ia rentangkan sambil memejamkan mata. Melihat begitu Davee memeluk Riana dari arah belakang. Riana membuka matanya dan berbalik menghadap Davee, mencium pipi Davee. "Makasih ya Sayang..." Ujar Riana dengan tangannya yang mengelus pipi Davee. Davee mencium bibir Riana dan melumatnya. Membuat wajah Riana seketika terlihat merah semu, belum lagi di situ ada Endra.
"Sekertaris Endra, kuharap kamu nggak melihatnya tadi.."
"Mas, masa cium begitu di sini?" Kata Riana berbisik.
"Nggak apa apa, kamu malu pada Sekertaris Endra?" Tanya Davee, Endra segera memalingkan wajahnya ke arah Davee ketika namanya disebut. "Sekertaris Endra juga begitu dengan istrinya, Sayang." Kata Davee, Endra hanya dapat menyajikan senyum simpul atas perkataan Tuannya.
"Untung sekarang anda dan Nona sedang di Swedia Tuan, jika saja anda berciuman seperti itu di Monas, kalian mungkin akan jadi sorotan kamera para remaja untuk story sosial media mereka. Dan seharusnya anda tidak menyebutkan begitu tentangku di depan istrimu." Rutuk Endra dalam hatinya.
"Mas, aku lapar. Bagaimana kalau kita cari restoran dulu?"
"Baiklah kita cari restoran di sini. Sekertaris Endra mari ikut." Ajak Davee pada Endra.
"Baik Tuan..."
Mereka menyusuri sepanjang sisi timur taman, di sana berjejer berbagai stand makanan cepat saji, kafe, dan restoran. Riana memilihkan restoran waralaba internasional untuk mengisi perut mereka.
***
"Mas?" Panggil Riana.
"Iya?" Sahut Davee sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Riana.
"Aku senang sekali.."
"Berhasil.."
"Maksudnya Mas?"
"Berhasil membuat mu bahagia hari ini." Ujar Davee.
"Mas memang betul betul suami terbaik." Kata Riana seraya mengacungkan jempolnya. Davee tersenyum lebar. "Patung patung ini bagus sekali ya Mas," kata Riana, sambil memainkan tangannya yang meraba setiap patung patung yang ia lewati.
"Iya Sayang, pasti pembuatnya adalah seniman terbaik di kota ini."
"Mas, aku juga ingin ke Galeri Wetterling, ayo kita ke sana." Riana menarik tangan Davee. Davee hanya pasrah mengikuti istrinya.
Ketika sedang menikmati pameran seni. Seorang perempuan yang datang dari arah pintu masuk, mendekati Davee dan Riana.
"Hej Davee, hur mår du?(Halo Davee, apa kabar?)" Sapa perempuan itu dengan bahasa Swedia.
"Shena?" Tanya Davee hampir tidak mengenalinya.
"Wouu, bad, you've forgotten me." Shena menggeleng gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Maaf Shena, tapi kamu sungguh sangat berubah." Davee tertawa renyah.
"Ya begini lah, kamu sedang apa di sini?" Tanya Shena.
"Aku sedang liburan, kamu juga?"
"Nggak, aku kuliah di sini."
" Wah, pantas saja kamu sudah terdengar lihai sekali berbahasa Swedia tadi. Oh iya, kenalkan ini Riana. Dia istri ku.." Kata Davee, yang baru menyadari istrinya sedari tadi hanya menjadi kambing congek di sampingnya, menyaksikan obrolan mereka.
"Haha, nggak usah terlalu kaget begitu. Saat resepsi pernikahan, aku memang nggak mengundang banyak orang. Ayolah cepat berkenalan dengan istri ku ini."
"Oh iya, Shena.." Kata Shena sambil mengulurkan tangannya pada Riana.
"Riana.." Membalas jabatan Shena.
"Aku betul betul nggak menyangka, teman ternakal di dalam kelas sekarang sudah menjadi seorang suami." Kata Shena.
"Ya begitu lah, dan secepatnya juga aku akan menjadi seorang ayah." Ujar Davee.
"Mas Davee apaan sih! Pakai ngomong gitu, Aku malu Mas!" Rutuk Riana dalam hati.
"Haha, seorang playboy kulihat sekarang sudah bisa mencintai dengan sungguh sungguh juga ya."
"Tu kan Sayang, Shena aja bisa melihat kalau aku ini sungguh sungguh mencintai mu." Kata Davee pada Riana, Riana hanya membalasnya dengan senyuman.
"Riana, kamu hebat bisa merubah Davee. Dan ngomong ngomong aku seperti pernah melihat mu."
"Aku juga Kak, tapi di mana ya?"
"Riana, kamu itu adalah adik kelas ku. Hahaha.. Kita melupakannya. Davee juga nggak bilang kalau Riana adalah adik kelas kami."
"Oh iya yah.. Hehe.." Riana menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga lupa sih.."
"E, kalau gitu aku mau pergi dulu ya. Teman teman ku sudah menunggu. Sampai ketemu.." Ujar Shena lalu meninggalkan Riana dan Davee.
"Cantik ya Mas.."
"Iya Sayang, tapi masih lebih cantikan kamu dong." Ujar Davee, membuat Riana tersenyum senyum.
"Mas, fotoin dengan jarak dekat dong."
"Baiklah.."
Cekrekk...
"Bidadari cantik.." Ucap Davee sambil memandangi layar handphonenya.
"Mas Davee gombal deh."
"Bidadari jelek.."
"Ih nyebelin.."
Davee hanya bisa menggaruk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
......................................
Halo reader ku yang setia, tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya. Kasih semangat terus buat Author agar Author semangat juga mengarangnya.