
"Sebentar ya, gue ambil betadine sama plester dulu. Lo di sini aja." Ujar Davee lalu bergegas melangkah.
Davee kembali dengan membawakan betadine dan plester lalu dengan hati hati cairan betadine di teteskannya pada luka Riana.
"Arrgh, perih." Riana memekik.
"Tahan bentar. Gue buka kemasan plesternya dulu. Sini ya, oke selesai." Davee tersenyum pada Riana. Riana pun membalas senyuman Davee.
"Makasih ya Ka,"
"Iya sama sama. Gue aja yang motong sayurnya," Davee berdiri kemudian mengambil sisa potongan wortel Riana tadi dan memegang pisau di tangan kanannya.
"Eh jangan, nanti lo luka lagi."
"Nggak, kamu sambil ajarin aku."
"Eh kok aku kamu sih?" Riana bingung sehingga menaikkan alisnya. Davee tersenyum.
"Mulai sekarang kita jangan pakai lo gue lagi,"
"Hah?"
"Sssttt, ayo ajarin aku. Ini gimana caranya?"
Riana akhirnya menuruti saja.
"emm, itu gini.." Riana sudah ingin berdiri dari tempat duduknya dan ingin membantu Davee tapi cepat cepat Davee menahannya.
"Kamu ngajarinnya dengan duduk aja."
"Ka Davee, aku nggak apa apa kan ini cuma luka kecil."
"Udah, sekarang aku laper jadi aku harus motong sayur sendiri."
"Apa hubungannya Ka?" Riana mengernyitkan dahinya.
"Hahaha, nggak tau." Davee menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara Riana terkekeh melihat Davee.
"Itu wortelnya diberdiriin dulu terus diginiin, ini namanya potongan pensil."
"Oh gini ya? Yeah aku bisaa.." Davee mengepalkan tangan kanannya lalu mengacungkannya keatas.
"Hahaha, sesenang itu."
Davee terus tersenyum karena bahagia dengan hasil potongan wortelnya.
"Mana wortelnya lagi?" Tanya Davee pada Riana yang sedari tadi menatap kerjanya.
"Masa wortel mulu, itu kentangnya juga. Nah tuh kan udah aku kupasin jadi motongnya gini." Riana mempraktekan pada Davee.
"Oh gini, ini gampang."
Riana hanya terkekeh melihat Davee. Sayuran sudah selesai di potong oleh Davee, Riana sudah diperbolehkan Davee berdiri dan bergerak. Tentu saja, karena siapa lagi kalau bukan Riana yang memasaknya.
10 menit kemudian sup sayur sudah terhidang di meja makan, Davee berkali kali menelan ludah sedari tadi karena mencium aroma masakan Riana. Apalagi setelah melihat sup yang sudah dihidangkan begitu menggoda nafsu makan Davee.
"Emm enak banget," Ujar Davee sambil melahap makanannya. Riana tersenyum melihatnya.
"Ka Davee, nanti temenin belanja ke pasar ya. Aku mau beli sayuran biar stok kita nggak sempat habis."
"Kok di pasar? Nggak di mall aja?"
"Nggak, biar kita bisa bantuin ibu ibu dan bapak bapak untuk biaya keluarganya. Di mall bosnya udah kaya."
"Orang tuanya kaya, kok bisa anaknya gini ya. Rani mah mana mau kalau belanja di pasar." Batin Davee setelah mendengar perkataan Riana.
"Kok diem sih? Ya kalau kamu nggak suka suasana pasar kamu tunggu di mobil aja nanti."
"Nggak, nanti aku ikut masuk pasar juga nemanin kamu." Kata Davee, Riana tersenyum mendengarnya.
Riana dan Davee sudah selesai melahap sarapan mereka, seperti rencana Riana tadi Riana dan Davee sudah bersiap ingin pergi ke pasar tujuan mereka.
........................................................................
***Jika up nya terlalu lama, mungkin author akan memberitahu masalahnya di ig pribadi author @putrianiwiningsih. Atau mungkin author akan menunjukkan visual Davee di sana dalam beberapa waktu lagi.
Terimakasih yang terus menanti setiap chapter novel ini. Dukung novel ini dengan like, vote juga semangat kalian pada author
saat ini vote tertinggi dari pembaca novel Suamiku Mesum adalah Winda Cahyani. Terimakasih atas nama yang disebutkan***