
Davee kembali bersandar di tempat sebelumnya jatuh bersama Riana, lalu memainkan handphonenya. Beberapa saat kemudian berbunyi dan langsung di angkat oleh Davee.
"Halo Ran,"
Riana langsung bereaksi melihat kearah Davee ketika nama Rani didengarnya, Riana memang tidak mempunyai perasaan terhadap Davee tapi ia tidak mau menjadi janda muda terlalu cepat apalagi Riana sudah pernah di sentuh Davee walau belum pernah bermain tapi ciuman dan remasan itu tetap saja bernilai melecehkan jika saja ia belum menjadi suaminya tindakan tersebut bisa dikatakan tindak seksual atau bahkan kriminal.
"Huh," Dengus Riana lalu kembali berbaring di sebelah Davee.
"Dimana? Oke aku akan segera kesana." Davee mematikan telpon lalu segera beranjak dari ranjang dan mulai bersiap siap untuk keluar kamar.
"Ka Dav, lo mau kemana? Gue takut," Riana cepat cepat duduk dan memastikan Davee tidak meninggalkannya.
"Maaf Ria, Rani membutuhkan bantuan gue. Gue harus pergi sekarang." Davee setengah berlari membuka pintu kamar.
"Brengsek!" Umpat Riana setelah Davee meninggalkannya. Riana mulai tidak tenang, ia masih mengingat wajah mengerikan di dalam film yang ditontonnya tadi. "Aku harus pergi dari rumah ini," Riana bergegas pergi ke kamarnya untuk memakai jaket lalu pergi dengan tergesa gesa. Ia berjalan ke jalan besar untuk menunggu taksi karena di rumahnya tidak ada kendaraan selain mobil Davee yang juga sudah menghilang bersama empunya.
Riana memencet telponnya mencari kontak telpon sahabatnya Amanda, setelah ia sudah berada dalam taksi yang ditumpanginya.
"Halo Amanda, gue sekarang lagi di jalan. Gue boleh nginap di rumah lo nggak?"
"Hah? Bukannya lo ada urusan di luar kota bersama bokap nyokap lo?" Tanya Amandi di seberang telpon.
"Ih bukan waktunya bahas itu dulu, yang terpenting sekarang gue butuh tempat tidur malam ini."
"Iya iya lo bisa kok tidur di sini selama yang lo mau, gue di rumah."
"Okeyy, sekitar 20 menitan lagi gue sampai."
20 menitan taksi sudah mengantar Riana di depan gerbang rumah Riana. Satpam yang sudah mengenal Riana karena sering melihatnya selalu bertiga dengan Amanda juga Linda keluar masuk rumah itu, segera membuka pagar untuk Riana.
"Nona Riana mau cari Non Amanda ya? Silahkan masuk aja Non." Satpam itu tidak menunggu jawaban Riana melainkan langsung mengantarnya menuju teras rumah Amanda.
"Makasih Pak, Bapak boleh pergi." Ucap Riana pelan kepada satpam. Riana mengetuk pintu lalu keluar Bapak Johan yang tidak lain adalah papa Riana.
"Riana, apa kabar? Om lama tidak melihat kamu main ke sini." Papa Riana adalah orang hangat, ia menyambut kedatangan Riana dengan hangat pula.
"Hehe, malam Om. Riana ada urusan keluarga Om makanya lama nggak main ke sini." Jawab Amanda sambil mencium punggung tangan Pak Johan. "Amanda nya ada kan Om?" Tanya Riana.
"Ada, silahkan masuk dan cari saja Amanda di kamarnya." Kata Pak Johan, Pak Johan merupakan seorang single parent istrinya tepatnya ibu dari Amanda dan adik sudah meninggal 1 tahun lalu. Amanda waktu itu sangat terpukul dengan keadaannya, ia begitu dekat dengan ibunya lalu di tinggal ibunya karena sakit tumor yang di deritanya, beruntung Pak Johan selalu menyayangi mereka dan merawat mereka dengan sangat baik bahkan karena itu ia tidak berniat untuk beristri lagi karena takut akan mendapatkan ibu tiri yang salah untuk Amanda dan adiknya, Liliy. Ia juga lebih cepat melewati masa terpukul karena persahabatannya dengan Riana juga Linda. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Makasih Om, Ria ke atas dulu ya Om." Riana mengeluarkan senyumnya sebelum meninggalkan Pak Johan.
\\\\\\\\\\\\\\\\\\
****Jika up nya terlalu lama, mungkin author akan memberitahu masalahnya di ig pribadi author @putrianiwiningsih. Atau mungkin author akan menunjukkan visual Davee di sana dalam beberapa waktu lagi.
Terimakasih yang terus menanti setiap chapter novel ini. Dukung novel ini dengan like, vote juga semangat kalian pada author
saat ini vote tertinggi dari pembaca novel Suamiku Mesum adalah Winda Cahyani. Terimakasih atas nama yang disebutkan****.