Binar Mahligai

Binar Mahligai
Bab 61



"Tuan, maafkan saya. Saya harus terpaksa meninggalkan perusahaan ini. Karena kepentingan yang begitu mendesak, Tuan. Saya sudah membicarakannya dengan Tuan Besar, dan Tuan Besar menyerahkan keputusan pada Tuan." Jelas Gilang dengan sorot mata memelas.


"Apa tidak sebaiknya menunggu malam konversi CEO malam ini, Gilang?"


"Tidak, Tuan. Saya harus lebih cepat untuk pergi ke Malaysia."


"Baiklah, siapa yang akan menggantikan mu Gilang?"


"Nadila, Tuan. Dan karena pagi ini saya sudah harus meninggalkan Indonesia jadi saya membawa Nadila ke sini untuk mulai bekerja hari ini juga untuk menggantikan saya." Jawab Gilang Singkat, Davee mengangguk anggukan kepalanya sebelum berkata..


"Aku ijinkan kamu cuti selama itu. Kuharap problem mu akan cepat selesai dan membaik lagi, dan dimana sekertaris pengganti mu itu?"


"Terimakasih, Tuan. Saya akan memanggil Nadila, ia ada di ruang tunggu." Gilang lalu pergi untuk memanggil Nadila.


Mulai hari ini Gilang yang merupakan sekertaris Davee akan menjalani cuti yang panjang dan digantikan oleh Nadila seorang anak teman Papa Santoso. Perempuan berparas cantik memiliki bentuk mata yang oval, kulit putih, tinggi badan semampai berusia 20 tahun.



"Permisi, Tuan." Ujar Nadila menyapa Davee.


"Iya, silahkan duduk."


"Terimakasih, Tuan." Nadila lalu menarik kursi dan duduk di depan meja Davee.


"Kamu tentu sudah mendengar penjelasan Gilang untuk masalah konversi CEO nanti malam?"


"Iya, Tuan. Saya juga sudah mempelajarinya, Tuan tenang saja. Semua akan berjalan dengan lancar." Sahut Nadila dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Bagus, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik, Tuan." Nadila lalu bergegas dan berjalan ke arah pintu. "Benar benar pemuda yang tampan, perawakannya juga bagus dan tidak lupa dia kaya. Dalam 2 minggu pun aku sudah bisa membuat jatuh bersama cinta ku." Batin Riana seiring langkahnya meninggalkan ruangan.


***


Jam istirahat sudah datang, Riana dan kedua sahabatnya pergi meninggalkan kelas untuk mengisi perut mereka dengan bakso yang menjadi santapan mereka setiap harinya di sekolah. Ketika Riana ingin duduk, Davit datang dan menarik pelan tangan Riana.


"Riana kita cari meja lain saja, aku ingin mengobrol dengan mu."


"Tap, tapi Davit. Aku.."


"Ayolah. Kamu sudah berjanji, Riana."


"Baiklah.. Man, Lin. Aku kesana sebentar ya."


"Iya Ria.." Ujar Amanda dan Linda secara bersamaan.


"Selama dia tidak menyakiti Nona biarkan saja."


"Baiklah,"


Davit memesan 2 es teh manis untuknya berdua.


"Riana, kemana kamu akan melanjutkan study mu setelah lulus?"


"Aku nggak tau, Vit. Aku belum memikirkannya."


"Riana, cepatlah kamu pikirkan. Aku akan mengikuti Universitas yang kamu pilih." Riana terbelalak mendengar ucapan Davit.


"Vit, basic dan bakat kita berbeda, serta cita cita kita pun berbeda. Kamu jangan merusak masa depan mu karena diri ku."


"Nggak, Ya. Aku tetap akan mengikuti mu, aku harus menjagamu."


"Davit, aku bisa menjaga diriku. Kamu pilihlah Universitas pilihan mu serta prodi yang sesuai dengan dirimu."


"Riana, aku mencintai mu. Aku nggak ingin pisah dari mu, dari itu aku rela jika harus menghapus cita cita ku demi bisa bersama mu terus, aku takut kamu menemukan pria lain di tempat kuliah mu nanti."


"Aku sudah menemukan pria lain, Vit. Nggak perlu ke Universitas mana pun aku sudah menemukan pria itu bahkan aku sudah menjadi istrinya. Bagaimana aku harus menjelaskan padamu." Batin Riana, terlihat wajah murung di sana. "Vit, berhenti lah mencintai ku. Aku bukan orang yang bisa kamu cintai lagi, kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dari ku."


"Nggak, Riana. Semua sifat wanita baik ada di dirimu."


"Cukup Davit! Aku juga nggak akan mau dengan laki laki keras kepala sepertimu. Bagaimana aku bertahan di masa depan jika harus mengadapi sikapmu yang keras kepala ini. Kamu masih muda Vit, hati mu masih bisa berubah rubah. Bagaimana jika perasaan cinta di hati mu hilang? Yang ada, hanya perasaan menyesal berpanjangan di hidupmu."


"Riana, kalau begitu jadilah pacarku."


"Davit, sepertinya aku harus mengatakannya padamu walau ini menyakitkan. Aku sudah mempunyai pacar, Vit." Ujar Riana.


Davit terbelalak tidak percaya. Bibirnya bergerak seperti ingin membantah namun di urungkannya kembali. Hatinya terasa sakit, teramat sakit. Riana adalah cinta pertamanya yang dicintainya semenjak 2 tahun lalu. Cinta Davit sudah puluhan kali di tolak oleh Riana, namun alasannya masih bisa Davit pahami dan Davit berpikir akan ada waktunya tiba, dimana Riana siap menjadi pacarnya karena ia tahu Riana juga menyukainya. Namun sekarang, sudah berbeda. Alasan yang membuatnya tak bisa berkutik lagi.


"Maafkan aku, Vit. Aku harap kamu mengerti, dan jangan mengejarku lagi." Riana ingin meninggalkan Davit namun tangan Riana sudah dicengkram oleh Davit.


"Riana, kamu pasti bohong."


"Lepaskan aku Davit, aku tidak bohong padamu." Riana mengguncang guncangkan tangannya, namun pegangan Davit sangat kuat sehingga Riana tidak dapat melepaskannya.


Melihat Riana yang memberontak ketika tangannya di cengkram oleh Davit, 2 penjaga tidak bisa tinggal diam lagi.


"Lepaskan tangan anda!" Ujar Penjaga Ragar dengan nada datar. Davit melepaskan tangannya, dipandangnya dua penjaga itu dengan tajam.


"Siapa kalian? Apa kalian penjaga sekolah? Mengapa kalian ikut campur urusan remaja seperti ini!" Ujar Davit dengan melotot, dirinya sedikit melongakkan kepalanya untuk menatap wajah Penjaga Ragar yang sedikit lebih tinggi dari padanya.