Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 13



"Mama...." Riana langsung memeluk Mama Rahma ketika sudah memasuki rumah orang tuanya.


"Anak Mama sudah jadi istri orang kok masih manja ginI sih." Ujar Mama Rahma ketika melihat kelakuan putri nya itu.


"Iya nih Ria, masa sudah jadi istri Davee kaya gitu. Riana di rumah sama kamu gitu nggak Dav?" Tanya Papa Darmawan kepada Davee yang sedari tadi diam saja melihat kelakuan Riana.


"Hah, e..." Davee tidak tau harus menjawab apa. Boro boro Riana bersikap begitu kepadanya. 2 hari ini aja masa akur mereka berdua bisa dihitung jari.


"Ahahhaha, Davee malu ya. Sudah sudah Papa hanya bercanda." Sembari menepuk bahu Davee. "Sebenarnya Papa ingin mengajak orang tua mu juga untuk mempersiapkan perlengkapan resepsi kalian ini, tapi orang tua kamu lagi sibuk untuk mengatur gedung resepsi kalian nanti. Dari itu Papa dan Mama aja yang akan menemani kalian mencari perlengkapan ini. Mari kita berangkat sekarang." Sembari memberi senyum kepada Davee.


"E, iya Om, eh maksudnya Pa." Davee tersenyum canggung.


"Hehe, Papa ngerti kok. Lama lama akan terbiasa. Ayo?" Sekali lagi Papa Darmawan mengajak untuk berangkat.


"Gimana kalau kita pakai satu mobil aja Pa?" Kata Mama Rahma.


"Wah setuju tuh, biar kita rame rame." Balas Papa Darmawan.


"Tapi Pa, aku dan Davee sepertinya harus langsung pulang ke rumah nanti." Protes Riana.


"Eh nggak dong, sampai proses acara resepsi selesai kalian akan menginap di rumah ini." Papa Darmawan memasang senyum di wajahnya. Davee dan Riana bertatapan, bagaimana dengan tempat tidur. Bisa bisa Papa dan Mama akan marah jika tau mereka pisah kamar. Namun Davee dan Riana tidak bisa berbuat apa apa lagi. Keduanya terpaksa menggangguk pelan sembari memasang wajah kecut.


"Ih, mana mungkin gue bisa tidur dengan Otak Mesum ini. Besoknya mungkin gue udah terinfeksi sakit kejiwaan dari Davee." Batin Riana.


"Aduh gawat, bisa bisa junior gue hidup di depan Riana kalau gue tidur bareng sama ni cewek." Batin Davee juga.


"Kalian mikir apasih? Oh Papa ngerti, pasti kalian mau mesra mesraan ya. Hahahhaha tenang aja, Papa sama Mama akan tidur di bawah malam ini." Ejek Papa Darmawan yang membuat wajah Riana memerah karena menahan malu.


"Ih bukan gitu Pa.." Rengek Riana.


Papa Darmawan berjalan duluan ke mobilnya di susul dengan Mama Rahma. Sementara Davee dan Riana berjalan bersampingan tanpa bersuara sepatah katapun.


Di dalam mobil...


"Dav, apa kalian sudah merencanakan untuk mempunyai anak?" Tanya Papa Darmawan. Riana dan Davee terbelalak mendengar pertanyaan Papa Darmawan.


"E, anu Pa." Davee bingung harus menjawab apa dengan mertuanya ini.


"Sebaiknya kalian tunda kehamilan dulu. Riana kan masih sekolah. Nanti saja setelah Riana lulus." Jawab Mama Rahma. Davee dan Riana barusan sudah bisa mengantup mulut mereka masing masing. Riana mengelus dadanya.


"Untung aja ada Mama yang jawab." Batin Riana.


"Oh iya bener juga kata Mama kalian. Sebaiknya kalau kalian berhubungan, kamu pakai pengaman Dav." Ujar Papa Davee.


"Kenapa sih Papa hari ini macam macam terus ngomongnya." Riana mengerucutkan bibirnya.


"Oke Pa, aku akan membeli pengaman nanti." Balas Davee kepada Papa Darmawan. Riana menatap tajam ke arah Davee, Davee hanya tersenyum nakal mengetahui Riana kesal akan jawabannya itu.


"Auww,,," Davee tiba tiba menjerit, kakinya terasa sangat sakit. Ternyata itu injakan dari Riana karena kesal dengan Davee.


"Loh, ada apa Dav?" Tanya Mama Rahma yang terkejut mendengar jeritan Davee.


"Kakinya nggak sengaja kesentuh kaki ku Ma, kaki Ka Davee kesemutan. Maaf ya Ka Dav.." Riana tersenyum mengejek seraya mengelus bahu Davee. Davee hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


"Anak muda sekarang romantis banget ya, Papa jadi pengen jadi muda lagi." Ujar Papa Darmawan.


"Apasih Papa ini, tua mah tua aja Pa." Balas Mama Riana, Papa Darmawan memberi senyum pada istrinya. sementara Riana dan Davee hanya memandang mereka dengan mengerutkan dahi.