
"Mas, kita masak yuk? Aku lapar," ajak Riana.
"Baiklah, ayok?"
Davee dan Riana bergegas pergi ke dapur, Davee menggenggam tangan Riana, mencium kening Riana tiada hentinya. Riana hanya tersenyum, membiarkan suaminya bahagia dengan perlakuannya.
"Kita masak capcay saja deh ya Mas?"
"Terserah kamu saja sayang."
"Mas, besok aku boleh sekolah kan?"
"Hehe, sekolah lah kalau kamu siap ditertawakan satpam sekolah mu." Ujar Davee. Riana mengernyitkan dahi tidak mengerti.
"Maksud Mas?"
"Besok hari minggu Sayang.."
"Hah? Beneran Mas? Pasti karena kelamaan libur nih, aku jadi lupa hari. Aku bosen di rumah." Sambil menunjukkan wajah cemberutnya.
"Ya sudah besok ajak teman teman mu ke sini saja," kata Davee.
"Beneran Mas?" Dengan mata berbinar.
"Beneran Sayang.." Mengecup pucuk kepala Riana.
"Horey, aku nggak sabar ingin menghubungi mereka. Mereka pasti seneng..."
"Tapi jangan lupa puas kan aku dulu hari ini.."
"Hehe, baiklah.."
Dalam beberapa menit masakan Riana sudah tersaji. Riana mengambilkan nasi suami dan dirinya.
"Oh iya, kamu belum menyebutkan tempat yang akan kita kunjungi sebagai tempat bulan madu kita nanti. Kamu mau kemana Sayang?"
"Ke Swedia, di sana banyak aneka kegiatan romantis yang ada di Stockholm, sepertiĀ mengunjungi katedral bersejarah, Istana Kerajaan dan museum penghargaan Nobel. Aku juga ingin memesan perahu wisata untuk menikmati semua pemandangan cantik yang disajikan Stockholm nanti. Uh, nggak sabar sekali.."
"Baiklah, nanti kita akan ke sana."
"Uh baik sekali suami ku. Coba dari dulu seperti ini. Hehehe..."
"Tentu dong, nama juga sama istri tersayang."
Kedua pasangan itu sama sama terkekeh.
Makanan sudah selesai di santap, Riana dan Davee kembali ke kamar. Davee tidak ada hentinya mengecup seluruh titik wajah Riana. Bermain main pada dada Riana. Puncaknya adalah percintaan pun terjadi lagi.
Riana berjalan untuk membersihkan diri di kamar mandi, melewati kaca yang memantulkan dirinya. Riana terbebelak melihat tubuhnya penuh dengan tanda merah.
"Mas, besok teman teman ku kan ke sini. Kalau kaya gini aku bisa malu. Ih.."
"Nggak apa apa Sayang, mereka kan tau kita sudah nikah." Jawab Davee sambil memandangnya dengan tersenyum manis.
"Mas ngeselin, masa bikinnya sampai gini. Di leher susah ditutupin Mas."
"Ya pakai tali leher lah Sayang." Jawab Davee dengan santai.
"Ya kali aku pakai syal di dalam rumah. Emang rumah kita ada saljunya ya Sayang? Heh?" Riana membalikkan kepalanya menghadap wajah suaminya. Davee terkekeh, lalu berjalan mendekati Riana.
"Maafin aku ya Sayang," Davee memeluk Riana dari belakang dan mengecup punggung Riana. "Sebagai gantinya kita mandi bareng saja." Ujar Davee, Riana mengernyitkan dahi.
"Di kamar mandi pasti kamu membuat lama keluar lagi Mas.."
***
1 bulan kemudian, Riana sudah melewati semua ujian sekolahnya. 3 minggu lagi Riana akan menjalani perpisahan sekolah. Davee dan Riana kini sudah menyiapkan persiapan untuk honeymoon mereka besok pagi. Terutama Riana, ini pertama kalinya ia akan menginjakkan kaki di Luar Negeri, Riana membawa baju baju terbaiknya dan sebagian baru ia beli karena ia kurang mempunyai baju baju tebal untuknya di Swedia. Riana berharap ia dan suaminya akan mengalami masa masa turunnya salju di sana. Davee membawa sekertaris yang ia percayai bernama Endra ikut bersama mereka.
"Mas, besok aku pakai ini cocok kan?" Ujar Riana memperlihatkan celana chaki dan blouse di tangannya.
"Iya Sayang.."
"Bagus kan Mas?"
"Bagus kok Sayang."
"Masa sih Mas? Nggak jelek kan?"
"Dasar cewek, untung sayang..." Davee.
"Iya Sayang, kamu pakai apa aja selalu cantik kok."
"Ih, dasar Mas gombal."
"Salah lagi gua." Davee.