
"Buat apa juga sih, aku pake di kasih penjaga penjaga gitu. Bisa bisa aku di ejekin Amanda sama Linda." Batin Riana menggerutu.
"Apa masih sakit?"
"Sudah berkurang Mas, aku mau ke kamar mandi dulu." Riana sudah bersiap menggerakkan tubuhnya namun Davee menahan.
"Biar aku antar.." Davee lalu menggendong Riana dan membawanya kekamar mandi, memasukkan Riana di dalam bathub berwarna dusty rose. Riana hanya terdiam mengikuti alur Davee saja. Davee lalu membersihkan tubuh Riana dengan busa sabun dan juga menambahkan beberapa tetes cairan bubble bath sebagai relaksasi, aroma yang lembut menambah ketenangan Riana berendam di bathub itu, ditambah lagi pijatan kecil Davee. Riana memejamkan matanya, seraya menyandarkan tengkuknya pada sandaran bathub.
"Mas?"
"Hem??"
"Bagaimana perasaan Mas saat bersamaku?"
"Senang, aku merasa senang dan tenang saat bersama mu." Jawab Davee sambil masih memijat bahu Riana.
"Apa Mas mencintai ku?"
"Nggak,"
"Em," Riana yang tadi mengeluarkan senyum seketika senyuman itu lenyap dan sirna. Riana merasa menyesal telah menyerahkan mahkota tubuhnya pada Davee. Bagaimanapun meraka tidak saling mencintai, Davee hanya melakukan ini karena nafsunya semata. Begitu pikir Riana. Davee melihat ada air yang hampir mengguyur pada pipi Riana. Davee lalu tersenyum dan kemudian mengecup pipi Riana. Riana membuka matanya, dilihatnya senyuman di wajah Davee. Riana mengernyitkan Dahi, dan ditengah tengah kebingunan Riana, Davee mengecup pipi Riana sekali lagi. Davee kemudian ikut masuk kedalam bathub menyesakkan diri di sana bersama Riana.
"Cepatlah gosok punggung ku." Ujar Davee, Riana langsung menurutinya.
Hampir 3 menit sudah Riana menggosok gosok punggung Davee, sebenarnya Riana sudah lelah dan ingin menghentikan kegiatannya itu namun ia menahannya karena tau Davee tidak akan mengijinkannya berhenti kecuali ia sendiri yang menyudahi. Ketika Riana sedang menaik turun kan tangannya di punggung Davee, Davee membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Riana. Tangan Riana masih dalam posisi menggosok punggung Davee, sehingga hampir saja wajah Davee yang menjadi sasaran puff di tangan Riana kalau tidak cepat cepat Davee sadar dan segera menurunkan tangan Riana.
Davee mencolek hidung Riana. "Cup" satu kecupan mendarat di bibir Riana. Riana hanya terpaku melihat kelakuan suaminya itu.
"Apa dia sudah kecanduan mencium wajah ku." Batin Riana.
"Cup" sekali lagi kecupan itu mendarat di kulit Riana. namun kali ini bukan di kulit bagian wajah tetapi tepat pada gunung kembar Riana.
"Mas," Riana menjauhkan kepala Davee.
"Riana, aku mencintaimu."
Deg
Deg
"Apa? Mas Davee baru saja menyatakan cinta padaku? Apa dia akan menembak ku? Ah, tidak akan cunguk! Dia sudah menjadi suamimu, untuk apa mesti menjadikan pacar lagi. Dasar cunguk!" Riana mengumpat untuk dirinya sendiri. Wajah Riana tidak dapat di jelaskan lagi bagaimana meronanya. "Em, Mas bilang apa?" Riana ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengarnya, bahwa telinganya masih normal dan tidak mungkin membuat kehaluan tinggi. Davee tersenyum melihat istrinya yang tegang, Davee lalu memegang kedua tangan Riana. Dengan hati hati dan sangat lembut Davee mengulangi kata katanya lagi.
"Aku mencintai mu Riana, aku ingin kamu menjadi istriku selamanya." Davee mencium punggung tangan Riana. Riana belum ada mengedipkan matanya, kelopak mata itu tidak mau turun. Bibirnya terkunci rapat, perasaan nya begitu bergejolak. Davee membuyarkan ketegangan Riana dengan memeluk Riana serta mencium kepala Riana.
"Mas?"
"Hem?" Davee melepas pelukkannya, dan memandang lekat wajah Riana.
"Bagaimana dengan perasaanku Mas?" Tanya Riana dengan wajah datar.
"Kamu lah yang mempunyai seluruh diri mu Riana. Kamu juga lah tau perasaanmu sendiri, aku akan mengerti jika perasaan cinta di hatimu belum tumbuh.
"Mengapa Mas mencinta ku?
"Aku juga tidak tahu alasannya. Tetapi aku sangat menyukaimu, aku mencintaimu, Riana"
"Kamu jahat. Kamu bahkan tidak bisa menyebutkan satu alasan pun mengapa kamu mencintai aku. Kalau suatu saat nanti ada yang lebih cantik dari aku pasti Mas akan meninggalkan aku. Bagaimana bisa kamu bilang kamu mencintaiku jika kamu tak tahu alasannya?"
"Aku benar-benar tidak tahu alasannya, Riana. Tetapi, bukankah perhatian, kekhawatiranku dan kehadiranku di hidupmu sudah menjadi bukti cintaku?"
"Bukti apa? Semua tidak membuktikan apapun. Aku hanya butuh alasan, kenapa kamu bisa mencintaku? Kenapa kamu mencintaiku?" Sambil mengguncang tangan Davee.
"Baiklah,akan kucoba cari alasannya. Em.. karena kamu cantik, karena kamu berprestasi, karena rambut mu ini indah.. Cukupkan alasan itu?"
"Mm, bagaimana jika wajah ku di masa depan nggak cantik lagi? Bagaimana jika rambutku di masa depan tidak indah lagi? Bagaimana..." Riana tidak sempat melanjutkan katanya, bibirnya kini sudah di tahan Davee dengan satu telunjuk yang berdiri di depan bibir merah ranum itu. Davee menarik nafas panjang.
"Jika benar cinta itu butuh alasan, kurasa aku benar-benar tak bisa mencintaimu lagi pada masa depan itu." Ujar Davee pelan.
"Jahat!" Memukul mukul dada Davee.
"Tetapi....Cintaku bukan cinta yang palsu.
Cintaku kepadamu tulus. Aku menyukai dirimu yang apa adanya. Aku tidak jatuh cinta karena prestasimu, itu semua hanya nilai tambah kamu di mata ku. Aku juga tidak mencintai mu karena rambut mu yang indah serta kulit mu yang mulus. Aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Sampai kapanpun, aku tetap akan mencintaimu. Sekalipun nanti rambut putihmu mulai tumbuh, kulitmu mulai menua dan keriput, aku selalu mencintaimu. Cinta tak pernah membutuhkan alasan, Riana. Ia juga akan tetap hadir secara misterius. Datang tanpa pernah diduga sebelumnya." Jelas Davee lalu memeluk erat Riana.
Pernyataan cinta yang langka, menyatakan cinta di dalam kamar mandi, berendam di bathub mandi dengan keadaan telanjang bulat, hahaha cinta yang lucu. Namun bagi cinta itu tidak penting, yang terpenting cinta sudah terkata.