Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 27



"Amanda?" Panggil Riana di balik pintu kamar Amanda.


"Iya, buka aja Ya. Nggak di kunci kok."


"Amanda...." Riana langsung memeluk Amanda yang sedang memainkan laptop di ranjangnya. Amanda menaikkan alisnya melihat sikap Riana kepadanya.


"Lo kenapa sih? Eh eh ini kenapa nangis." Amanda melepaskan pelukan Riana dan melihat air mata Riana sudah perlahan keluar.


"Sebenarnya selama ini gue dan keluarga nggak kemana mana tapi gue...." Riana menghentikan bicaranya.


"Tapi apa Ria?"


"Kita harus hubungin Linda biar dia juga denger kisah gue di sini." Riana kemudian menyergah saku jaketnya untuk menemukan handphonenya lalu mencari kontak Linda.


"Ih kayanya serius banget ni ya ceritanya." Tanya Amanda penasaran.


"Iya, kalau nggak, ngapain gue sampe nangis. Sstt Linda udah angkat telponnya." Riana mengacungkan telunjuknya di depan hidungnya sebagai tanda mendiamkan Amanda yang mericaukannya. "Halo Lin, lo ke rumah Amanda sekarang ya. Gue tunggu 10 menit lo harus ada disini."


"Mau apa sih?" Tanya Linda di seberang telpon.


"Rumah lo dekat sini dan lo masih nanya nanya. Blablabla.." Seperti biasa Riana langsung mengomel apabila kedua sahabatnya salah.


"Iya iya gue on the way." Linda menutup telponnya agar tidak berpanjangan mendengar omelan Riana.


Sembari menunggu Linda datang Amanda dan Riana bermain game di handphone mereka. Sampai akhirnya pintu sudah dibuka oleh Linda yang sedari tadi mereka tunggu.


"Riana lo katanya di luar kota? Kan sekarang baru 4 hari lo izin."


"Sssttt lo duduk dulu makanya, gue mau cerita panjang lebar."


"Iya iya,," Linda melemparkan pantatnya di ranjang besar milik Amanda. 3 sahabat ini sudah berkumpul sambil meletakkan bantal di pangkuan masing masing.


"Jadi sebenarnya gue nggak kemana mana selama ini. Gue,... Gue di nikahin sama orang tua gue." Riana menundukkan kepalanya.


"Apah??" Linda dan Amanda terbelalak mendengarnya.


"Lo nggak usah bercanda deh Ria, gue taplok lo ya." Ujar Amanda yang tidak percaya sementara Linda masih tertanganga sedari tadi.


"Nggak, gue nggak bercanda. Gue udah nikah dan tadi siang adalah hari resepsi gue." Riana sudah mulai meneteskan air matanya membuat Linda dan Amanda yakin akan bahwa itu bukan lelucon yang dibawa Riana untuk mereka berdua. Linda menelan ludah pahit mendengar kabar dari sahabatnya itu. "Gue minta maaf karena gue nggak ngabarin lo berdua. Gue malu sama kalian, masa depan gue udah hancur." Linda dan Amanda mencoba menenangkan Riana dengan memeluknya.


"Yang paling histeris lagi laki laki yang jadi suami gue adalah Davee."


"Hah? Maksud lo Davee alumni Kalijingga yg ketabrak sama lo kemarin?" Tanya Linda kemudian. Riana menggangguk pelan. Tentu saja Linda dan Amanda lagi lagi terbelalak mendengar pernyataan itu.


"Dan gue ke sini mau nginap di tempat lo Man, karena gue takut di rumah."


"Lo udah serumah sama dia?"


"Iya, orang tua Davee membelikan rumah untuk kami berdua. Orang tua Davee dan orang tua gue adalah sahabat lama jadi lah seperti ini, Papa gue nggak mau Om Santoso kecewa karena nolak kemauan beliau untuk menjodohkan gue dengan Davee." Jelas Riana.


"Sumpah gue bener bener nggak nyangka," Linda menggeleng gelengkan kepalanya.


"Dan lo kenapa ninggalin Davee sendirian di rumah itu? Dan tadi kata lo apa? Takut?" Tanya Amanda.


"Davee nemuin pacarnya, tadi gue abis nonton film horor dan gue takut sendirian ketika gue ditinggalin Davee."


"Pacar lo bilang? Gimana mungkin dia kan..."


"Iya pacar Man, gimana pun juga gue sama Davee nggak saling cinta jadi gue nggak bisa ngelarang dia pergi."


"Tapi kan dia udah punya istri Ria, kok dia setega itu sih untung ganteng. Hhhh,,," Amanda mendengus kesal mendengar cerita Riana.


"Makanya karena ganteng dia seenaknya gitu, dasar cowok gila." Umpat Linda.


"Udah lah, gue mau istirahat gue cape banget setelah nyalimin tamu tamu tadi siang. Lo nginep di sini aja Lin." Ujar Riana lalu merebahkan tubuhnya. Sementara Linda dan Amanda saling bertatapan.


"Ria, lo udah gitu gitu nggak?" Tanya Linda lalu memasang senyum lebarnya.


"Gitu gitu apanya sih?"


"Ya ngelakuin wik wik wik lah maksud Linda itu Ya." Ujar Amanda melanjutkan pertanyaan Linda.


"Apaan sih lo berdua, udah ah gue mau tidur dan lo berdua tidur cepetan besok kalian sekolah."


"Hih, gue harus subuh subuh lagi pulangnya gara gara lo Ya." Gerutu Linda lalu ikut merebahkan tubuhnya juga di samping Riana.