Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 106



"Baiklah kalau begitu. Tapi aku mohon kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Ujar Davee.


"Aku akan berusaha menjaga pertahanan rumah tangga kita, Mas."


***


Di kamarnya Davee sedari tadi memandangi kertas yang diberikan oleh Endra tadi siang. Davee mencermati setiap poinnya, sudah hampir sepuluh kali ia mengulang membacanya dari poin pertama sampai dengan poin terakhir.


Davee memutuskan untuk keluar rumah malam ini. Ia meluncurkan mobilnya ke suatu tempat. Davee memasuki toko bunga dan memesan beberapa buket bunga.


"Mba, saya ingin membeli buket bunga warna hijau muda dengan desain yang berbeda dan usahakan bunga itu wangi sewangi wanginya. Saya ingin tiga buket." Ujar Davee pada pegawai toko.


"Baik, mohon tunggu sebentar." Sahut pegawai toko.


Setelah mendapatkan bunga yang ia pesan, Davee mengarahkan mobilnya lagi pada suatu toko boneka. Davee membeli tiga boneka berwarna hijau muda dan tua.


Davee membawa barang belanjaannya ke rumah. Ia tersenyum senyum memperhatikan belanjaanya. Barang barang itu adalah sebagai sogokan tulusnya untuk Riana. Dengan sengaja Davee membelikan semua dengan warna hijau, karena ia tau Riana sangat menyukai warna hijau. Davee mengambil kertas dan menuliskan beberapa surat untuk Riana.


Keesokan pagi, pagi pagi sekali Davee sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Tapi dalam perjalanan kali ini, dirinya tidak langsung ke kantor. Disepanjang perjalanannya sudah beberapa kali Davee memperhatikan boneka besar serta buket bunga di sampingnya. Setiap kali Dave melihatnya, ia tersenyum.


Setelah sampai di gerbang rumah mertunya, Davee menitipkan boneka serta buket bunga pada satpam di sana.


"Pak, tolong berikan ini pada Riana."


"Tu,tu,Tuan? Ba, Baik, Tuan. Tuan ng, gak gak mau ma, masuk dulu?" Tanya Pak Ikal kemudian dengan terbata bata. Karena memang pembawaannya gagap begitu.


"Nggak, aku harus kerja."


"Oh.. Iy, iy, iya Tuan. Ha, hati ha, hati.."


*


Riana duduk di teras rumah dengan kaki yang dipeluknya. Pak Ikal yang melihat Riana duduk seorang diri segera menghampirinya.


"Pe, permisi, Nona?"


"Iya, Pak? Wah, ada boneka dan bunga. Bagus banget. Punya Pak Ikal ya?" Ujar Riana ketika melihat bawaan Pak Ikal yang hampir menutupi wajahnya sendiri.


"Bu, bukan. Ini pu, punya Non, Nona."


"Wah.. Beneran, Pak? Bagus banget. Makasih ya, Pak. Bapak baik banget deh." Ujar Riana yang menyangka itu pemberian Pak Ikal.


"Iy, iya Non. Sa, saya per, pe, pergi du, dulu."


"Iya, Pak. Makasih banyak lo, Pak." Riana tersenyum lebar sembari mengelus elus bonekanya dan mencium buket bunga. "Kok tumben ya Pak Ikal ngasih kaya ginian. Kenapa nggak ngasih istrinya aja? Haduh ini bunganya wangi banget lagi." Gumam Riana.


"Pe, permisi, Non." Ujar Pak Ikal yang datang lagi.


"Iya, Pak?"


"I, itu bukan da, dari saya."


"Loh, terus dari siapa?"


"Da, dari Tu, Tuan Davee."


"Serius, Pak?" Riana membulatkan matanya.


"Iy, iya.


"Berarti tadi dia kesini, Pak?"


"Iy, Iya, Non."


"Oh ya sudah. Kalau gitu makasih, Pak."


"Iy, iya."


"Riana masuk dulu, Pak."


"Iy, iya, Non."


Riana meletakkan pemberian Davee di atas tempat tidur. Tidak dapat dipungkiri, di dalam hatinya senang mendapatkan hadiah itu dari suaminya. Namun jikalau teringat kesalahan Davee lagi, wajahnya segera manyun. Riana mengambil buket bunga dan ternyata di sana terdapat surat. Riana membuka dan membacanya.


"*Riana, kamu wanita tercantik yang pernah hadir dalam hidupku. Tak ada yang lebih berharga dari dirimu di dunia ini. Sampai tua dan akhirnya aku mati nanti pun aku mau engkau selalu menjadi istriku. Menjadi ibu untukku serta anak anak kita pula. Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku lebih memilih membagi raga dan jiwaku bersamamu dari pada hidup tanpamu sepanjang kehidupanku. Jangan marah lagi ya, Sayang. Aku janji nggak akan mengecewakanmu lagi. Jaga anak kita baik baik. Sayang, aku sangat merindukanmu. Aku juga merindukan baby di dalam perutmu. Dia pasti juga merindukan Papanya. Jadi Ayang jangan terlalu lama marahannya. Love you...


Riana menutup suratnya lagi dengan senyuman yang menjelma di bibirnya.


Begitulah terus menerus setiap harinya, Davee selalu menitipkan boneka besar dan buket bunga setiap ia ingin berangkat bekerja. Riana mulai ceria kembali sekarang. Ia sudah bisa tertidur dengan tenang tanpa harus menangis terlebih dahulu. Pak Darmawan dan Bu Rahma senang melihat anaknya yang sudah bisa menikmati hari harinya dengan bahagia.


Hari ini adalah hari di mana kenangan selama tiga tahun akan resmi dimulai. Riana bercermin sekali lagi melihat dirinya.


"Untung pas marah marah kemarin aku tetap ingat memasukan baju pemberian Mas Davee. Hehe.." Kata Riana bicara pada Mirna, sembari tertawa mengingat kejadian pada saat ia membokar isi lemarinya waktu itu.


Dengan bantuan Mirna, asisten rumah tangga mereka yang paling muda. Umurnya sama dengan Riana. Mirna membantu Riana berdandan. Walau sekedar hanya menjadi suruhan Riana untuk mengambil alat make up atau memegang rambut Riana sejenak. Waktu yang terpakai selama hampir dua jam akhirnya terlewatkan. Riasan yang sedikit berat, membuat wajah Riana sedikit berubah. Berubah menjadi lebih cantik. Riana memasang mahkota di atas kepalanya. Sungguh benar benar mempesona.


"Wah, Nona cantik sekali." Ujar Mirna.


"Benaran, Mir?"


"Iya, Nona. Siapa pun yang melihat Nona pasti pangling pisan."


"Ih, Mirna gombal deh."


"Ih, kumaha atuh. Mirna teh serius, Non."


"Hehe, ya udah atuh Mirna. Nggak usah cemberut. Eh untung perutku masih kecil ya, Mir."


"Iya, Non. Tapi kalau besar juga kayanya tetep bagus."


"Apa bagusnya, Mir? Yang ada kaya ibu ibu."


"Ya kan Nona memang calon ibu ibu sekarang."


"Eh iya sih, hehehe."


"Sayang, kamu udah siap belum?" Ujar Bu Rahma sambil membuka pintu.


"Udah, Ma."


"Wow, cantik banget anak Mama. Benar benar cantik, Sayang."


"Tu kan, bener kata Mirna. Siapa pun yang melihat Nona sekarang pasti pangling." Ujar Mirna lagi.


"Ih, Mirna gombal terus deh. Kaya Mas Davee aja." Ucap Riana.


"Ciee, jadi bawa bawa Davee deh." Ujar Bu Rahma seraya mencibir Riana.


"Apa sih Mama.."


"Hehe.. Ya udah, kita berangkat sekarang. Papa udah nunggu di bawah."


"Oke, Ma. Mirna, make upnya beresin di situ semua ya." Ujar Riana sambil menunjuk box make up berukuran besar.


"Iya, Non."


*


"Wah, calon ibu ibu kita cantik sekali." Kata Pak Darmawan setelah melihat Riana.


"Iya dong, Pak. Anak siapa dulu." Balas Riana.


"Haha, baiklah. Ya sudah kita berangkat." Ajak Pak Darmawan pada anak dan istrinya.


***


"Riana?" Panggil Linda sambil berlari ke arah Riana.


"Hay..." Riana dan Linda saling berpelukan.


"Apa kabar? Ih cantik banget sih."


"Hehe, kabar baik. Kamu juga cantik. Tapi ombre lipstiknya salah warna tuh." Kata Riana.


"Ha! Masa! Ih minta lipstik lo dong."


"Iya. Nih.." Kata Riana sambil menyodorkan lipstik berwarna merah fanta.