
Davee sudah selesai memasukkan mobilnya dalam garasi, lalu mengetik sandi pintu untuk membukanya. Ia mengarahkan tujuannya pada kamar yang di tinggalnya tadi.
"Riana?" Davee memanggil nama Riana ketika dilihatnya tidak ada Riana di kamar miliknya. Davee mencoba mencari Riana di kamar Riana, dapur, kamar mandi, kamar tamu dan hasilnya nihil. Davee menyergah handphonenya berniat untuk menghubungi Riana.
"Ah sial, gue kan belum tau nomor handphone Riana." Davee bermonolog sambil terus mencari nomor yang bisa dihubungi untuk tahu keberadaan Riana. "Apa mungkin dia ke tempat orang tuanya." Davee menarik kasar rambutnya. Lalu kemudian memencet nomor telpon bernama "Papa"
"Halo Pah, Davee minta nomor Papa nya Riana dong Pah."
"Loh, ada apa Dav?"
"Nanti Davee ceritain, sekarang Davee minta nomornya."
"Ya sudah, Papah segera kirim."
Davee kemudian menghubungi nomor yang dikirim oleh Papa Santoso.
"Halo Om, eh Pa. Ini Davee.."
"Wah Davee, ada apa nih? Tumben sekali." Suara Papa Darmawan di telpon.
"Pa, apa ada Riana ke rumah Papa?"
"Loh bukannya sama kamu Dav, Tidak ada Riana di sini. Kamu sudah coba menghubunginya?"
Bibir Davee bergetar saat mendengar Riana tidak ada di rumah orang tuanya, ia semakin merasa bersalah.
"Pa, Davee belum sempat bertukar nomor dengan Riana Pa. Papa bisa kirim sekarang?"
"Oke Dav, Papa kirim sekarang. Kalau ada apa apa hubungi Papa Dav."
"Oke Pa,"
Nomor handphone Riana sudah terpampang di layar handphone Davee. Davee segera memencet tanda untuk menghubungi.
"Haloo," Terdengar suara Riana di seberang telpon. "Ini siapa ya?"
"Halo Riana, lo dimana Ria?
Riana yang sudah terlelap dan tiba tiba mendengar suara Davee. Alhasil Riana sungguh tidak mengenalinya.
"Gue di rumah Amanda, lo siapa sih?" Tanya Riana lagi dengan uring uringan.
"Alamatnya di mana Riana?"
Tuttt,,
Riana bangkit dari tidur ia menggigit jari. Sementara Linda dan Amanda masih tertidur nyenyak.
"Ih kenapa gue angkat sih, sial. Gimana kalau dia jemput gue. Eh, tenang Riana. Davee pasti nggak akan nemuin gue karena dia pasti nggak tau rumah Amanda di mana." Riana membaringkan tubuhnya kembali. 10 menit berlalu, Riana tak kunjung mengantuk juga. Riana duduk dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Riana duduk di tepi ranjang.
Drrtt...drrrrttt....
Handphone ria bergetar, ria mengacuhkan telpon itu setelah tau itu dari Davee lagi dan lagi.
"Hah? Dia chatting gue." Riana melihat notifikasi ada pesan dari Davee. Riana membukanya.
"Gue di depan gerbang rumah Amanda, lo cepat keluar." Isi chatting Davee. Riana terbelalak setelah membacanya. Riana berjalan keluar mencoba memastikannya. Ternyata di pintu sudah berdiri Pak satpam bersiap untuk mengetuk pintu rumah.
"Eh Non Riana, itu Non Riana ada yang jemput Non." Ujar Pak satpam.
"Pakai mobil hitam Pak?"
"Iya Non,"
"Badannya tinggi?"
"Iya Non,"
"Ya sudah Pak, saya bilang sama Amanda dulu."
"Baik Non,"
Riana menghela nafas panjang. Ia masih bertanya tanya pada dirinya mengapa Davee bisa tau rumah Amanda. Ia Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Amanda.
"Amanda," Riana menepuk nepuk pipi Amanda. Amanda perlahan membuka matanya.
"Ada apa Riana? udah pagi ya?"
"Nggak ini jam 11 malam."
"Terus kenapa lo bangunin gue?" Tanya Amanda yang masih setengah membuka mata.
"Gue dijemput Davee,"
"Apa???" Amanda seketika refleks dan duduk.
"Sssttt, nanti Linda bangun. Gue pamit ya? Bilangin sama Om Johan sama Linda besok, gue minta maaf karena nggak pamit sama mereka. Dan jangan bilang siapa siapa tentang pernikahan gue ini ya. Cukup lo dan Linda yang tau. Dahh, gue pulang."
"Iya oke oke. Lo hati hati ya."