Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 101



"Mas, kamu ke kamar duluan aja. Aku mau beres beres dapur dulu." Kata Riana setelah mereka selesai menghabiskan makan malam.


"Nggak, Sayang. Aku bantuin ya? Aku nggak mau istriku kecapean."


"Mas kan juga kecapean, Mas. Nggak apa apa kok, Ayang."


"Sudah, kamu jangan ngeyel begitu. Biar Mas saja yang mencuci piring. Kamu cukup bersihkan meja saja."


"Em, baiklah kalau gitu. Makasih ya Mas.."


"Iya, Ayang. Di rumah tangga itu bukan cuma kewajiban istri yang mengurus semua tugas rumah. Tapi suami pun juga. Dan lebih baiknya saling membantu begini."


"Sayang deh sama Mas.."


"Harus dong.."


Setelah selesai membersihkan dapur, kedua pasangan itu pergi ke ruang keluarga. Riana menghidupkan televisi, sementara Davee membaringkan tubuhnya di sofa dengan berbantalkan paha Riana.


"Ayang, coklatnya.." Ujar Riana sambil menunjuk iklan di televisi. "Ya ampun, enak banget. Ayang tunggu di sini ya, aku mau ke dapur dulu. Mau ngambil coklat." Kata Riana seraya menurunkan kepala Davee dari pahanya.


"Iya, jangan lama lama.."


"Iya, Sayang.."


Riana kembali dengan satu batang coklat yang kira kira berukuran lima ratus gram.


"Ayang, sini nih kepalanya." Sambil menepuk nepuk pahanya sendiri. Davee menurutinya, ia kembali membaringkan tubuhnya. Davee memandang wajah Riana yang fokus melihat televisi sambil menikmati coklat batang besar di tangannya.


"Ayang, makan coklat seperti itu apa nggak bikin gigi ngilu?" Tanya Davee.


"Nggak kok Yang. Enak, kamu mau coba nggak?" Tanya Riana seraya menyodorkan coklat ke mulut Davee. Davee menjauhkan coklat itu dari mulutnya.


"Aku suka coklat, tapi nggak segitunya juga Yang."


"Ya aku nggak tau, tiba tiba suka banget sama coklat."


"Pasti karena anak kita, Sayang. Halo anak Papa, kamu sehat sehat ya. Baik baik di perut Bunda." Ujar Davee sembari mengelus dan mencium perut Riana, Riana tersenyum memandangi Davee.


"Sayang, kok nggak pake lingerie sih?"


"Tadi aku mandinya sore, jadi aku memilih pakai baju tidur panjang ini saja. Biar kalau ada tamu mendadak aku nggak perlu ganti baju."


"Lain kali pakailah lingerienya. Nanti kalau ke kamar kamu ganti ya."


"Iya deh. Eh Mas, perpisahanku minggu ini lo. Mas bawain hadiah buat aku ya. Jangan sampai lupa!"


"Pasti Sayang, kalau gitu kamu butuh busana buat nanti perpisahan dong?"


"Eh iya ya Mas, aku lupa. Mana aku belum punya."


"Ya sudah, besok akan ada yang mengantarkan baju bajunya kesini. Kamu pilih saja besok."


"Beneran Mas?"


"Iya Sayang, biar kamu nggak usah capek keluar rumah."


"Horey.." Sorak Riana girang.


"Ke kamar yuk, Sayang?"


"Baru juga jam delapan, Mas."


"Aku pengen, Yang.."


"Huu, dasar mesum. Pengen terus."


"Kan aku udah pernah bilang, kebutuhan suami setelah menikah adalah ... Ah, sudahlah. Ayok!" Tanpa menunggu jawaban Riana lagi, Davee menggendong Riana.


"Eh, eh, tv nya matiin dulu."


***


Ketika jam istrihat tiba, Davee kali ini tidak ke restoran seperti biasanya. Ia memilih meluncur mobilnya ke jalan yang mengarah pada apartemen mantan kekasihnya.


Ketika sampai di depan apartemen Davee mengetuk pintu dan lalu muncullah Rani seorang diri yang membukanya.


"Ran, kamu sedang apa tadi?"


"Aku sedang merebus mie instan, Dav. Aku bikinin buat kamu juga deh. Aku ke dapur dulu."


"Nggak usah, Ran."


"Nggak usah sungkan, kamu pasti belum makan siang. Mau ikut aku masak?"


"Boleh.."


"Aku cuma bisa masak yang instan instan dan telor ceplok, Dav. Aku nggak bisa masak."


"Tapi itu nggak bagus untuk kesehatan bayi kamu, Ran."


"Masa bodohlah, Dav. Ayahnya juga nggak perduli dengan anaknya."


"Jangan seperti itu, Ran. Janinmu itu akan menjadi masa depanmu. Rawat dia dengn kasih sayang. Dia juga darah dagingmu."


"Aku belum bisa berpikir jernih sekarang, Dav. Pikiranku masih kemana mana. Dan yang paling membuatku marah semarahnya dengan diriku adalah karena hatiku nggak pernah bisa membenci Sugeng. Aku malah membenci diriku, Dav." Rani mulai menangis terisak. Melihatnya begitu Davee tidak tega, Davee mendekati Rani dan memeluknya.


"Jangan membenci dirimu, Ran." Ucap Davee lirih.


"Jangan pergi, Dav. Tetaplah temani aku seperti ini."


"Iya, Ran. Aku akan tetap di sisimu. Akan tetap menjadi temanmu."


"Terimakasih, Dav."


***


Karyawan yang kemarin ditugaskannya sudah menyelesaikan tugas itu. Kos an untuk Rani sudah disiapkan, barang barang Rani juga sudah dilangsir sejak kedatangan Davee siang ini.


Rani dan Davee sudah berada di kos yang lumayan besar dan mewah. Rani membereskan barang barangnya, di bantu dengan Davee, juga orang orang suruhan Davee. Davee tidak berada di kantornya sampai dengan jam pulang tiba. Dia ikut menemani Rani di sana.


*


Sementara di rumah, Riana merasa bosan sendirian. Ia ingin mengucapkan terimakasih pada suaminya karena sudah membelikannya baju baju untuk acara perpisahannya nanti. Riana menyiapkan rantang nasi untuk makan siang Davee di kantor.


Ketika sampai di kantor, Riana bertanya pada recepsionist perusahaan. Riana kecewa mendengar penuturan recepsionist itu yang mengatakan Davee sudah keluar kantor sejak sepuluh menit yang lalu sebelum dirinya datang.


"Aku telat deh, tapi nggak apa apa deh. Nanti juga pasti Mas Davee kembali ke kantornya. Pokoknya aku mau ngucapin terimakasih pada suamiku di sini." Riana bermonolog ketika dirinya menginjakkan kaki di dalam ruangan Davee. Riana duduk pada sofa navy di ruangan Davee. Sudah hampir lima belas kali Riana bolak balik menurun naikkan bola matanya untuk melihat jam di dinding. Sudah dua jam dirinya menunggu, seharusnya dari se jam yang lalu Davee sudah kembali ke kantor. Riana merasa mengantuk juga akhirnya setelah lama duduk, dia memejamkan matanya dan akhirnya terlelap.


***


"Ran, ini sudah sore. Aku harus kembali pulang. Besok jam istirahat aku akan ke sini lagi. Jangan sedih lagi ya.." Ujar Davee kepada Rani.


"Iya, Dav. Terimakasih atas hari ini, Dav. Besok kamu harus ke sini lagi. Aku tunggu kedatanganmu."


"Baiklah.. Jaga dirimu baik baik ya."


"Iya, Dav. Kabari jika sudah sampai ya." Kata Rani, ketika Davee sudah menghidupkan mesin mobilnya.


"Iya, Ran.."


***


Riana kembali melihat jam di dinding setelah bangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat. Riana segera menyergah tas kecilnya, mencari handphone di dalamnya.


"Kok Mas nggak bisa dihubungi sih. HPnya mati dari tadi." Gumam Riana. "Aku sudah tidur terlalu lama. Mas Davee tentu tadi nggak ada ke sini. Kalau ada pastilah dia sudah membangunkan ku. Mas Davee kemana sih?" Ujar Riana berbicara sendiri lalu beranjak pergi meninggalkan kantor Davee.


*


Sementara di rumahnya, Davee sedikit bingung melihat rumahnya yang tertutup. Biasanya Riana akan menyambutnya pulang. Davee membuka password pintu rumah dan memanggil manggil istrinya. Namun tentu saja tidak ada sahutan.


"HP-ku ternyata mati. Aku lupa menchargernya." Ujar Davee ketika berniat menghubungi Riana.


___________________________


Halo readers kesayangan Author. Jngan lupa mampir di novel Author yang judulnya "Tasty Tasty married" ya.


Jangan lupa like, komen, dan vote. Biar Author smangat terus lanjutin novelnya..