Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 41



"Riana malam ini temenin aku tidur ya?"


"Hah?" Riana tersedak makanannya.


"Kaya baru pertama kali aja, pokoknya kamu malam ini harus nginep di kamar aku."


"Tapi nggak di apa apain kan?"


"Emm, nggak yakin sih." Jawan Davee dengan santainya.


"Ya udah kalau gitu aku nggak mau."


"Harus mau! Kalau nggak, besok nggak ku kasih uang jajan lagi."


"Ih kok gitu sih."


"Harus gitu dong.." Davee memaparkan senyum liciknya.


"Ih dasar..."


"Iya iya, aku ikut kamu tidur."


Dapur sudah dibereskan oleh Riana, sedang Davee hanya duduk seakan memantau Riana saja. Ketika sudah selesai Riana berjalan lebih dahulu ingin kembali ke kamar atas. Davee mengikuti Riana dan tiba tiba saja Davee berkeinginan untuk menggendong Riana. Dengan tangkas Davee menggendong Riana dengan posisi berhadapan. Riana terlongong longong seketika namun tidak berontak. Dada Riana berada sejajar dengan leher Davee, Davee melihat sesaat dan mengangkat tubuh Riana lebih tinggi lagi sehingga kini payudara tanpa bra itu tepat berada di depan bibir Davee. Davee memelankan langkahnya hingga akhirnya berhenti ketika sudah tepat di depan tangga. Davee mulai menempelkan sedikit demi sedikit bibirnya ke gunung Riana dan Davee tidak tahan membiarkan gundukan Riana itu terpampang begitu saja. Davee menggigit ****** payudara di balik piyama Riana.


"Auww," Riana memekik dan mendorong agak kasar kepala Davee supaya menjauhi payudaranya. "Sakit.." Riana memegang payudaranya. Sementara Davee hanya tersenyum senyum, ia kemudian melanjutkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga.


Davee sudah sampai dikamarnya, ia membaringkan Riana pelan pelan di ranjang miliknya. Riana diam tidak menolak, melihat Riana demikian Davee melanjutkan rencananya. Davee menindih Riana, menopang dadanya sedikit naik dengan kedua tangannya. Riana merasakan gundukan yang hangat dan keras milik Davee sudah menempel pada perut bagian bawah Riana. Davee menempelkan bibirnya pada bibir Riana dan pelan pelan melumatnya. Riana merasakan basah dan lembut yang kini melumat bibirnya, Riana tidak membalas namun tidak menolak juga. Davee terus melancarkan aksinya, nafasnya mulai tidak beraturan.


Davee meremas gunung kenyal itu secara bergantian. Davee melepaskan satu persatu kancing piyama Riana hingga ke kancing terakhirnya, lalu melanjutkan remasannya lagi. Davee melepaskan lumatannya dan mulai turun ke ****** Riana. Davee melumat pelan penuh gairah ****** Riana, Riana menutup mulutnya dengan telapak tangannya namun Davee segera menyingkirkan tangan Riana hingga keluarlah desahan Riana.


Davee tersenyum setelah merasakan sudah basah dan becek di area sensitif Riana, Davee menurunkan celana piyama milik Riana hingga kini Riana sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Riana masih merasakan basah dan lembut di ****** gunungnya yang terus membuatnya menjadi mengeluarkan desahan desahan. Jari jemari Davee menelusuri terus menerus hingga bertemu dengan lubang sempit di sana. Riana mengeluarkan desahan semakin secepat seiring permainan Davee. Hingga akhirnya Riana mengalami puncak kenikmatan. Davee tersenyum melihat keberhasilannya. Davee melepas baju dan celana yang menutupi tubuhnya juga.


"Ka Davee, mau ngapain?" Tanya Riana dengan masih lemas.


"Mau memuaskan king kobra ku.." Jawab Davee sambil tersenyum. Davee lalu mengeluarkan senjata besar miliknya dan bersiap memasukkan pada sarangnya.


"Nggak mau.." Riana mendorong Davee sehingga membuat Davee terjengkang di ujung kaki Riana. "Aku takut hamil Ka.." Ujar Riana pelan.