
"Pulanglah.." Timpal Pak Darmawan seraya menutup pintu rumahnya. Davee menarik rambutnya. Hati dan pikirannya berkecamuk. Davee meninggalkan rumah mertuanya. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Davee mengarahkan mobil ke jalan A, di mana itu adalah tempat orang tuanya.
Ketika Bu Rita membuka pintu dan melihat Davee menundukkan wajahnya. Kemeja yang digunakannya terlihat kumal dan basah karena peluh.
"Davee?" Bu Rita memegang kedua tangan Davee, kemudian mengangkat wajah Davee agar dapat membalas tatapannya. "Ada apa, Nak?"
"Mah..." Lirih Davee, lalu memeluk Bu Rita dengan erat. "Aku nggak mau kehilangan Riana, Mah." Ujar Davee. Bu Rita melepaskan pelukan Davee.
"Davee, jelaskan pada Mamah. Apa yang terjadi, Nak?"
"Papah mana, Mah?"
"Papah mu sedang ke luar kota. Dua minggu lagi baru dia akan datang. Mari kita bicarakan di dalam saja." Ajak Bu Rita. Davee mengikuti langkah Bu Rita.
Davee terhenyak pada sofa keluarga. Ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Davee menghela nafas berat sebelum ia menurunkan tangannya. Ditengah kepiluannya, Davee melihat rantang yang tergeletak di atas meja. Davee merasa familiar dengan rantang itu. Ia menatapnya dengan lekat. Bu Rita yang memperhatikan baru tersadar, bahwa rantang itu milik menantunya yang tertinggal.
"Dav, itu adalah rantang bekal yang dibawa istrimu tadi sore."
Davee menatap wajah Bu Rita sebelum ia membuka rantang itu dengan tangannya. Di dalam rantang yang tersusun tiga, ada nasi yang sudah dibentuk rapi dengan rice bowl. Di rantang kedua ada salad sayur yang baunya sudah tercium tidak enak. Dan di rantang ketiga ada ayam panggang yang juga sudah mengeluarkan bau tidak enak. Ketika Davee ingin menutup semuanya kembali, ia menemukan tulisan yang menempel di tutup rantang. Davee membacanya dalam hatinya.
"**Makasih ya Mas, baju bajunya cantik. Sebenarnya aku cuma ingin satu baju, tapi ternyata seseorang yang datang ke rumah menyuruhku untuk mengambil semuanya. Aku memang sengaja untuk berpura pura ke kamar mandi sekarang. Karena aku ingin kamu membaca surat tanpa melihatku, biar lebih berasa romantis. Hehehe.. Abisnya kalau Mas baca saat aku ada di depannya Mas, aku jadi malu. Makasih ya, Sayang. Kamu memang suami terbaikku. Terimakasih telah menyayangiku setulus hatimu. Jangan pernah kecewakan aku ya..
Salam manis
Riana dan anakmu**^^"
Davee menatap Bu Rita, kemudian memeluknya lagi.
"Mah, Davee berdosa, Mah. Davee jahat. Davee membiarkan Riana dengan anak Davee menunggu seperti itu. Davee jahat, Mah." Ujar Davee menyalahkan dirinya di pelukan Bu Rita.
"Davee, sebenarnya apa masalahmu dengan Riana?"
Davee melepaskan pelukannya.
"Aku bertemu dengan Rani, Mah."
"Apa! Rani mantan pacar mu itu?" Ujar Bu Rita sedikit terkejut.
"Iya, Mah."
"Kamu sudah keterlaluan, Dav!" Ujar Bu Rita dengan nada tinggi.
"Mah, dengarkan penjelasan Davee dulu."
Bu Rita menghela nafas berat.
"Mah, aku bertemu dengan Rani dua hari yang lalu. Aku nggak tega karena dia disakiti oleh suaminya, Mah. Dia sedang hamil dan suaminya lebih memilih istrinya yang pertama, ia nggak memperdulikan Rani. Istrinya juga menyakiti Rani, Mah. Dari itu Davee merasa harus menolong Rani, Mah."
"Dav, dengarkan Mama baik baik. Kamu nggak tega dengannya karena ia disakiti suaminya, kamu seharusnya juga nggak tega menyakiti Riana."
"Tapi, aku ... "
"Jangan potong pembicaraan Mamah." Ujar Bu Rita. Davee segera terdiam dan menundukkan wajahnya dalam dalam. "Dav, Kamu bilang suaminya lebih memilih istri pertamanya. Seharusnya kamu bisa berpikir lebih luas, Dav. Perempuan mana yang ingin suaminya bergaul dengan perempuan lain. Tanpa kamu bilang pun, Mamah sudah tau pasti pernikahan mereka itu tanpa persetujuan istri pertamanya lebih dulu. Sekarang kamu bayangkan, jika kamu berada di posisi istri pertamanya. Riana menikah dengan laki laki lain tanpa kamu ketahui, setelah akhirnya kamu tau, kamu pasti marah besar pada istrimu juga selingkuhan istrimu. Siapa yang salah? Apakah kamu? Tentu Riana dan selingkuhannya yang bersalah, jadi wajar jika kamu memarahi istrimu dan juga selingkuhan istrimu. Begitulah Rani. Dia bersalah, Dav. Mungkin itulah cara Tuhan membalaskan perbuatannya yang nggak senonoh itu. Satu lagi, Rani berani merusak rumah tangga orang lain. Jadi nggak ada kata nggak mungkin bahwa dia akan merusak keluargamu pula. Orang seperti itu akan nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau." Jelas Bu Rita panjang lebar.
"Aku hanya mencintai Riana." Lirih Davee.
"Dav, pabila bajumu kotor, buanglah kotorannya, jangan bajunya. Karena belum tentu kamu bisa menemukan baju seperti itu lagi. Sekarang perjuangankan lah keluargamu. Buang egomu, selesaikan masalahmu."
"Apa Riana mau memaafkan aku, Mah?"
"Kamu bisa membuatnya mencintaimu, kamu juga harus bisa membuatnya memaafkanmu."
"Terimakasih, Mah."
"Dimana rumah Rani?"
"Aku memindahkannya di kos besar dekat perusahaan, Mah."
"Untung saja Riana lebih cepat mengetahui ini." Ujar Bu Rita sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa, Mah?"
"Kalau nggak, mungkin keluargamu nggak akan tertolong setelahnya, Dav. Sudahlah, sekarang kamu pikirkan bagaimana caranya agar kamu dimaafkan oleh istrimu. Dan soal Rani, nanti Mamah yang urus."
"Davee percaya sama Mamah. Makasih, Mah." Ujar Davee.
***
Riana terus menangis di kamarnya. Bantal yang menjadi tempat penyangga kepala sudah basah karena air matanya. Sudah jam sebelas malam, Riana tidak juga dapat memejamkan matanya.
"Mas, kenapa jahat denganku. Mas jahat sekali. Aku mencintai Mas, tapi Mas mencintai Rani. Kenapa harus ada orang ketiga. Aku nggak pernah mau hubunganku seperti kawanan novel yang permasalahannya selalu ada orang ketiga. Hiks...Hiks.." Riana bermolog sambil meremas remas selimutnya.
Tok...Tok...
Seseorang dari balik pintu kamar Riana.
"Masuk.." Ujar Riana.
"Mama sudah yakin pasti kamu belum tidur juga." Ujar Bu Rahma setelah membuka pintu kamar Riana. Riana duduk, dan menyandarkan punggungnya pada bantal yang ia susun ke atas.
"Iya, Ma. Aku nggak bisa tidur. Mataku lebay banget, masa dari tadi ngeluarin air mata terus."
"Sudah ya, Sayang. Kamu harus yakin kalau hubungan kamu akan baik baik saja. Davee pasti akan kembali ke tanganmu."
"Tapi dia masih mencintai Rani, Ma."
"Sayang, kamu belum tau kebenaran di hati Davee sebenarnya. Siapa tau Davee hanya niat membantu Rani saja, tapi caranya salah."
"Dia nggak mikirin perasaan Riana, Ma."
"Riana, nggak baik kalau di hatimu terisi dengan berprasangka buruk terus menerus. Selagi kamu belum mendapatkan buktinya, tetaplah berpikir positif. Jika Davee benar mencintaimu, ia akan menyadari kesalahannya. Sekali pun itu disadarkan oleh orang lain, tapi pasti ia akan sadar bahwa ia salah.
____________________________
Maaf ya Author jarang balas komentar kalian. Tapi percayalah, Author seneng baca komentar kalian. Nggak ada satu pun komentar yang nggak Author baca. Komentar kalian juga membuat Author ingin up terus. Selalu kasih Author semangat dengan komentar, like, tip, serta vote kalian ya. Jangan pernah melewatkan satu chapter pun untuk kalian berkomentar.