Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 40



"Ka Davee jangan mendekat..." Riana setengah berteriak dengan masih menutup matanya.


"Riana...." Davee dengan sengaja membuat nada suaranya seperti membisik membuat Riana semakin ketakutan dan merinding.


"Tidaaaakkkkkk...." Riana lari dari kamar Davee. Sementara Davee terkekeh kekeh melihat Riana yang meninggalkannya.


Riana berkurung diri di kamarnya, ia masih belum bisa menghilangkan ingatannya mengenai penglihatannya 10 menit yang lalu.


"Baru kali ini gue liat burung cowok senampak itu selain di gambar mapel biologi dulu. Besar dan berdiri begitu iiiiii serem banget sih." Riana bermonolog dengan wajah serius.


Tok...tokkk


Davee mengetuk pintu kamar Riana.


Cekrekk .....


lalu membukanya. Untuk apa diketok akhirnya di buka juga tanpa menunggu respon dari Riana dulu. Davee yah, ada ada aja.


"Jangan mendekatt..." Kata Riana lalu membenamkan wajahnya pada bantal.


"Hahaha, sudah. Aku sudah pakai baju dan celana nih. Kamu bisa buka mata." Ujar Davee dan ketika Riana membuka matanya Davee sudah duduk di samping Riana.


"Ih, ngapain kesini sih? Aku masih merinding nih."


"Belum juga di apa apain sudah segitunya. Hahaha dasar anak mami." Ujar Davee mengejek.


"Biarin, dari pada mesum kaya kamu." Riana mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, biarin. Siapa suruh nggak ngetuk ngetuk pintu dulu."


"Ya aku kan...em.." Riana bingung mencari alasan yang tepat.


"Apahh? Hahhaha, dasar anak ingusan." Davee mendorong kepala Riana pelan dengan jarinya. "Tadi mau ngapain sih ke kamar aku? Kamu mau anu?" Davee memasang senyum nakalnya.


"Ih apaan sih, emang aku Ka Davee yang super mesum. Bukannya malu dan di tutupin malah dibuka buka."


"Ya terserah aku lah, kamu kan istri aku juga."


"Tapi kan itu.."


"Apa sih? Hahaha dasar anak ingusan nggak jelas." Davee mengucek ngucek rambut Riana. Riana diam saja dan masih mengerucutkan bibirnya karena kesal. "Aku mau bilang berita bahagia buat kita." Ujar Davee, Riana tidak menjawab dengan kata namun mendanguk karena penasaran. Davee tersenyum sebelum meneruskan katanya. "Mulai besok aku sudah bekerja dan aku kerja sebagai sekertaris di kantor Papah." Davee tersenyum lebar lebar kepada Riana, Riana membalasnya juga.


"Beneran? Wah, selamat ya Ka Davee."


"Iya makasih. Oh iya, aku terpaksa nanya dua kali nih. Tadi kamu ke kamar aku tadi ngapain?"


"Hah? Maaf Ria. Aku bener bener minta maaf, pasti tadi kamu kelaparan. Aku lupa sumpah lupa."


"Iya iya sudah aku maafin, tapi besok jangan lupa lagi."


"Iya aku janji, oh iya kamu masakin aku dong laper nih." Ujar Davee sambil mengelus ngelus perutnya.


"Oh iya aku lupa,"


"Kelupaan gara gara ngeliat dede aku ya." Davee lagi lagi tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya.


"Ih apaan sih, mesum banget. Udah ah, ayo turun. Temenin aku masak."


"Ya udah ayo."


Riana sudah selesai memasak dan juga sudah menyajikan menu masakan asam manis ikannya.


"Taraaaa...."


"Waw, jadi tambah lapar."


"Iya dong, siapa dulu yang masak."


"Istri aku dong."


"Ih apaan sih,"


Davee melahap makanannya dengan cepat tidak berapa lama makanan itu sudah habis di piringnya.


"Kenyang..." Ujar Davee.


"Ih cepat banget sih makannya, aku masih banyak nih nasinya."


"Ya udah aku tungguin,"


"Tapi aku udah kenyang." Kata Riana lalu menjauhkan piringnya, Davee meraih piring Riana dan memakan sisa makanan Riana. Riana terlongong longong melihat Davee. "Katanya udah kenyang."


"Mubazir..." Ujar Davee.


"Anak orang kaya bisa mengaplikasiin kata mubazir?"


"Lalu karena kamu anak orang kaya jadi nggak mau habisin makanan ini gitu?"


"Ya nggak juga.." Riana masih terheran, kali ini ia dinasehati seorang Davee. Itu sangat langka dalam sejarah hidupnya.