
Davee memijat keningnya mendengar penuturan Rani. Rani tersenyum simpul memandang mantan kekasihnya itu.
"Tidak usah dipikirkan, Dav. Ini bukan permasalahmu. Ini memang pantas terjadi padaku." Tambah Rani.
"Nggak, Ran. Ini hanya ujian hidupmu, dikemudian hari hidupmu akan kembali seperti semula. Kamu bisa tersenyum bebas kembali dan bahkan akan tertawa lepas dengan bahagia. Kamu harus percaya itu. Sekarang kamu tinggal di mana, Ran?"
Drrrrtttttt....Drrrrrrttttttt...
Handphone Davee yang tergeletak di meja bergetar. Davee tidak berniat untuk melihat nama si penelponnya, ia bahkan langsung menekan tombol diam.
"Kenapa nggak diangkat, Dav?"
"Nanti saja, paling juga soal kerjaan. Ini kan jam istirahatku."
"Oh.."
"Oh iya, tadi aku nanya. Kamu sekarang tinggal di mana?"
"Aku tinggal di apartemen Sugeng, Dav."
"Apa istrinya tau hubunganmu dengan laki laki bernama Sugeng itu?"
"Tau, bahkan dia pernah datang ke apartemen dan menyerangku. Untunglah waktu itu, Sugeng datang tepat waktu. Kalau nggak, mungkin nyawa ku sudah melayang."
"Ran, sewaktu waktu istrinya Sugeng pasti akan mendatangimu lagi. Kamu harus pergi dari tempat itu, Ran."
"Kemana, Dav. Aku bahkan nggak tau arah hidupku."
"Aku akan mencarikan mu kos di dekat sini. Bagaimana Ran?"
"Aku nggak enak merepotimu, Dav," ujar Rani, seraya membuang pandangan ke arah lain.
"Jangan berkata begitu, sebagai manusia kita memang sudah seharusnya tolong menolong. Kalau kos di dekat sini aku jadi lebih mudah mengunjungimu, Ran. Siapa tau kamu butuh teman ngobrol di waktu lain lagi."
"Baiklah, Dav. Terimakasih atas kebaikanmu. Aku nggak tau harus membalas dengan apa."
"Hidup itu seperti roda yang berputar, kadang aku di puncak dan kadang kamu pula yang di puncak, dan aku menapak di tanah. Cukup saling tolong menolong selama hidup ini, Ran."
"Terimakasih, Dav. Oh iya, kamu dari tadi belum pesan makanan kan? Pesanlah sekarang."
"Baiklah. Aku sampai lupa. Pelayan..."
Davee menyantap makanannya yang baru saja di sajikan oleh pelayan restoran, sedang Rani juga ikut memakan makanannya sendiri yang sudah lama tersaji di mejanya yang belum ia sentuh sedari tadi.
"Ran, bagaimana kalau kepindahanmu mulai besok saja. Jadi hari ini adalah waktu beres beres semua peralatanmu."
"Em, baik Dav. Dan apakah kamu bisa membantu ku mempersiapkan barang barang ku?"
"Kalau itu sepertinya nggak bisa, Ran. Karena banyak kerjaan yang sedang menunggu ku. Tapi aku akan memerintahkan seseorang untuk membantumu."
"E, nggak usah Dav. Jangan.."
"Nggak apa apa, Ran. Kamu lagi hamil, beres beres itu butuh waktu yang panjang serta tenaga ekstra. Kamu nggak boleh terlalu kelelahan."
"Iya deh. Em, istrimu sudah hamil Dav?"
"Sudah, dia sedang mengandung anakku. Lain waktu bagaimana kalau kamu main ke rumah ku? Bertemu dengan Riana. "
"Kapan kapan saja, Dav. Aku masih nggak enak dengan kejadian waktu itu."
"Kalau kamu baik baik menjelaskan padanya, dia akan paham dan menerimamu."
"Iya, Dav. Tapi sekarang aku memang belum siap untuk bertemu dengannya dulu."
"Baiklah, Ran. Aku mengerti keadaanmu sekarang. Tak apa."
Davee selesai menghabiskan makanannya, ia melihat jam yang menempel di tangannya.
"Ran, sepertinya aku sudah harus kembali ke kantor. Oh iya, aku hampir lupa. Masukan nomor mu, Ran." Kata Davee lalu menyodorlan handphonenya kepada Rani. Rani mengikuti perintah Davee. "Ya sudah kalau gitu aku duluan, nanti akan ku hubungi untuk menanyakan alamat apartemenmu." Ujar Davee, Rani mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju.
***
"Selamat sore, Sayang." Kata Riana ketika suaminya keluar dari mobil, Riana menyambutnya dengan ciuman manis di pipi Davee.
"Iya sore juga Ayang.."
"Panggilannya diganti ayang lagi nih?"
"Iya, biar lebih unyu."
"Haha, lebay. Ya sudah, ayo masuk."
Di kamar Riana segera melepaskan satu persatu kancing kemeja Davee.
"Abis ini langsung mandi ya. Udah bau kecut." Ujar Riana sambil mengendus enduskan hidungnya.
"Kecut kecut gini juga suami kamu." Kata Davee sembari mencolek hidung Riana.
"Oh iya, tadi pas jam istirahat kamu, aku nelpon berkali kali lo. Kok nggak diangkat, Sayang?"
"Tadi aku sibuk, Ayang. Aku sedang makan bersama klien ku." Ujar Davee berbohong.
"Maafkan aku, Riana. Kamu pasti kecewa dan marah jika aku beritahu alasan sebenarnya. Kamu kan lagi hamil, jadi harus tetap berpikir positif." Batin Davee.
"Oh begitu ya, ya sudah aku minta maaf ya, Ayang. Aku nggak tau kalau tadi kamu lagi sibuk. Kita mandi dulu ya? Mau aku mandiin nggak?"
"Mau," jawab Davee tanpa butuh waktu.
Setelah selesai memandikan suaminya, Riana mengambilkan baju untuk Davee. Dan menyuruh Davee mengenakannya.
"Mas, aku udah siapin makanan. Kita makan dulu yuk?"
"Oke, Sayang. Tapi aku mau telepon klien dulu. Kamu duluan ke dapurnya ya?"
"Oh gitu, ya sudah deh. Jangan lama lama ya, aku sekalian manasin makanannya dulu."
"Iya, Riana."
Riana lebih dulu turun ke bawah dan meninggalkan Davee di kamar sendiri.
"Halo Rani?"
"Iya, halo Dav?" Suara Rani di seberang telepon.
"Ran, kamu sedang apa?"
"Aku sedang merapikan pakaian ku di koper, Dav."
"Oh.. Ran, kirimlah alamatmu di nomor ini."
"Baik, Dav."
"Berhati hatilah Ran, jangan terlalu capek. Tidak baik untuk kandunganmu."
"Iya, Dav. Terimakasih perhatianmu."
"Iya Ran, kalau begitu sudah dulu ya. Nanti akan ada seseorang datang ke apartemenmu."
"Oke Dav.."
***
"Mas, aku cuma masak daging goreng mentega. Nggak apa apa kan Sayang?" Tanya Riana.
"Iya, nggak apa apa Sayang. Tapi itu ada telur ceplok." Kata Davee sambil melihat ke arah telor ceplok yang terhidang di samping piring daging goreng."
"Ih, itu cuma buat aku. Kamu dilarang minta. Aku lagi ngelelehin coklat nih."
"Hah? Coklat buat apa, Sayang?"
"Buat saos telur ceploknya Mas. Itu sudah telor ceplok ketiga yang aku bikin hari ini. Hehe.. Enak lo Mas, kalau Mas mau, bikin sendiri saja ya." Tutur Riana, Davee seketika memandang Riana ngeri.
"Sayang, jangan jangan kamu kesurupan lagi?"
"Mas apaan sih, aku tu sadar aja. Aku sadar aku adalah istrinya Tuan Davee yang bijaksana. Nggak tau kenapa tadi pas aku nonton iklan coklat di tv, aku jadi pengen makan coklat yang meleleh sama telor ceplok. Pas aku bikin, ternyata emang enak." Jelas Riana. Davee memandang Riana dengan heran dan sekaligus menggeleng gelengkan kepalanya.
"Anakku membuat ibunya jadi setress." Ujar Davee.
"Ih, nyebelin..." Riana melemparkan sendok makan yang ada di tangannya ke arah Davee, yang tepat mengenai jidatnya.
"Auw, sakit Sayang.." Ujar Davee meringis sambil mengelus elus dahinya.
"Awas juga, aku itu nggak setress."
"Iya Ayaaaaaangg.. Kamu itu nggak setress, kamu itu istri Mas yang paling cantik, yang paling Mas sayaaaaag.."
"Gombal teruss.." Kata Riana sewot. Davee lalu hanya bisa terdiam, karena merasa selalu salah di mata istrinya itu.
"Ya mungkin karena kehamilannya, sehingga hormonnya juga meningkat. Tapi kemarin sebelum hamil juga gini." Batin Davee yang ingin membela namun tiba tiba ingatannya membongkar.