Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 102



"Aku pulang atau bagaimana?" Gumam Riana, setelah keluar dari kantor Davee. "Apa mungkin Mas Davee ke rumah orang tuanya? Aku ke sana saja deh. Di mana pun Mas Davee semoga tetap baik baik saja dan semoga Mas Davee memang di rumah orang tuanya." Gumam Riana lagi sebelum taksi datang karena lambaian tangannya.


***


Sesampai di rumah orang tua Davee, Riana langsung disambut hangat oleh Ibu Rita.


"Silahkan masuk, Nak. Kok sendiri?" Tanya Ibu Rita.


"Aku ke sini mencari Mas Davee, Ma."


"Loh emang kamu habis dari mana, Ya?"


"Dari tadi siang aku di kantornya Mas Davee, tapi Mas Davee nya nggak ada juga sampe sore ini. Mana nomornya nggak bisa dihubungi lagi."


"Kamu sudah tanya sama sekertaris atau recepsionistnya?"


"Astaga aku lupa Ma. Aku nggak kepikiran. gimana dong, Ma? Apa aku kembali ke kantor lagi aja buat nanyain Mas Davee, Ma?"


"Jangan Riana, Davee pasti pulang kok. Kamu di sini saja dulu. Nanti dia pasti nelepon ke sini kalau dia ngecek rumah tapi nggak ada orang."


"Benerankan, Ma?"


"Iya, Ya. Kamu nggak usah terlalu khawatir. Kasian anakmu." Ujar Bu Rita menenangkan menantunya, sambil menyelipkan rambut Riana ke daun telinga Riana.


"Iya deh, Ma."


"Riana, bagaimana kalau kita makan dulu, yuk?"


"Aku nggak enak sama Mas Davee, Ma. Mas Davee pasti belum makan." Kata Riana, muncul kekhawatiran di wajah cantiknya.


"Kamu memang istri yang baik, Sayang. Tapi kamu harus mikirin anak kamu juga, Riana." Bujuk Bu Rita.


Tulililit.......


Telepon rumah berbunyi, Bu Rita segera beranjak dari duduknya untuk mengangkat telepon.


"Halo?"


"Halo, Dav?"


"Mah, Riana nggak ada di rumah. Aku harus bagaimana, Mah?"


"Datanglah ke rumah, Dav. Riana sudah menunggumu."


"Apa? Jadi Riana di sana, Mah?"


"Iya, cepatlah ke sini."


"Baik, Mah. Aku akan segera ke sana."


Riana memperhatikan Bu Rita yang mengangkat telepon. Mendengar nama Davee, hatinya jadi lebih tenang.


"Bagaimana, Ma? Mas Davee baik baik aja kan, Ma?"


"Iya, Riana. Dia akan segera menjemputmu."


"Sukurlah kalau begitu, Ma." Wajahnya murung kini sudah berubah cerah kembali.


"Ya sudah kalau gitu kita makan ya?"


"Em, nunggu Mas Davee di sini aja deh, Ma. Kita makan bareng bareng sama Mas Davee."


"Baiklah kalau begitu, Sayang."


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Davee sudah sampai di rumah orang tuanya.


"Mas Davee.." Riana menghapiri Davee dan segera ingin memeluknya. Namun belum sempat Riana menyentuhnya, Davee sudah menarik tangan Riana terlebih dahulu.


"Davee, duduklah sebentar. Riana menunggumu dari tadi, Nak." Ujar Bu Rita.


"Nggak, Mah. Aku harus pulang sekarang. Permisi, Mah." Kata Davee sambil masih menarik tangan Riana.


*


"Mas, maafkan aku. Aku cuma ingin ... " Ujar Riana setelah mobil bergerak membawa mereka.


"Riana, kamu itu sedang hamil muda. Ngapain juga kamu harus ke rumah Mamah! Kamu nggak bisa nunggu aku pulang dulu?!"


"Mas, kamu bisa nggak sih dengerin penjelasan aku dulu?!" Ujar Riana akhirnya mengeluarkan intonasi naik. "Aku nungguin kamu di kantor kamu dari jam istirahat kamu sampai dengan jam pulang, Mas. Makanya aku ke rumah Mama, karena aku kira kamu di sana."


"Jadi kamu ke kantorku?"


"Iya, tapi kamu nggak ada di sana."


"Aku akan menjelaskannya di rumah."


Riana tidak berbicara apa apa lagi setelah Davee mengucapkan kata itu, begitupun Davee. Setelah sampai di garasi, Riana memilih turun dari mobil duluan tanpa menunggu Davee terlebih dahulu yang biasanya membukakan pintu mobil untuk Riana. Entah mengapa dia menjadi kesal hari ini. Tentu saja kesal, perempuan mana yang tidak kesal suaminya yang ditunggu tunggu tapi tidak menghargainya. Davee berusaha berjalan beriringan dengan Riana, namun Riana langsung mempercepat langkahnya.


Sesampai di kamar, Riana langsung masuk ke dalam kamar mandi. Davee sudah melangkah ingin ikut masuk dengan Riana, tapi "Bakhh" pintu kamar mandi ditutup oleh Riana tanpa sempat Davee masuk ke dalamnya. Davee menarik nafas berat, ia sadar ia sudah salah terhadap istrinya. Ia sudah membentak istrinya, bahkan di depan orang tuanya sendiri. Ia juga merasa bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan Riana dahulu sebelum marah. Bagaimana pun pasti Riana kecewa. Dirinya sudah menunggu setengah hari di kantor, tapi malah mendapat respon begitu darinya. Itulah yang berputar di kepala Davee. Davee menarik narik rambutnya sendiri karena kesal terhadap kesalahannya.


Riana kemudian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di dadanya. Melihat istrinya keluar, Davee segera memeluk Riana. Riana diam saja, namun juga tidak membalas pelukan Davee.


"Riana, maafkan aku." Ujar Davee sambil mengecup kepala Riana.


"Maaf untuk apa?" Tanya Riana ketus di dalam pelukan Davee.


"Maafkan semua kesalahanku, Sayang." Davee melepaskan pelukannya dan memagang kedua bahu Riana. Memandang wajah Riana dalam dalam. Sementara Riana, ia enggan memandang wajah Davee. Riana memalingkan wajahnya ke arah lain. "Riana, aku memang salah. Maafkan Mas, Sayang."


"Mas bilang akan menjelaskan padaku tadi. Jelaskan lah." Ujar Riana ketus.


"Kalau begitu kamu duduk dulu." Ujar Davee seraya membimbing Riana untuk duduk.


"Sayang, aku akan menjelaskan sesuatu. Tapi kamu jangan marah, ku mohon."


"Tergantung." Jawab Riana singkat.


"Sebenarnya selama ini aku bertemu dengan Rani, Sayang." Ujar Davee dengan hati hati, Riana yang mendengar nama Rani segera memandang Davee dengan tatapan tajam.


"Kenapa kamu nggak bilang?!" Tanya Riana.


"Aku takut kamu marah, Riana."


"Justru dengan kamu diam diam begini. Aku akan marah, Mas!"


"Riana, jangan marah. Dengarkan penjelasan aku dulu."


"Penjelasan bahwa selama setengah hari kamu tidak di kantor hari ini itu adalah karena menemui Rani mantan kekasihmu itu? Hah? Iyakan? Jawab Mas!"


"Iya, Riana." Jawab Davee, Riana meremas handuknya karena kesal. Ia mati matian menahan air matanya agar tidak keluar. "Tapi itu semua ada alasan, Sayang."


"Mas, melihat fotomu bersama Rani di dompet mu saja aku marah, Mas. Dan ini ... ah."


"Riana, maafkan Mas. Rani butuh teman, Sayang. Dia hamil dan suaminya nggak ada di sisinya."


"Kenapa Mas nggak cerita sama aku? Aku bisa kok jadi teman ngobrol Rani."


"Rani percaya denganku, Sayang."


"Jadi maksudnya, Rani nggak percaya sama aku, gitu?!"


"Bukan begitu, Riana. Tapi Rani lebih mengenal aku, wajar kalau dia nyaman mencurahkan isi hatinya denganku."


"Apa! Wajar kata Mas? Dalamnya laut dapat diukur, Mas. Tapi dalamnya hati, siapa yang tau. Mungkin di luar sikapnya tampak biasa, tapi siapa yang tau di dalam hatinya sebenarnya seperti apa. Bisa saja di hari hari kamu memberi perhatiaan kepadanya, ia justru merasa nyaman dan justru menganggapmu peduli karena adanya perasaan lebih. Mas tau laki laki berpikir dengan logika, sedang perempuan dengan perasaan. Atau bisa saja, karena seringnya bersama dan saling memberi perhatian, kamu dan dia jadi saling suka lagi."