
Hari terakhir di Swedia, schedule menyatakan bahwa hari ini waktunya bermain main di dalam kamar dari fajar sampai dengan senja. Rinai gerimis di luar jendela, buaian angin yang sedikit menusuk ke sela pori pori. Davee makin betah memeluk Riana.
"Makasih ya, Sayang.." Ucap Riana.
"Iya Sayang, aku juga ingin mengucapkan kata terimakasih pada mu. Karena kamu sudah hadir dalam hidup dan hati ku." Kata Davee, sambil membelai rambut Riana.
"Aku mencintaimu Mas.."
"Aku juga, Riana."
"Tapi pasti aku yang lebih besar mencintaimu."
"Tau dari mana?"
"Ya karena aku memang sangat mencintai mu, dan sepertinya hanya aku yang memiliki cinta sebesar ini."
"Itu karena kamu nggak bisa merasakan setiap cinta yang dirasakan oleh orang lain."
"Em, maksudnya?"
"Sayang, ketika kamu berdiri di luar ruangan ini dan lalu melihat cakrawala. Kamu melihat dan berpikir bahwa sepertinya bumi ini terlalu besar jika menampung 193 negara anggota dan dua negara lagi adalah negara pengamat yaitu Vatikan dan Palestina. Dengan setiap Negara mempunyai ribuan penduduk. Kamu bisa bayangkan betapa sebenarnya bumi ini besar, lengkungan langit membuat bumi terlihat kecil jika harus menampung banyaknya negara serta wilayah dan penduduknya."Jelas Davee yang belum selesai.
"Lalu Mas?"
"Em, hanya bumi sendiri yang merasakan ia sangat besar. Begitu lah aku, kamu dan setiap orang. Kamu melihat cinta ku lebih kecil di banding kamu, pedahal cinta ku sangat luas hingga tidak terbatas seperti halnya kamu juga. Tapi kamu hanya dapat berpikir dan bisa saja setiap kali melihat cakrawala di luar sana, kamu meragukan apakah bumi ini memang bisa menampung segitu banyak jiwa? Dan apakah aku memang mencintai mu sebesar itu? Tugas kita sebenarnya hanya terus yakin. Yakin bahwa memang Tuhan menciptakan bumi ini sangat besar, dan yakin terus bahwa aku pun selalu mencintaimu tanpa batasan." Lanjut Davee.
"Aku yakin Mas akan mencintai ku sepanjang hidup Mas. Dan aku yakin, kita akan terus bersama hingga tua nanti."
"Iya, Riana.."
"Dan aku yakin Mas pasti lapar."
"Hehe, kamu tau saja. Ya sudah aku telepon Sekertaris Endra dulu."
***
"Sayang kita mau dinner di mana sih?"
"Suprise, jadi aku nggak akan memberitahu kamu dulu."
"Ih, kalau tau kan aku jadi bisa memilih tema baju untuk dinner kita."
"Pakai lah baju terbaik yang kamu bawa dari Indonesia. Atau kamu mau beli baju dulu? Masih ada waktu satu jam." Kata Davee sambil melihat ke arah jam di tangannya.
"Nggak usah Mas, waktu satu jam mana cukup. Aku dandan saja mengahabiskan waktu tiga puluh menit." Kata Riana sewot.
"Ya sudah kalau begitu ku pilihkan saja."
"Em baiklah, pakaian ku ada di almari bagian kiri."
"Okey.." Davee mulai menggeledah isi lemari hijau besar. Davee tersenyum setelah menemukan gaun hitam berlengan satu, dengan desain span, panjang sampai dengan atas lutut. Davee memberikan pada Riana yang sedang asik berdandan di depan kaca.
"Pakai ini? Kan dingin Mas."
"Nggak Sayang, restoran yang akan kita kunjungi ini di jamin nggk akan membuat mu kedinginan."
"Baiklah kalau gitu. Mas tunggu di tempat tidur dulu. Aku mau lanjutin dandan, baru pakai gaunnya."
"Iya Sayang, baiklah." Davee membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan handphonenya.
Sementara Riana melanjutkan kegiatannya, memoles wajah dengan butiran tipis bedak, menambahkan arsiran tipis pada alisnya, eyeshadow tipis berwarna taupe dengan perpaduan countouring ringan yang lebih gelap dari skin tune alaminya, membaur blush on berwarna dusty pink, dan terakhir hiasan di bibir cantiknya, yaitu lipstik. Riana memilih memadukan riasan wajahnya dengan warna lipstik dusty pink yang sedikit lebih tua dari warna blush on nya.
"Beres deh. Tinggal ganti baju..." Ujar Riana berbicara sendiri. Sementara Davee yang asik memainkan handphone di tangannya pun tidak mendengar perkataan istrinya.
Riana sudah selesai mengenakan gaun hitam yang sangat serasi dengan tubuh serta riasan di wajahnya itu.
"Mas, sudah." Kata Riana.
Davee memalingkan wajahnya ke arah Riana, dan ternganga. Ya itu saja yang dapat ia tunjukan setelah melihat penampilan Riana.
"Mas, kenapa sih? Jelek ya?" Tanya Riana, Davee tetap tidak menjawab, malah ia beranjak dari tidurannya. "Mas, aneh deh. Ya sudah kalau jelek, aku hapus dulu." Kata Riana yang sudah membalikkan tubuhnya.
"Riana, jangan. Kamu sangat cantik, Riana."
"Sayang, serius kamu sangat cantik."
"Gombal, kemarin pas resepsi aku juga udah dandan dua kali lipat lebih cantik dari ini. Kamu biasa aja."
"Nggak tau kenapa, malam ini kamu terlihat begitu sangat cantik."
"Ih, seriusan cantik kan?"
"Iya Riana, aku jadi berubah pikiran ingin dikelonin aja deh di sini."
"Ih, nggak mau. Aku udah dandan gini, dan perut ku sudah lapar nih."
"Hehe, ya sudah. Kalau gitu kita berangkat sekarang."
***
"Sekertaris Endra tumben nggak ikut Mas?" Ketika di dalam mobil.
"Dia harus berteleponan dengan istrinya malam ini."
"Emang istrinya kenapa Mas?"
"Istri Sekertaris Endra ingin dimanjakan oleh suaminya." Jawab Davee dengan wajah datar.
"Hah? Yang benar saja..."
"Riana, jangan membicarakan suami orang lain di depan suami mu ini."
"Emang kenapa?"
"Aku cemburu." Ujar Davee tanpa tedeng aling aling. Riana tertawa lebar.
"Masih lama nggak sampainya Mas?"
"Oh iya, aku hampir lupa. Sebentar lagi sampai. kamu harus menutup mata mu dari sekarang."
"Oke baiklah.."
"Jangan mengitip kalau kamu ingin bahagia dengan kejutan malam ini."
"Iya Mas, bawel banget."
Davee memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Davee membantu Riana keluar dari dalam mobil, menuntun Riana berjalan masuk restoran.
"Buka mata mu.." Ujar Davee.
Riana pelan pelan membuka matanya, betapa kaget dan kagumnya ia melihat restoran mewah nan indah itu. Desain interior restoran yang menonjolkan kesan mewah. Pemandangan cantik bunga bunga di atas setiap meja. Ditambah lampu lampu gantung kuning yang memberi kesan kehangatan serta romantis. Keindahan lampu lampu kota di balik kaca bening transparan pun menambahkan keindahan suasana malam ini. Riana melihat sekelilingnya, hanya ada dirinya dan Davee serta pegawai pegawai saja di sana.
"Mas, ini? Apa ini khusus untuk kita berdua?"
"Tentu saja, Riana. Kamu suka kan?"
Riana tidak menjawab dengan kata kata, ia hanya menunjukkan ekspresi kebahagian dari wajahnya dan kemudian anggukan kecil.
"Makasih Mas.." Riana menghamburkan pelukannya pada Davee.
"Sama sama, Sayang."
Riana dan Davee menikmati hidangan dinner mereka, senyum kebahagian membalut disetiap wajah mereka.
"Aku punya sesuatu untuk mu." Ujar Davee.
"Oh ya apa itu?"
Davee memberikan buket bunga mawar indah pada Riana, yang sedari tadi ia sembunyikan di balakangnya. Riana tersenyum dan mengeluarkan tangis bahagianya.
"Mengapa aku mendapatkan suami terbaik seperti Mas?"
"Karena kamu memang jodoh ku.."