Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 39



Kali ini Riana terpaksa tidak mengikuti less menyanyi lagi. Jam pulang sudah tiba, Riana melajukan langkah agak cepat agar tifak bertemu dengan Davit. Di luar gerbang ia melihat gerombongan cewek cewek menggerumbungi seseorang disana. Mobilnya hitam, mirip seperti mobil Davee.


"Ih tambah ganteng deh," bunyi suara suara itu memuji orang yang dikerumbungi mereka.


"Tambah berotot dan keren banget... Nanti kapan kapan jalan sama aku ya ka." Tambah seseorang lagi.


Riana menatap terus memastikan siapa orang yang dikerbungi banyak cewek itu. Setelah jaraknya sekitar 1 meter Riana didorong seseorang dari gerombolan itu. Riana terjatuh, Davee keluar dari sesaknya cewek cewek yang menghimpitnya. Davee menangkis semua tangan dan membantu Riana bangkit, Riana membulatkan matanya melihat seseorang yang menolongnya adalah Davee suaminya. Davee yang dikerumbungi cewek cewek. Semua cewek yang melihat perlakuan Davee pada Riana seketika bungkam dan terlongong longong, terlebih lagi Rika yang tadi mendorong Riana. Rika memang tidak menyukai Riana, karena Rika mengganggap Riana adalah perusak semua kisah asmaranya. Rika menyukai Davit sedangkan Davit menyukai Riana dan setiap hari mengejar Riana di depan mata kepala Rika sendiri. Melihat kejadian ini pula Rika menatap Riana tajam penuh kebencian.


"Ka Davee ngapain?" Rika menarik tangan Davee, Davee melepaskan pegangan Rika dengan kasar dan tetap membantu Riana berdiri.


"Kamu nggak apa apa kan?" Tanya Davee ada Riana. Riana hanya anggup anggip.


"Ka Davee ngapain sih baikin cewek PHO kaya dia?!" Ujar Rika lagi seraya menunjuk wajah Riana.


"Apa maksud lo, hah?" Davee menangkis tunjukan Rika. Wajahnya memerah menahan amarah.


"Ka Davee dia ini perebut pacar orang!"


"Tutup mulut lo, minggir!" Davee menuntun Riana berjalan ke arah mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Riana. Semua matanya melihatnya terkesiap masih tidak percaya dengan kejadian itu. Sementara Rika mendengus kesal dan pergi.


Mobil dilajukan Davee dengan semakin cepat dari sebelumnya.


"Soal perkataan Rika tadi apa benar?" Tanya Davee akhirnya setelah sekian lama waktu berlalu mereka hanya terdiam.


"Maksudnya aku adalah PHO?"


"Hh.." Riana menyeringai. "Aku nggak pernah mengganggu hubungan Rika, yang pasti Davit lah yang mengejar ngejar aku. Davit juga tidak pacaran dengan dia."


"Kalau gitu kenapa tadi kamu cuma diam?"


"Karena aku sudah capek harus berdebat dengan dia, semua jawaban aku nggak di dengar dengan baik. Jadi semua percuma aku jelasin berkali kali." Jelas Riana.


"Davit itu bukan kah orang kamu sukai itu?"


"Iya," Jawab Riana ketus. Davee tidak melanjutkan lagi bicaranya. Kini hanya ada suara mesin mobil yang berbunyi juga kendaraan yang lewat di sekitar mereka.


Sesampai di rumah Davee melangkah terlebih dahulu meninggalkan Riana. Riana mengernyitkan dahinya melihat sikap Davee.


"Bukankah tadi dia manis, kenapa skarang jadi dingin begitu. Dasar manusia aneh." Batin Riana lalu ikut masuk ke dalam rumah juga.


Riana memakai piyama setelah ia selesai mandi. Riana mendatangi kamar Davee karena ia rasa harus memprotes Davee yang tidak memberinya uang jajan hari ini. Riana membuka kamar pintu Davee dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Davee sedang melepas handuk, terlihat area sensitif Davee. Davee tidak menyadari kehadiran Riana, karena ia menunduk kan kepalanya sambil memilih milih pakaian di atas ranjang yang tadi ia siapkan. Riana susah payah menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang.


"Gila, besar banget. Itu burung dia belum hidup sudah sebesar itu apalagi..."


"Heh, Riana kamu ngapain di situ." Davee yang sudah menyadari Riana yang berada di ambang pintu cepat cepat menutup dirinya dengan bantal.


"Heh, e, Ka Dav. E, maaf..." Riana gelagapan, tapi seketika gugupnya kini bertambah lagi ketika Davee melepas bantal yang tadi menutupi area sensitif itu. Kali ini bertambah besar dan berdiri. Davee tersenyum nakal melihat Riana. "Ka Davee......." Riana menutup matanya dengan kedua tangannya.