Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 6



"Itu sudah nggak penting lagi, Ma. Menurutku itu semua sudah sia sia, hiks.. Mau gimanapun juga aku pasti sulit dan bahkan sangat sulit untuk menggapai impianku." Ucap Riana menyerah.


"Nggak, Ria. Mama yakin kamu bisa. Sekarang jangan buat Mama kecewa dengan perkataanmu itu."


***


Sementara di rumah Davee.


"Dav, apa kamu nggak berniat mencari pekerjaan atau masuk perguruan tinggi?" Tanya Pak Santoso.


"Nggak, Pah." Jawab Davee seraya memalingkan mukanya ke arah lain. Jujur saja ini sudah kesekian kalinya ia mendengar pertanyaan ini dari orang tuanya.


"Apa kamu juga nggak ingin mencari pekerjaan?" Tanya Pak Santoso sekali lagi.


"Aku belum mau bekerja, Pah. Bekerja atau nggak, apa pun yang aku inginkan bisa terpenuhi kok dengan uang sekarang. Malah dengan bekerja hanya membuatku lelah." Jawab Davee masih sama dengan jawabannya setiap kali Pak Santoso mempertanyakan itu.


"Baiklah kalau begitu kamu nikah saja, agar kamu bisa merasakan hidup berawal dari nol. Agar kamu merasakan gimana rasanya mencari uang untuk sesuap nasi. Tiga hari lagi kamu akan menikah. Papah sudah menyiapkan rumah untuk kamu di jalan SPG, jadi setelah menikah dan resepsinya selesai kamu dan istrimu bisa langsung tinggal di rumah itu. Papah hanya memberikan Rumah tapi tidak dengan uang, kamu harus belajar sendiri bagaimana caranya membangun kehidupan dari nol. Oh tidak, Papah akan memberikan kesempatan satu bulan untuk kamu mencari pekerjaan jadi dalam satu bulan pernikahanmu, Papah akan memberikan mu uang." Jelas Papa Davee. Davee membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Papah nggak salah ngomong, Pah?" Davee melihatnya Pak Santoso dengan tatapan tajam, berharap pertanyaannya dijawab "iya" namun...


"Nggak, Papah sama sekali nggak salah ngomong, dan dalam keadaan sadar seratus persen. Dan Papa tau kamu bakal menolak tapi Papah nggak peduli itu. Kamu akan tetap menikah dengan putri Pak Darmawan, titik!" Tegas Papa Davee.


"Keputusan Papah sudah bulat. Kamu istirahatlah, Papah ada urusan lagi." Ucap Pak Santoso lalu pergi meninggalkan Davee dan Bu Rita yang sedari tadi hanya diam duduk bersamanya.


"Mah, jawab aku, Mah. Ini cuma gertakan kan, Mah? Biar aku mau kuliah. Mah jawab.." Davee mengguncang guncang bahu Bu Rita.


"Nggak, Dav. Papah barusan serius dengan perkataannya. Papah sudah bicara dengan Om Darmawan mengenai perjodohan kalian ini."


"Tapi, Mah. Aku nggak mungkin bisa, Mah.."


"Kamu bisa, Dav. Mama yakin kamu bisa, Dav."


Davee terdiam lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke garasi. Menginjak gas mobil sehabis habisnya. Dave masih tidak percaya dengan keputusan Papahnya. Bagaimana mungkin dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah ia temui bahkan dalam mimpinya sekalipun. Mobilnya kini berhenti di sebuah parkiran D****iskotik Reha. Davee melajukan langkahnya memasuki diskotik itu. Tiba tiba dia terhenti dan baru sadar bahwa ia tidak membawa dompet pergi bersamanya.


"Ah, sialan. Mana mungkin aku bisa bersenang senang di sini tanpa uang." Davee menarik kasar rambutnya sendiri. Davee lalu membalikkan badannya dan bergegas pergi dari tempat itu. Ia akhirnya kembali ke rumah, karena ia pikir ia tidak akan bisa di luar rumah tanpa uang. Setelah sampai di rumah dan di kamar, Davee merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia tidak berniat untuk pergi lagi ia merasa hanya akan tidur panjang dan berharap ketika ia bangun semuanya adalah mimpi belaka.


 


\\\\\\\\\\