Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 16



"Riana, gue nggak bisa tidur. Lo bisa temenin gue nggak?" Tanya Davee, Riana membelalakan matanya. Karena refleks ia bangun dari rebahannya.


"Apa lo bilang?" Riana masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya sehingga ia ingin Davee sekali lagi mengucapkan itu.


"Gue nggak bisa tidur, dan gue mau lo temenin gue." Davee sekali lagi mengulang kata katanya. Riana terlihat bingung dengan sikap Davee.


"Kalau gitu gue mesti ngapain?"


"Lepas baju lo." Jawab Davee dengan muka tanpa ekspresi.


"Ih.." Riana sudah bersiap merebahkan tubuhnya lagi.


"Hahhaha, gitu aja ngambek. Temenin gue main game."


"Gue nggak bisa main game,"


"Lo bisa, sini gue cariin game buat lo." Davee mengambil handphone Riana yang ada di sebelah bantal Riana.


"Lo apain handphone gue?" Riana memanjangkan leher untuk mengintip pekerjaan Davee itu.


"Lo tunggu aja, gue lagi instalin lo aplikasi game yang bisa lo mainin. Nih selesai, lo mainin cacing ini biar bisa panjang dan besar. Terus siapa diantara kita yang cacingnya mati duluan ada hukumannya." Ujar Davee.


"Apa hukumannya?" Riana takut kalau kalau nanti Davee meminta hukuman yang aneh aneh jikalau ia kalah.


"Gampang, lo cukup mijatin gue nanti kalau lo kalah. Hahaha, gue sekarang kecapean banget jadi pasti enak kalau lo pijatin."


"Em, dan kalau lo kalah. Lo yang mijitin gue." Balas Riana.


"Oke, deal.." Davee dan Riana berjabat tangan tanda setuju diantara mereka.


5 Menit berlalu game handphone mereka sudah berjalan. Riana tersenyum senyum melihat hasil permainannya. Sementara Davee terlihat sangat tegang.


"Wah ini mah gamenya seru banget Ka. Gue yakin dalam sekali main bakalan kalahan Ka Davee."


"Horeee, Riana Putri Ningsih menang..." Riana mengangkat tangannya kegirangan. "Pijitin, buruan.." Riana memberikan tangannya pada Davee.


"Gue yakin pasti tadi ada kesalahan, dan ini pasti karena tadi lo ngajak gue ngobrol. Konsentrasi gue jadi pecah." Protes Davee yang tidak terima dengan kekalahannya itu.


"Hahahaha, tetep aja lo kalah. Kalau pun emang matinya cacing lo karena gue. Berarti lo itu nggak handal dalam menghadapi situasi. Seharusnya lo akan tetap menang walau suasana nya bagaimana pun, itu baru namanya profesional." Riana berpanjangan mengeluarkan senyum kemenangannya.


"Hih, ya udah sini gue pijetin." Davee mulai memijat tangan Riana.


"Aduh, sakit.. Ka pelan pelan dong."


Mama Rahma yang melewati kamar Riana tersenyum senyum mendengar suara putrinya itu. Tentu saja karena mengira Riana dan Davee lagi bergulat.


"Kenapa sekarang pakai bra?" Tanya Davee sembari masih memijat tangan Riana.


"Karena ada lo," balas Riana


"Haha, terus kenapa kemarin di rumah lo nggak pakai?"


"Ya karena gue nggak tau bakal ada respon separah itu dari lo. Gue udah terbiasa selalu ngelepas bra gue pada malam hari."


"Manfaatnya?" Davee mengernyitkan dahinya.


"Bra yang dipakai selama tidur akan memblokir kerja kelenjar getah bening yang bisa menyebabkan kanker payudara."


"Wah bahaya juga ya. Terus lo kenapa sekarang pakai bra?!. Lepas sekarang!"


"Ih lo kenapa sih tiba tiba?!"


"Gue nggak mau punya istri yang penyakitan. Lo harus turutin kata suami lo ini."