
"Memangnya kenapa sih?"
"Laptopmu ini mampu mengeluarkan sinar radiasi elektromagnetik. Sinar radiasi tersebut dapat mempengaruhi kesuburan wanita apabila laptop diletakkan di atas paha dalam keadaan panas."
"Pintar juga, tapi mengapa ia mengatakan perihal keturunan bersamaku. Jangan jangan dia ingin segera membuatnya malam ini. Oh tidak, Tuhan tolong aku.." Batin Riana, diwajah nya nampak kegelisahan.
"Tentu saja aku akan membuatnya nanti." Davee sangat tenang dengan kata katanya, sedang Riana terbelalak mendengarnya.
"Dia ini, apa dia punya indera kesepuluh sehingga bisa membaca pikiranku. Ah malu.." Batin Riana lagi. "Iya iya aku nggak akan memangkunya lagi, aku mau meneruskan tugas ku. Sini kan laptopnya.." Riana mencoba meraih laptopnya.
"Nggak mau!"
"Mas, apaan sih. Aku harus menyelesaikan label ku, besok hari terakhir penyerahan label untuk UKK ku." Riana masih berusaha meraih laptop yang semakin diperjauh oleh Davee dengan sengaja mengerjai Riana. Mendengar Riana berkata demikian Davee mendekat kan tangannya pada dahi Riana lalu kemudian menyentilnya dengan keras membuat Riana kesakitan. "Akhh, auww. Mas, gila ya!" Bentak Riana sambil mengelus elus dahinya yang terasa sakit.
"Besok hari minggu bodoh!" Davee mendorong kepala Riana dengan telunjuknya. Riana tidak tau harus bagaimana menutupi malunya karena ketahuan berbohong perihal dikumpulnya tugas label itu. "Dasar anak udang! Berbohong saja nggak bisa!"
"Ya karena aku tidak ahil berbohong, aku anak yang jujur." Jawab Riana dengan ketus demi menghilangkan malunya pada Davee.
"Kalau begitu mengapa kamu masih mencoba nya bocah cunguk!" Davee menyetil dahi Riana sekali lagi, sakit yang tadi saja masih terasa sekarang disentil lagi tentu saja Riana meringis dengan keras.
"Sakittt.." Riana mengelus elus dahinya yang memerah karena Davee.
"Ini anak kenapa sih, dia nyakitin aku dia juga yang ribet sendiri begitu. Dan sepertinya dia serius mau menelpon dokter. Ah tidak..." Riana sontak merebut handphone dari tangan Davee. "Mas, aku nggak kenapa kenapa. Ini cuma memerah nggak perlu harus di periksa oleh dokter. Nggak akan menimbulkan infeksi Mas, kecuali kalau tanganmu ada virusnya."
"Apa?" Davee melihat tangannya. "Riana bagaimana kalau benar begitu, kamu akan terluka kalau tanganku betul betul terdapat virus, dahi kamu sudah memereh Riana. Aku harus menelpon dokter, kemari kan HP ku." Davee mencoba merebut handphonenya, dan dengan cepat Riana menyembunyikan di belakangnya. Riana tidak percaya bahwa Davee menjadi tidak waras begini.
"Aduh. Nggak, ini nggak apa apa Mas. Ini cuma merah biasa, sakitnya juga sudah nggak berasa kok. Beberapa jam lagi merahnya akan hilang."
"Ya sudah kalau gitu, kamu tidur lah. Aku akan melanjutkan label mu ini."
"Hah? Yang benar saja, ini masih jam 7 malam dan aku sudah disuruh tidur. Kamu juga nggak akan bisa ngelanjutin labelku tau! Kamu itu jurusan perkebunan." Sungut Riana dalam hati. "Mas, tapi ini ini masih 7, aku belum mengantuk."
"Cepat lah tidur, agar merahnya cepat hilang."
"Apa hubungannya cunguk!" Umpat Riana di batinnya.
"Tapi Mas, itu desain labelnya.."
"Aku bisa menyelesaikannya. Apa kamu nggak tau jurusan perkebunan juga mempunya pelajaran kewirausahaan? Heh, kamu selama di sekolah ngapain aja sih? Semua juga sudah tau kalau setiap kejuruan mempunyai mata pelajaran kewirausahaan." Jelas Davee. Riana rasa dirinya hanya cukup diam saja sekarang, ia akan mengedit desainnya lagi besok jika lanjutan Davee tidak cocok. "Kalau kamu masih belum mengantuk, tiduran saja di situ." Riana akhirnya anggup-anggip menerima pendapat Davee.