Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 87



"Mas?" Panggil Riana, ketika Davee sedang memainkan handphonennya.


"Iya?" Sahut Davee tanpa melirik ke arah Riana.


"Mas pernah nggak merasakan kesepian?"


"Tentu saja pernah," kata Davee.


"Dulu aku ingin agar Mama dan Papa membuatkan ku seorang kakak, biar aku nggak kesepian," Kata Riana. Davee tertawa renyah mendengar penuturan istrinya.


"Bagaimana mungkin itu bisa terwujud, yang benar adalah membuatkan seorang adik."


"Dulu aku sama sekali nggak menginginkan ada kehadiran seoeang adik, aku nggak mau kasih sayang orang tua ku terbagi dengan adik ku. Tapi jikalau seorang kakak, dia akan menjaga ku serta melindungi ku." Jelas Riana dengan tatapan lurus ke depan. Davee melepaskan handphone di tangannya dan


duduk di samping Riana.


"Dulu aku malah ingin mempunyai seorang adik." Kata Davee kemudian.


"Oh ya?" Tanya Riana penasaran, dahinya sedikit terangkat.


"Iya, aku ingin menjaganya dan menyayanginya."


"Nggak ku sangka Mas orangnya selembut itu." Riana tertawa renyah.


"Memang kamu memandang ku bagaimana?"


"Pertama kali bertemu dengan Mas Davee pandangan ku adalah Mas orang yang kasar dan mesum. Dua menit lalu pandangan itu masih sama tapi sekarang berganti satu, ternyata Mas itu punya hati yang lembut. Tapi Mas memang mesum. Hehe.."


"Haha, karena setelah menikah kebutuhan pria yang paling utama adalah pemenuhan seksual. Setiap lelaki dalam pernikahan menginginkan kepuasan seksualnya menjadi lengkap. Lain halnya dengan wanita, wanita butuh berkomunikasi terus menerus dengan pasangannya. Jadi yang seharusnya adalah wanita memberikan kepuasaan seksual pada suaminya, sedang laki laki memberi perhatian pada istrinya. Nah itu lah kenapa banyak kata, pasangan itu diciptakan untuk saling melengkapi." Jelas Davee.


"Em, pintar sekali.." Ujar Riana memuji suaminya.


"Pintar apanya?"


"Oh tentu saja," kata Davee berlagak sok sombong.


"Tanpa sadar keinginan kita di masa lalu sudah membuat kita sempurna setelah kita bersatu begini ya, Mas."


"Keinginan masa lalu?" Davee menaikkan alisnya.


"Iya, aku yang waktu itu ingin memiliki seorang kakak dan kamu ingin memiliki seorang adik."


"Lalu?"


"Anggapannya adalah Mas Davee adalah seorang kakak yang menyayangi ku serta melindungi aku. Dan Mas Davee mempunyai seorang adik yaitu aku, sekaligus istri Mas Davee, yang akan Mas lindungi dan cintai." Riana memeluk Davee yang ada di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Davee. "Ya kan Mas?" Riana mendongakkan kepalanya untuk melihat mata Davee, dilihat kedamaian yang tersirat indah pada sorot mata Davee. Jujur saja, tidak perlu mendengar jawaban "iya" pun Riana sudah menemukan kebahagian lewat sorot mata itu. Bagai terbentang lukisan pelangi di sana, membuat lekuk hati Riana merasakan kenyamanan saat memadangnya.


"Tentu saja Riana, aku akan menjaga, melindungi, menyayangi dan mencintai mu sepanjang hidup ku."


"Mas, selain aku ada lagi yang harus Mas jaga, lindungi, dan sayangi."


"Siapa? Orang tua? Tentu saja aku akan begitu terhadap mereka, tapi tetap lah aku nggak bisa menjaga mereka seperti aku menjaga mu. Karena setelah menikah tanggung jawab terbesar ku adalah memenuhi kebutuhan istriku."


"Bukan Mas," Riana menggeleng gelengkan kepala nya seraya menunjukkan senyum manis.


"Lalu?"


"Anak anak kita nanti..." Kata Riana, sebuah kata yang membuat Davee tersenyum penuh bahagia. Davee memeluk Riana dengan erat serta mengelus rambutnya dengan lembut.


"Iya, aku melupakan itu. Kita akan memiliki sepuluh anak agar rumah kita penuh dengan buah buah cinta kita."


...............................................


Maaf lama up ya, yuk gabung pada grup chat author agar kita bisa berkomunikasi..