Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 8



"Bagaimana para saksi sah?"


"SAH!!!!" Ucap tamu tamu menjawab.


***


"Sekarang kalian berdua tinggal di sini." Ujar Papa Davee sambil mengeluarkan barang barang milik Davee dan juga Riana dari bagasi mobilnya.


"Baik Om." Balas Riana


"Loh, kok masih panggil Om? Sekarang panggil Papa ya. Kamu kan sekarang menantu saya." sembari memegang kepala Riana.


"Iya Riana, sekarang kami berdua adalah orang tua kamu juga." Ucap Mama Davee seraya melontarkan senyumnya.


Sementara Davee, ia memilih langsung pergi ke kamar. Ia tidak memperdulikan orang tuanya apalagi Riana.


"Davee, Papa sama Mama akan pulang sekarang kamu tolong jaga Riana." Ujar Papa Davee


"Iya Pa." Balas Davee yang kini sudah mengurung dirinya dikamar.


"Riana, Papa sama Mama pergi dulu ya. Kalau Davee macam macam bilang sama Papa ya, Nak." Kata Papa davee seraya memegang kepala Riana.


"Iya, Pa." Riana bersaliman kepada Papa Davee dan juga Mama Davee.


Setelah orang tua Davee berlalu Riana menuju kamar yang tadi dimasuki oleh Davee, bukan untuk tidur di sana tapi untuk.....


"Heh, lo tu nggak sopan banget sih sama orang tua lo sendiri. Masa lo langsung pergi gitu aja."


"Diem, gue mau tidur. Lo bisa tidur di sebelah kamar ini. Gue nggak mau tidur sama lo." Ucap Davee yang menutup wajahnya dengan bantal.


"Siapa juga yang mau tidur sekamar sama orang gila kaya lo. Hidup seatap aja gue udah ngerasa dibekam dalam penjara bawah tanah apalagi harus sekamar sama lo." Riana membanting pintu kamar Davee


"Di sini udah disiapin bahan bahan makanan nggak ya?" Batin Riana karena sekarang ia merasa lapar. Ia bergegas turun dan menuju dapur. Ia membuka kulkas, ternyata di sana sudah tersedia sayuran, telur dan juga ikan ikan beserta susu. "Wah, untung aku bisa masak kalau nggak bisa mati kelaparan nikah mendadak kaya gini." Riana memilih sayur sawi juga wortel kemudian memotongnya, ia juga mengambil sepotong ikan.


Davee yang juga merasa lapar pergi ke dapur. Semakin mendekati dapur semakin membuat perutnya lapar karena mencium aroma masakan Riana.


"Wangi juga masakan lo."


"Lo kapan ada di sini?" Ujar Riana sembari membalikkan tubuhnya ke arah Davee.


"Waww.." Davee meluruskan pandangan ke dada Riana yang menonjol.


"Eh, apaan sih lo. dasar otak mesum." Riana menutup dadanya dengan tangannya. Mukanya memerah karena malu.


"Salah lo sendiri nggak pake daleman, ngomong ngomong payudara lo gede juga ya." Ucap Davee seraya tersenyum nakal.


"Ihh...." Riana mengarahkan sutil yang ada di tangannya ke arah muka Davee, bersiap untuk menyerang Davee.


"Iya iya, ampun ampun." Ucap Davee yang tidak ingin mukanya kena imbas dari kesalahan nya tadi.


"Pergi lo sana, gue masak buat gue sendiri dan jangan harap lo bisa nyicipin secuil pun. Karena gue nggak bakal rela sepanjang hidup gue. Pergi sana.." Riana mendorong bahu Davee.


"Lo apaan sih, ya udah kalau nggak mau ngasih. Gue bisa pesan lewat online." Davee lalu berjalan meninggalkan Riana.


"Nyebelin banget sih tu anak, dasar mesum. Kayanya gue nggak bisa keluar kamar tanpa bra lagi." Kata Riana kesal.


________________________________________


Author ngapain aja kepikiran novel ini terus. Kepikiran gimana caranya biar update terus setiap waktu..Biar kalian nggk pada nunggu lama.