Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 24



Davee sudah merasa sangat lapar dan kini ia harus bersabar untuk beberapa waktu lagi menunggu kematangan nasi serta lauknya. Davee menghela nafas panjang.


"Apa aku bisa membantu agar lebih cepat Ria?"


"Benarkah? Ternyata lapar membuat lo jadi sangat baik kali ini." Riana melemparkan senyum sambil terus menabur tepung pada ayamnya.


"Cepat katakan, atau gue akan berubah pikiran."


"Baiklah, ini kupaslah timun ini. Dan setelah itu ulek cabe dan bawang bawang ini."


Davee menuruti perintah Riana, ia mengambil salah satu timun lalu mencoba mengupasnya. Jikalau biasanya orang orang mengupas timun dengan meletak pisau dari atas ujung timun lalu menariknya ke bawah, tapi tidak dengan cara Davee, ia memulai dari bawah timun untuk mengiris timun itu mengarah ke atas. Riana belum melihat kegiatan Davee, ia masih dengan pekerjaannya. Davee mengalami kesulitan namun ia memilih untuk diam dan tidak berniat untuk meminta bantuan Riana. Sampai akhirnya pisau yang digunakan oleh Davee mengenai kulit jempol Davee, mata pisau itu lumayan tajam sehingga kini membuat kulit jempol itu sedikit terbuka dan meneteskan darah.


"Auww," Davee melepaskan pisaunya. Riana memalingkan wajahnya melihat ke arah Davee. Riana kaget melihat pemandangan di depannya. Ia terbebelak dan mematung sebentar hingga akhirnya ia tersadar dan cepat cepat mengambil tissue yang berada di dekatnya lalu menempel pada luka Davee.


"Kok bisa sampai kaya gini sih?" Riana masih menahan tissue itu melihat darahnya menembus tissue putih itu Riana cepat cepat menambah beberapa tissue lagi untuk melapisnya.


"Aku mengupas timun ini,"


Riana berpikir keras bagaimana mungkin luka nya ada di bagian dalam jempol Davee, Riana berpikir bagaimana cara Davee mengupas timun itu. Tapi ia sadar bukan waktunya mencari jawaban itu dulu, ia bergegas lari ke atas menuju kamarnya. Kembali ke dapur Riana membawa box kecil tempat obat obatan. Ia membersihkan darah Davee lalu membaurkan betadine untuk luka Davee kemudian membalutnya, Davee memperhatikan wajah Riana yang serius membalut lukanya.


"Cantik juga," batin Davee.


"Ka Davee, bagaimana cara lo mengupas timun ini sih? Kenapa lukanya berada di dalam bagian jempol?" Riana akhirnya menanyakan pada Davee dan membuat Davee tersentak kaget dari lamunannya.


"Seperti ini," Davee memperagakan kembali bagaimana tadi ia mengupas timun itu. Riana yang melihatnya mengangkat alis.


"Berapa tahun sudah lo hidup di dunia ini dan lo belum bisa menggunakan pisau dapur? Hidup lo selama ini dipakai untuk apa sih." Omel Riana, Davee menggaruk alisnya yang tidak gatal karena menyadari kesalahannya itu.


20 menit kemudian akhirnya nasi dan juga ayam geprek ala Riana sudah tersaji rapi. Davee menelan ludah, melihat hidangan di depannya membuat Davee bertambah merasa lapar dan tidak sabar ingin menikmatinya.


"Makannya pelan pelan dong." Ucap Riana melihat Davee yang makan dengan sangat lahap tanpa memperhatikan sekitarnya.


"Gue laper banget, dan ini enak banget. Lo emang jago masak." Ucap Davee tanpa melihat ke arah Riana, ia terus memasukan makanan di mulutnya.


"Iya tapi nggak usah sampe gitu juga kali, nanti lo keselek tau rasa lo."


"Riana lo kapan akan sekolah?" Davee sudah memelan makannya sehingga ia juga dapat berbicara dengan santai sekarang.


"Hari senin depan kali.." Balas Riana.


"Nanti kalau lo sudah mulai sekolah lo bangunin gue pagi pagi ya biar gue nggak kesiangan ngantar lo ke sekolah." Ujar Davee, Riana mengangkat alisnya ia tidak pernah berpikir siapa yang akan mengantarnya nanti ke sekolah selepas ia sudah menikah sekarang. Terlepas sebelumnya ia terbiasa di antar jemput oleh supir pribadinya ketika di rumah orang tuanya.


"Baiklah," Riana akhirnya menggangguk pelan.


 


\_


 


Jangan lupa dukung novel ini dengan cara tekan like juga vote sebanyak banyaknya. Sudah? Author berterimakasih kepada kalian yang sudah memberikan dukungan tersebut. Jangan cuma baca ya, kasih semangat author juga.