
Davee menggendong Riana hingga sampai pada meja makan yang sudah terlihat beberapa hidangan. Davee mengisi piring kosong Riana dengan salad sayur hijau dan telur orak arik, serta menuangkan susu pada gelas kaca transparan. Riana hanya menatap pekerjaan Davee dengan mata sayu karena mengantuk.
"Jangan sampai tersisa ya.." Ujar Davee ditengah menyodorkan piring di depan Riana. Riana anggup anggip dan langsung menyantapnya dengan lambat. "Bi Muna?.." Panggil Davee pada pembantunya.
"Iya Tuan?"
"Bibi, apa saja makanan yang baik untuk kesehatan istri saya Bi?" Riana memandang suaminya sambil mengernyitkan dahi.
"Apa Nona sakit Tuan?"
"Ah tidak, istri sehat sehat saja Bi.."
"Lalu, maksudnya apa Mas? Aku dan Bibi sangat bingung dengan maksudmu.."
"Maksud saya makanan apa saja yang baik untuk Riana, agar Riana cepat hamil Bi? Bibi pasti sudah berpengalaman."
"Ah, anu Tuan. Saya kurang mengerti itu Tuan, karena saya sendiri mandul, Tuan." Wajah Bi Muna seketika suram, memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
"Benarkah Bi?" Tanya Riana.
"Iya Nona, dari itu lah Bibi tidak pernah bertahan lama dalam berumah tangga dengan ketiga mantan suami saya sebelumnya."
"Maafkan perkataan Tuan Davee, Bi. Itu pasti membuat Bibi teringat akan hal yang tidak mengenakan dalam hidup Bibi."
"E, Bi Muna. Maafkan saya.. Saya sungguh tidak tau."
"Tidak apa apa Non, Tuan. Maafkan saya jadi menceritakan ini, terlebih disaat Nona dan Tuan sedang menikmati sarapan."
"Tidak apa, kalau begitu kembali lah bekerja Bi." Ujar Davee.
"Baik Tuan.." Bi Muna menunduk sejenak memberi hormat lalu pergi meninggalkan Riana dan Davee.
"Iya Sayang?"
"Bagaimana nanti jika aku nggak bisa hamil Mas?"
"Nggak akan Sayang, kamu pasti hamil."
"Jawab saja Mas, nggak ada yang tau rencana Tuhan. Bisa saja itu terjadi pada keluarga kita. Aku takut jika kamu akan menjadi seperti laki laki lain seperti suami suami Bi Muna itu."
Davee dengan pelan melepaskan sendok di tangannya dan meletakkannya dengan rapi di piring putih miliknya. Terlebih dahulu Davee menghela nafas panjang sebelum menjelaskan jawabannya pada Riana istrinya.
"Tidak ada keluarga yang tanpa masalah, jadi kemandulan tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai atau menikah lagi. Jika keluarga kita diberi ujian seperti itu, tetapi di baliknya kita pasti diberikan kemudahan dalam bentuk lain. Laki laki nggak boleh egois, bukan hanya laki laki saja yang ingin memiliki keturunan. Namun perempuan juga demikian, bagaimana perasaannya ketika ia merindukan seorang anak namun tak kunjung datang dan penderitaannya bertambah ketika seorang suami memakinya karena nggak bisa memiliki keturunan. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana perempuan itu menghadapi luka hatinya yang begitu menyakitkan itu." Jelas Davee, Riana tersenyum manis mendengar penjelasan suaminya.
"Mas mau anak pertama kita berjenis kelamin apa?"
"Kembar pengantin saja deh.."
"Em, serius mau begitu? Nanti Mas kurang perhatian dari aku loh.."
Davee terheran mengapa istrinya itu bersikap demikian, namun ia senang mendengarnya.
"Kan ada baby sitter, Sayang.."
"Mas, menggunakan jasa baby sitter memang memiliki kelebihan, kita nggak akan kerepotan pagi hari, malam hari atau seharian dalam mengurus mengurus bayi bayi kita, tapi ketika anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan baby sitter ketimbang kita orang tuanya, maka ia cenderung lebih nurut dengan baby sitter. Aku nggak mau anak anak kita menjadi jauh dengan kita, orang tuanya." Jelas Riana.
................................................................
Haloo, mohon maaf Author jarang up dan sekli up Author cuma dikit. Karena Author sibuk dngn urusan dulu ya, Author juga ribut dengan sinyal karena posisi Author ada di kampung sekarang. Jadi mohon pengertiannya..