
"Saya penjaga Nona Riana."
"Apa!" Davit lalu mengarahkan pandangannya pada Riana yang tertunduk. "Riana, jelasin semua ini! Ini pasti nggak benarkan? Sejak kapan kamu membawa penjaga ke sekolah dan kalau pun benar mengapa Riana?"
"Apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat sekarang adalah benar, Vit. Papa aku mengutus mereka agar aku terjaga."
"Riana baiklah, aku nggak masalah dengan 2 penjaga ini, tapi apakah hubungan kita juga di awasi."
"Iya Davit, Papa aku nggak mau aku dekat dengan cowok."
"Tapi kamu punya pacar Riana!"
"Jangan membentak Nona!" Ujar Penjaga Ragar dengan sorot mata tajam pada Davit. Davit memandang penjaga Ragar dengan wajah yang memerah karena marah. Semua orang yang berada dekat dengan mereka terdiam dan tentu saja semua mata itu sudah mengarah pada mereka, tidak mau ketinggalan tontonan gratis itu sedikitpun.
"Penjaga Ragar hanya perlu menjaga ku apabila aku merasa sakitkan? Jadi tidak usah selalu ikut campur." Ujar Riana, penjaga Ragar diam saja dan tidak mengubah mimik wajahnya sedikitpun.
"Riana, ayo kita bicara dilain tempat jauh dari penjaga penjaga ini."
"Nggak, semuanya sudah cukup Davit."
"Riana, ayo!" Davit lalu menarik tangan Riana. Tentu saja penjaga Ragar tidak akan membiarkannya, penjaga Ragar melepaskan cengkraman Davit dengan kasar. Davit memandang marah pada penjaga Ragar.
"Sialan!" Davit meloncat ke arah penjaga Ragar dan mengayunkan tangannya untuk memukul wajah penjaga Ragar dengan kepalan tangannya. Namun karena penjaga Ragar merupakan penjaga pilihan tentu saja ia sudah berlatih atau bahkan sudah menjadi kebiasaannya menghadapi orang orangnya yang ingin menyakitinya dengan bela diri yang dapat diakui. Penjaga Ragar menahan genggaman tangan Davit dan dengan wajah yang datar ia memutar tangan Davit. Davit memekik kesakitan, Riana yang melihatnya merasa ngeri.
"Penjaga Ragar, sudah lah. Jangan berbuat kasar seperti itu, lepaskan dia!." Riana memegang tangan penjaga Ragar dengan wajah pucat. Penjaga Ragar melepaskan tangan Davit, sedang Davit memperhatikan tangannya dengan wajah kesakitan, ia memeriksanya kalau saja tangannya mengalami patah tulang akibat penjaga Ragar.
"Vit, kamu nggak apa apa kan?" Ujar Riana seraya ikut melihat keadaan tangan Davit.
"Aku nggak apa apa, Riana. Kamu berhati hati lah dengan orang ini." Ucap Davit sambil melihat ke arah penjaga Ragar.
"Sebaiknya anda yang berhati hati, jangan mengganggu Nona kami." Kata penjaga Pan setelah lama berdiam diri dan menonton kejadian saja sedari akhirnya ia bersuara.
"Dasar sialan!" Davit sudah ingin memainkan tangannya lagi. Namun dengan cepat Riana menyudahinya.
"Davit, ku mohon jaga emosimu. Jangan ganggu aku lagi, Vit. Aku sudah punya pacar, dan alasan mengapa Papa melarang ku dengkat dengan cowok lain lagi adalah karena pacarku adalah anak teman papa ku. Dia nggak mau kalau sampai aku dekat dengan orang lain lagi." Riana sudah tidak kuat menahan tangisannya.
"Terserah mu saja, Penjaga Ragar ayo kita tinggalkan dia." 2 penjaga Riana pergi mengikuti Riana tanpa bersuara.
Riana duduk di kursi awalnya, dimana tempat Amanda dan Linda yang sedang menyantap bakso dengan tertawa tawa kecil, mereka berdua memang tidak tahu kejadian Riana karena jarak mereka yang cukup jauh dan kantin yang berselat selat tempatnya.
"Riana, lo kenapa? Wajah lo kenapa kesal begitu? Itu juga air mata lo pasti abis keluarkan?" Ujar Amanda penuh pertanyaan.
"Davit maksa gue buat jadi pacarnya, lo berdua kan tau sendiri gue sudah punya suami. Dia bahkan bersi keras mau sekampus bareng sama gue."
"Gila Davit cintanya besar banget sama lo."
"Riana, apa lo masih cinta sama Davit?" Tanya Linda, mereka tahu kalau Riana juga mencintai Davit sebelumnya.
"Gue nggak tau, tapi dengan melepasnya seperti tadi gue merasa lebih tenang."
"Perasaan lo sama suami lo gimana?"
"Gue juga nggak ngerti perasaan gue sama Mas Davee, gue masih takut untuk memantapkan hati gue untuk dia. Gue takut dia nyeraiin gue, ketika gue udah benar sayang sama dia nantinya."
"Riana, apa suami lo cinta sama lo?"
"Tadi malam dia nyatain perasaannya sama gue, tapi gue masih nggak yakin."
"Lo jangan egois, Ria. Ka Davee sudah berani mengambil resiko dalam mencintai lo, tapi lo takut bercebur begini. Lo itu sebenarnya sudah mencintai Ka Davee, tapi karena perasaan lo yang egois jadinya lo begini. Kalau lo nggak mau bercerai nantinya, lo harusnya berjuang bersama bukan cuma memberikan Ka Davee beban."
"Benar kata Linda, Ya. lo sudah menjadi istrinya dan sudah kewajiban lo mencintainya. Apalagi kalau dia sudah berterus terang tentang perasaannya sama lo." Imbuh Amanda, Riana menitikkan air matanya namun senyuman pun juga hadir di wajah Riana.
"Lo berdua sejak kapan jadi sok pinter begini."
"Sejak denger cerita lo." Amanda dan Linda saling bertatapan lalu memeluk Riana.
"Kita sebagai sahabat lo, akan terus mendukung lo Ria." Ujar Amanda.
"Makasih.." Riana tersenyum lebar dan semakin erat memeluk Amanda dan Linda.