Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 9



15 menit kemudian makanan yang dipesan via online oleh Davee kini sudah datang. Davee segera membawanya ke dapur. Riana yang melahap makanannya kini sudah tidak berselera ketika ada Davee yang terus melihat ke arah dadanya. Davee sesekali tersenyum nakal kepada Riana. Riana merasa, ia tidak bisa lagi bertahan berada didekat Davee si otak mesum. Ia menghentikan makanannnya dan membereskannya lalu bergegas hendak ke kamarnya namun Davee menahan.


"Lo mau kemana? Gue mau ngomong."


"Ih, mau ngomong apaan sih lo? Ya udah cepetan. Gue mau cepet cepet ke kamar biar mata lo bisa diem." Riana kembali ke tempat duduknya.


"Apa lo punya pacar?" Tanya Davee.


"Bukan urusan lo." Riana memalingkan wajahnya.


"Ya emang bukan urusan gue, terserah lo mau gimana." Ucap Davee sembari menyuap makanan ke mulutnya.


"Ya bagus lah, gue juga nggak mau diatur atur sama lo."


"Okey, kita bikin kesepakatan di rumah ini. Yang pertama nggak boleh mencampuri urusan masing masing. Kedua nggak boleh ada yang tau kalau kita sudah menikah."


"Okey, ada tambahan!. Nggak boleh minta ****."


"Kalau itu sih gue bakal minta nanti." Kata Davee tanpa ekspresi.


"Apa lo bilang?" Riana membelalakkan matanya mendengar jawaban Davee.


"Bercanda kali, siapa juga yang mau berhubungan sama lo. Yang ada burung gue melemah ngeliat lo." Ucap Davee sombong, pedahal sejujurnya sedari tadi apa yang di dalam celana Davee sudah menegang setelah melihat gunung Riana yang terlihat jelas di balik piyama itu.


"Dasar setres, lama lama gue jadi gila bareng sama lo terus kaya gini. Dasar otak mesum!" Riana pergi cepat cepat pergi meninggalkan Davee. Davee tersenyum senyum sendiri melihat kekesalan Riana ia merasa menang sekarang.


Riana membanting pintu kamarnya. Ia melemparkan pantatnya ke ranjang. Matanya melihat kearah sekeling kamar, lalu bola mata itu berhenti bergerak setelah melihat susunan buku. Ia mengambil salah satu novel lalu membacanya sembari merebahkan tubuhnya. Riana merasa mengantuk setelah membaca beberapa bab novel itu, akhirnya dia memutuskan untuk tidur.


Davee melihat handphone yang tergeletak di atas meja makan. Tidak lain itu adalah handphone milik Riana. Davee ingin membukanya namun ternyata terkunci dengan sandi. Davee kemudian menaiki tangga dan menuju kamar Riana. "Cekrek" pintu kamar Riana terbuka. Davee melihat Riana yang tidur telentang. Kini tampak jelas payudara Riana terlihat. Davee menelan ludah, juniornya kini berdiri tegak. Ingin rasanya memegang gunung itu tapi Davee takut kalau saja Riana terbangun. Ia kemudian meletakkan handphone Riana di sebelah Riana kemudian bergegas keluar kamar Riana.


"Kenapa dia nggak pake daleman sih, kalau gini kan aku jadi tersiksa nahan." Ucap Davee setelah sampai di kamarnya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi dan berendam air hangat di bathub.


Handphone Davee terdengar. Dengan tubuh telanjang bulat ia keluar dari bathub dan keluar berjalan dari kamar mandi untuk memgangkat telponnya yang berbunyi.


"Halo, Dav. Kamu kemana aja, dari kemarin kamu sama sekali nggak bisa dihubungin. Kangen sama kamu nih, ayo kita ketemu.?" Ucap seseorang di seberang telpon.


"Maaf Rani, aku nggak bisa ngabarin seharian kemarin karena ada acara keluarga di rumah ku. Ya udah kamu bersiaplah setelah ini aku akan menjemputmu." Kata Dave.


"Horey, iya sayang. Emuahh, sampai ketemu.."


"Iya sampai ketemu." Davee mematikan handphonenya tapi kini ia masih memainkannya. Ia lupa mengabari Davee bahwa hari minggu nanti ia tidak bisa ikut bersenang senang. Tiba tiba saja pintu kamar Davee dibuka oleh Riana.


"Aaaaaaa.." Mereka berdua berteriak, Davee segera meraih bantal untuk menutupi dirinya. Sementara Riana membalikkan tubuhnya.


"Lo ngapain sih pakai kesini, hah? Nggak bisa ya lo biasain diri lo buat ketuk pintu?" Tanya Davee dengan nada membentak


"Iya maaf, gue buru buru. Gue mau nyampein pesan Papa. Kalau besok pagi kita harus ikut dengan mereka untuk memilih baju baju resepsi kita." Riana masih membelakangi Davee


"Lo aja sendiri, gue nggak bisa. Gue udah ada janji sama Rani." Davee kini sudah memakai celananya. "Lo bisa berbalik badan." Ucap Davee. Riana membalikkan tubuhnya menghadap Davee lalu kemudian berusaha menutupi wajahnya dengan tangannya.


"Lo masih telanjang dada, lo mau tunjukin kalau lo punya dada perut yang sixpack gitu ya."


"Apaan sih lo, nggak papa kali. Udah buka aja mata lo, lo harus terbiasa liat gue gini. Karena biasanya gue bisa sepanjang hari gini untuk ngegym."


 


\


 


Semoga bab ini cepat di review mimin. Pantengin terus kelanjutan cerita Davee dan Riana ya.