
"Dimana Riana?"
"E, Tuan maafkan saya..."
"Apa maksudmu? Dimana istriku?" Davee bangun dari duduknya, diikuti dengan kedua orang tua Davee. Sedang batin Nadila terasa teriris mendengar sebutan istri dari Davee.
"Tuan, Nona pergi Tuan, Penjaga Pan bilang Nona pergi berjalan kaki.."
"Apa? Kamu, ah tidak. Kemana dia? Apa yang terjadi?" Davee sudah menaikkan emosinya. Nadila tersentak, Mama Rita mendekati Davee dan mengelus bahu Davee untuk menenangkannya.
"Davee tenang dulu, sekarang ceritakan ada apa ini Nadila?" Ujar papa Santoso pada Nadila
"Tuan, saya bersalah.."
"Tentu saja kamu bersalah!..." Davee menaikkan intonasinya lagi.
"Davee dengarkan Nadila dulu.." Ujar papa Santoso menenangkan.
"Pah, tolong siapkan orang orang untuk mencari Riana, Pah. Aku akan pergi mencari Riana." Davee berjalan cepat untuk pergi.
"Dav, Davee..." Namun Davee tidak menggubris panggilan papah Santoso.
"Nadila, lain kali kamu harus hati hati. Jangan ceroboh seperti ini lagi." Ucap papah Santoso.
"Maafkan saya Tuan," Nadila menundukkan kepalanya dalam dalam.
"Kamu aturlah acara ini sampai selesai, tangani tamu tamu dengan benar."
"Baik Tuan.."
Davee menghidupkan mesin mobilnya dan lalu meluncur pergi. Davee menjabak rambutnya sendiri. Davee berkali kali mencoba menelpon Riana, namun tidak ada sama sekali respon, hanyalah tertulis berdering semata.
"Riana kamu kenapa?" Davee sangat khawatir, ia juga tidak tahu mengapa Riana meninggalkan acara seperti itu.
***
Riana sampai pada taman ibu kota yang tidak terlalu ramai, air matanya sudah berhenti tertumpah. Riana melewati segerombolan preman yang tiba tiba menahannya. Tangan Riana ditarik dan ditahan oleh salah satu preman. Sementara preman yang lain mencolek colek wajah Riana.
"Lepaskan, jangan.." Riana berontak.
Ditengah perlakuan preman itu dan juga isakan tangisan Riana. Tiba tiba saja...
Bugh..
Bugh...
Beberapa preman tersungkur ke tanah.
Riana merasa dirinya ada kekuatan untuk melawan, ia menggigit tangan preman yang membungkam mulutnya. Preman itu memekik dan melepaskan Riana.
Riana berlari tidak terlalu jauh, setelah berkali kali menyipitkan matanya untuk melihat ke arah seseorang yang menolongnya, dari kegelapan itu Riana akhirnya mengenali seseorang itu adalah suaminya, Davee.
"Mas Davee," ujar Riana lirih. Riana kemudian mengalihkan pandangannya pada salah satu preman yang mengeluarkan 1 pisau tajam. Riana terbebalak. Riana lalu beranjak dari tempatnya, menendang ke arah area sensitif preman yang lagi dihajar oleh Davee. Melihat preman itu sudah kesakitan sambil memegangi area sensitifnya, Riana menarik tangan Davee dan berlari. Davee terheran namun ia mengikuti.
"Mas, dimana mobilmu?"
"Disana.." Sambil menunjuk pada mobil sedan hitam.
Setelah sampai di dalam mobil Riana kembali terisak.
"Riana kamu kenapa membawa ku lari? Aku ingin menghabisi mereka."
"Aku nggak mau Mas kenapa kenapa..."
"Riana, lalu kenapa kamu menangis?"
"Aku meresa jijik pada perbuatan mereka pada ku Mas. Mereka menyentuhku..."
"Riana.." Davee memeluk Riana dan mengelus rambut Riana dengan lembut. "Kamu tenanglah dulu, kita pulang ya."
Riana anggup anggip..
............................................................
Vote tertinggi jatuh pada Novian Syah, Terimakasih pada nama yang disebutkan..