Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 10



"Ngegym apanya? Emang di sini ada tempat gym?" Tanya Riana yang sudah membuka matanya.


"Ya gue bakal pindahin semua alat gym gue nanti kesini. Sayang kalau di rumah Papa nggak ada gue yang gunain. Udahlah, mending lo cepat pergi dari kamar gue."


"Ih, iya gue tau. Gue juga nggak mau lama lama di kamar ini dan itu ada lo."


"Yaudah sana pergi." Usir Davee lagi.


"Tapi gimana soal besok? Gue harus bilang apa sama Papa kalau lo nggak bisa. Yaudah gue bilang aja deh lo nggak mau." Riana membalikkan badannya bersiap melangkah pergi.


"Eh eh tunggu tunggu. Gue bisa besok berangkat. Lo sama gue naik mobil gue ke rumah papa lo."


"Okey.." Riana melanjutkan langkahnya.


Davee melanjutkan mandinya dan Riana melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh telepon Papa Darmawan.


Pukul 05:36, Riana sudah berada di dapur. Kali ini ia memasak scramble egg dengan meletakkan daun selada juga tomat pada sisi piring sebagai garnishnya. Ia menyiapkan 1 gelas susu.


"Si otak mesum sudah bangun belum ya. Pasti dia bakal kesiangan nih, Papa kan nggak suka kalau gue telat. Gue harus siapin 1 susu lagi dan bangunin dia." Riana melangkah menuju kamar Davee. Davee yang sedang tidur terlihat imut juga, tapi setelah melihat dada dan perutnya berotot jadi lucu. Riana yang berdiri di depan pintu kamar Davee tersenyum senyum.


"Eh gue kenapa kaya gini?" Riana memukul wajahnya sendiri. Ia mencoba mendekati Davee lalu mengguncang tubuh Davee.


"Ka, Ka Mesum." Merasa guncangan dan mendengar kata Riana, Davee membuka matanya.


"Lo ngapain kesini? Ini masih pagi. Sana lo pergi." Davee memejamkan matanya kembali dan kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Riana yang berdiri di sebelahnya.


"Gue bangunin lo karena gue nggak mau dimarahin Papa. Papa nggak suka kalau gue telat atas suruhannya. Ya kalau lo nggak mau ikut ya sudah gue bakal bilang aja sama Papa kalau...." Belum sempat Riana melanjutkan bicaranya Davee sudah duduk bangun dari tidurnya. Davee takut kalau sampai dia dimarahi mertuanya. Ia akan malu dengan Riana.


"Iya iya gue bangun nih." Ucap Davee males.


"Boleh juga tampilannya kalau diliat dari masakan dia kemarin sampe sekarang pasti ni anak jago masak. Enak juga punya istri, dimasakin, dibangunin. Coba aja kalau sama Rani gue nikahnya bisa sambil goyang goyangin juga gue." Batin Davee.


"Lo tunggu apalagi sih? Buruan lo duduk dan makan sarapannya? Lo terkesima sama masakan gue ya? Biasa aja kali." Riana tersenyum mengejek.


"Ge-er banget sih, siapa juga yang selera sama masakan lo ini." Ujar Davee sembari menunjuk scramble Riana.


"Yaudah nggak usah dimakan."


"Enak aja, mana mungkin gue nggak sarapan. Gue nggak terbiasa dengan perut kosong pagi pagi. Gue terpaksa makan masakan lo."


"Udah mending lo cepat makan dan minum susu lo. Lo kebanyakan ngomel otot lo entar terbakar loh."


"Apa hubungannya?" Tanya Davee mengernyitkan dahi.


"Ya ada hubungannya lah, kalau lo pagi pagi sudah marah marah otomatis hawa tubuh lo memanas dan membakar kalori sebanyak banyaknya."


"Hahahahaha, lo dapat teori itu dari mana sih? Hahahhaha." Davee menertawai Riana.


"Ya menurut gue."


"Dasar bego! Hahaha..."


"Lo yang bego! Jadi orang nggak tau terimakasih." Riana memukul bahu Davee.


"Iya iya maaf. Lagian lo juga yang ngelindur."


"Ya itukan pendapat gue." Riana mengerucutkan bibirnya.