Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 55



Riana merasa bertambah lapar saat melihat gambar sosis bakar di booth portable.


"Mas, aku pengen sosis bakar." Menarik narik tangan Davee.


"Ya sudah, kita akan membelinya." Davee mendekati booth portable dan memesan 2 sosis bakar. Setelah sosis selesai di beli Davee memberikan 1 mika sosis bakar pada Riana.


"Terimakasih." Riana menyantapnya. "Enak banget, Mas." Davee melihat ada bekas saos di sudut bibir Riana, Davee lalu mengambil tissue yang disediakan oleh penjual sosis bakar lalu membersihkan sudut bibir Riana dengan lembut. Riana terdiam tanpa mengedipkan mata.


"Makanlah dengan benar, seperti anak kecil saja." Ujar Davee setelah selesai, ia lalu memakan sosis bakarnya juga sambil melihat ke arah lain. Sementara Riana tersenyum senyum sendiri.


"Mas, aku mau sosis lagi." Riana memonyongkan bibirnya memelas.


"Baiklah," Ujar Davee seraya berdiri untuk memesankan sosis bakar lagi. "Mbak, buat sosis bakar 5 lagi." Ujar Davee pada penjual sosis bakar yang langsung bergerak menyiapkan pesanan Davee.


"Apa! Mas, aku cuma mau 2 lagi. Itu terlalu banyak."


"Buang saja." Jawab Davee cuek.


"Ih ini orang kenapa sih, kadang baik kadang jahat," batin Riana. "Aku akan menghabiskannya."


Setelah semua mika sosis bakar di bungkus menjadi satu Riana dan Davee meninggalkan booth termasuk juga mall nya, Riana dan Davee sudah berada di dalam mobil.


"Mas, sepertinya aku nggak jadi berenang."


"Mengapa?"


"Aku sudah habisin banyak uang Mas."


"Hehe, kamu kenapa sih?" Mencolek hidung Riana. "Uang suami uang istri juga. lagian selama pernikahan kita kamu nggak pernah jalan untuk membeli keperluan serta keinginan kamu dan sekarang aku mau kamu puasin hari ini ya. Lagian dengan punya perlengkapan make up kamu lebih bisa memperdalam bakat kamu di dunia make up yang kamu sukai dan kamu ingini itu."


"Dari piagam piagam di kamar kamu waktu itu, kamu ternyata sudah beberapa kali menang dalam perlombaan merias."


"Em itu, hehe.."


"Riana, kamu nggak usah sungkan."


"Tapi nanti Mas bilang aku matre." Riana memonyongkan bibirnya seperti balita yang ingin dibela.


"Denger ya, aku nggak pernah bilang begitu. Menurut aku suami memang berkewajiban untuk memberi nafkah, memimpin, dan menahkodai keluarga nya. Lagian, Selama cewek mengunakan uang untuk kepentingan dirinya, entah itu perawatan dan kesehatan dirinya. Biarpun pengeluarannya besar, toh itu bertujuan untuk kepentingan kita berdua kan?" Sambil mengedipkan mata pada Riana.


"Kok bisa?"


"Kalau cantik, siapa coba yang bangga? Kan aku juga sebagai pasangan hidup kamu yang bangga punya pasangan yang cantik jelita. Jika kamu sehat, siapa coba yang senang? Ya aku lagi yang senang. Terus matre-nya dimana? Pun juga untuk sebuah hubungan, juga membutuhkan uang, itu sebuah realitas yang tidak bisa ditolak. Namun, tentang berapa jumlah uang yang dibutuhkan itu adalah pilihan masing-masing." Davee mengelus rambut Riana. "Riana, silahkan lanjutkan kepunyaan yang ada didalam dirimu sekarang, kembangkanlah. Aku akan mendukungmu, walaupun kamu menikah dini kamu bisa kok meneruskan cita cita kamu." Imbuh Davee lagi, Riana tersenyum lebar lalu memeluk erat Davee. Davee membalas pelukan Riana dan mencium ****** kepala Riana.


"Tapi aku tetap nggak jadi berenang,"


"Mengapa?"


"Aku mau ketemu Papa Mama, Mas."


"Hehe, baiklah. Kita kesana sekarang." Davee meluncurkan mobilnya. Riana memandang Davee dengn senyuman yang mengembang di bibir merah mudanya.


"Kalau begini aku bisa cinta berat sama Mas Davee dan rasanya akhir akhir ini aku merasa nyaman dengan Mas Davee, apa aku sudah jatuh hati pada Mas Davee?" Batin Riana dengan masih mengarahkan wajah dan matanya ke wajah Davee. Davee lalu memalingkan wajahnya juga, melihat Riana yang tertegun melihatnya.


"Hey, kamu kenapa?"


"Ah eh, nggak." Riana lalu cepat cepat membenarkan posisinya, menyandarkan kepalanya pada headrest. Davee tersenyum melihat istrinya demikian.